Why writing…

Kenapa akhirnya aku menulis?

Aku mengenal dengan dunia tulis menulis ketika aku sedang berada di Amerika. Amerika dengan negara seribu mimpi menawarkan pengalaman yang sangat luar biasa. Sedih terkadang kalau pengalaman itu hanya lewat begitu saja, dan akhirnya memutuskan selain menulis  juga membeli kamera untuk mengabadikan apa yang aku alami disana.

Nia atau nihaw atau Nia robie, orang Bogor yang sekarang menetap di Aceh, bersuamikan orang Aceh, menjadi satu-satunya teman yang kuhabiskan waktu berbicara tentang bagaimana menulis ketika aku sedang berada di Amerika. Mengenal dari sebuah mailist akhirnya aku banyak belajar bagaimana tentang menulis dari wanita ini. Editor dan penulis puisi ini sebenarnya tidak banyak memberikan saran atau  apalah dalam hal dunia tulis menulis. Dia sering bilang “ Kalau kamu ingin menjadi penulis, maka menulislah”. Kalau begitu, siapapun juga tahu. Tetapi apa, akhirnya kusadari bahwa aku belajar banyak ketika aku menulis. Apapun itu, mulai dari ciri khas atau style menulisku, memutuskan ide untuk menulis, temanya, emosi yang aku ingin tuangkan. Semuanya aku dapatkan ketika aku memutuskan banyak menulis.

Semenjak itu aku semakin giat untuk menghabiskan tinta yang kupegang. Dari hal-hal yang paling simple sampai tugas-tugas kuliah yang biasanya lebih ke akademik. Akhirnya kuputuskan untuk membuat sebuah blog sebagai pelampiasan untuk tulisan yang aku tulis. Selain menulis, aku juga mengikuti blogwalking ke blog teman-teman, membaca buku tentang menulis, menghadiri majelis penulisan, dan tidak lupa memperkaya diri dengan membaca apa saja. Inti dari semua pengalaman yang aku dapatkan adalah menulislah kalau ingin jadi penulis.

Aku juga sempat membaca sebuah buku “The  Freedoom Writers Diary” yaitu sebuah diary siswa-siswa di Wilson High School, California. Di diary itu aku menemukan sebuah kalimat seperti ini “ I started writing my own diary before the war in Bosnia because I wanted to have a place to record my childhood and create something that I could look back, cry, and reminisce. I wanted to see myself grow through my writing”. Sepenggal kalimat itu  mengajak aku berpikir lagi bahwa pengalaman-pengalaman hidup selalu mengisahkan dua warna, sedih atau senang, dengan menulis kita bisa kembali menilik lembar-lembar yang pernah kita gores saat itu. Menjadikan kita lebih dewasa lagi melihat dan membaca masa depan dari sejarah kita masa dahulu. Melihat masa lalu ternyata kita begitu kuat dan sangat kuat lebih dari apa yang kita bayangkan, begitu pinter bahkan lebih pinter dari apa yang kita pikirkan. Ternyata dulu kita mampu untuk membuat sebuah jalan kehidupan walaupun aral melintang kiri dan kanan. Ternyata kita dulu pernah sukses, pernah bahagia, pernah ketawa, pernah menangis, pernah gagal, pernah marah, pernah benci. Ternyata hidup kita lebih  bewarna dari pelangi.  Sebenarnya itu semua mengajarkan kita akan sebuah arti kehidupan yang lebih bermakna lagi kedepan. Disitu semua letak pelajaran hidup kita.

Dari sebuah email aku mendapatkan ini: “Semua penulis akan mati. Hanya karyanya yang akan abadi. Maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat nanti” ( Imam Ali bin Abi Thalib). Kalimat ini juga sangat menyentuh. Dengan menulis, dimana tulisan-tulisan kita dibaca orang lain dan menginspirasikannya. Banyak orang berubah ketika membaca tulisan-tulisan dari orang lain. Psycho cybernetics misalnya, sebuah buku tentang self image benar-benar memberikan ilmu baru dan sangat inspiratif bagiku.

Sempat aku membaca sebuah buku tetapi lupa siapa pengarang dan dia mengatakannya kurang lebih seperti ini dengan menulis aku seolah-olah mempunyai dua kehidupan dimana setiap saat aku bisa melihat kembali kebelakang apa yang telah aku jalani selama hidup.

Bagiku sendiri menulis adalah merangkai kembali masa-masa yang pernah aku lalui. Sedih dan senang menjadi bagian hidup kita. Pengalaman masa lalu memberikan kita sebuah dorongan hidup baru yang terus-terus ingin kita miliki dan perbaiki. Hidup adalah sejarah yang berulang. Bukankah dengan menulis kita mengulang masa-masa jaya kita dulu. Bukankah dengan menulis kita bisa tahu dimana letak kesalahan dan kebodohan kita dulu. Bukankah dengan menulis kita bisa melihat bagaimana  kita tumbuh dan berkembang seperti sekarang ini.

Karena itu semua, tidak ada alasan lagi bagiku untuk tidak menulis!

Why writing?- English Version

Knowing how to write and express my true self in a blank paper just came up as I was in USA for getting my master degree. Honestly to tell you, I am totally sick of writing at the first time. I did not write as much as I am now except paper assignments from lecturers or the final project as a requirement of bachelor degree. Besides of that I swear to god, I was totally allergic on writing.

But, that was completely changing, when…

In the first month in USA, I bumped into a remarkable world that looked entirely distinct than I used to. America brought and enthralled me with a bunch of adventures, panoramas, experiences, friends, happiness, loneliness, and sadness. One day, I remembered as I said to my self that these experiences might not have come twice.  It all would disappear when I was going home one day to Indonesia. Without writing these memories, all my experiences would not be sweet for sure, nothing left inside.

Since that time, I choose to express my feelings, journeys, and a brief sojourn in America by writing anything I saw, I felt, I tasted, I experienced, and I listened. I, indeed, knew this writing truly became a memento in one day when I read all those intriguing stories.

To start off was not like you were flipping over your hands, it was exceedingly tough at the first time due to my blanked ideas and unhabituated circumstances. However, I would keep doing that because I trust it will be sweet one day. Moreover, to bring all becomes a true memory, I bought a camera as well to snap anything I saw.

Nia Robie, or Nihaw, a girl from Bogor, who just got married with a husband of Acehnese ethnic, where is currently living in Banda Aceh, turned out to be the only buddy who I talked about my curiosity and interest in writing. She gave me lots of advices and ideas how to write; the most common suggestion was “ to be a writer you got to write”. Eventually, I just realized that the more I write, the more I learn. The more I learn the more I know how to write because while writing I might have been a chance to decide what I want to write, such as theme, topic, the ideas, feelings, emotions, settings. I set everything up by myself. From there I just learned much.

“Practice makes perfect” this expression is just perfectly right.

I found a wonderful quote in the book of The Freedom Writer Diary, written by Erin Gruwell  “ I started writing my own diary before the war in Bosnia because I wanted to have a place to record my childhood and create something that I could look back, cry, and reminisce. I wanted to see myself grow through my writing”. That was a foreword from Zlata Fillipovic, a victim of the cruelest regime of Nazi in Holocaust tragedy, in this novel. That quote just inspires me to think about this life again, how precious this life is. Life with all everything in it always conveys two sides for us- happiness and sadness.  By writing we able to look back what occurred with us in the last couple days, in the last couple months, or in the last couple years.  As we looked back we just realized how strong we were, and how wonderful we really were. Plus, we really had ever been mad, hate, angry, resentful, content, smiley, resilient, succeeded, flunked out. We truly crafted the lives more gorgeous and colorful than a rainbow. Our lives were just totally stunning. From those, we just discovered the true meaning of lives. That is what we call a real life.

Additionally, in one email, I got the sentence like this “ All the writers will be dying.  Only their opuses and writings will be everlasting. Write anything that make you happy in the heaven”. Again, that sentence urges me to write more and more about anything. People might read our writing, and they will be getting some inspiration of our writing. Like, what I read about Psycho-cybernetics, which is a book self image that is totally inspiring.

For me writing is to recollect a single piece of hope of this life that we have ever been through. The past urged us to live in different ways for the future based on what we got on the past. Life is a pile of past histories. Don’t you think when we write; we just review again our lives. Don’t you think when we write just learn anything wrong in the past? Don’t you think, by writing we just know our growth of lives. Don’t you think when we write; we just found ourselves very special and lucky person in the world.

I never stop to write dude…

3 thoughts on “Why writing…

  1. Menulis siapa takut… 🙂
    menulis adalah pengabadi setiap momen yang sering berlalu di kehidupan kita.

    Ka jangan lupa bagi-bagi info tentang kepenulisan ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s