Prioritize

Tulisan ini terinsipirasi dari ceramah Ustad Adi Hidayat. Semoga Allah memberkahinya dan mengampuni segala doasanya Amin.

Ini tulisan mengenai prioritas kita dalam kehidupan. Contoh yang paling sederhana adalah prioritas kita kepada keluarga dibandingkan kepada orang Kenapa keluarga, itu pertanyaan? Maka jawaban kita semua lebih kurang seperti ini: karena kita tahu bahwa dari keluargalah kasih sayang itu muncul. Ada banyak cinta, dan juga harapan-harapan. Semua canda tawa ada di keluarga. Kebahagian itu real banget terjadi. Bahkan solusi solusi hidup banyak kita dapatkan di dalam keluarga kita. Masalah di kantor, maka keluarga yang menenangkan. Ketika ada yang membully, maka keluarga yang menguatkan dan mendoakan. Kita paham bahwa keberhasilan kita ada di dalam keluarga.

Bandingkan dengan ini; kalau ada yang mengatakan bahwa saya lebih memilih atau mengutamakan teman saya dibandingkan keluarga. Maka yang ‘waras’ akan membantah dan mengatakan,” apa yang bisa kamu harapkan dari teman kamu? Apakah teman kamu bisa membantu kamu ketika kamu ada masalah? Apakah teman kamu bisa memberikan makan untuk kamu ketika kamu lapar? Semua tidak setuju kalau teman menjadi prioritas di atas keluarga. Karena pengalaman kita menjelaskan bahwa teman itu hanya kesenangan sesaat dan akan melepaskan kita ketika tidak dibutuhkan. Cintanya palsu tidak akan pernah murni.

Uniknya manusia, mereka mempunya prioritas yang banyak yang bisa disesuai dengan kondisi dan situasi. Memporsikan/menempatkan diri dengan keadaan itu mungkin lebih tepatnya. Bukan berarti ketika dia mengutamakan keluarga dan ketika kita dikantor tidak mengutamakan kerjaannya? Tidak seperti itu. Namun, kita memprioritaskan diri kita sesuai kondisi dan suasana, artinya prioritas itu adjustable. Bisa disesuaikan dan sangat flexible.

Namun ada satu prioritas diatas prioritas yang tidak bisa di adjust ataupun flexible. Apa itu? Prioritas kita kepada Allah yang harus selalu di atas prioritas yang lain. Ust Yusuf Mansur pernah mengatakan Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus. Seharusnya sebelum kita melakukan sesuatu hanya Allah yang kita ingat, begitu juga ketika melakukan sesuatu hanya Allah juga yang kita ingat, dan ketika kita selesai menyelesaikan sesuatu dan Allah juga lah yang kita ingat.

Mari mengaca diri. Mari melihat dengan kegiatan apa kita sibukkan diri kita. Ketika kita prioritaskan yang Maha Agung, maka Allah akan memprioritaskan kehidupan kita. Ketika kita ingat Allah maka Allah ingat kita Ketika doa kita sering tidak terjawab maka kita kembali merenung di nomor berapa kita letakkan Allah dalam kehidupan kita?

 

 

Advertisements

Sabar-Delayed Gratification

Sabar adalah 5 huruf yang mempunyai makna yang cukup mendalam. Sejatinya kita hidup maka sabar adalah bagian dari kehidupan kita artinya lagi adalah suka ataupun tidak, Allah akan menguji kesabaran kita bisa kapanpun dan dimanapun. Jujurnya saja kita sering tidak mampu menghadapi segala ujian kesabarann. Kita sering gagal. Iya kita belum begitu memahami mengapa kita harus sabar

Setidaknya ada 14 kali Allah memamparkan tentang kesabaran di dalam Al quran. Bukan jumlah yang sedikit. Kalau the ultimate hadiah dari sabar adalah surga, maka mengapa sampai sejauh ini kita tidak ataupun kurang sabar dalam menghadapi segala ujian masalah hidup?

Menarik sekali ketika saya membaca sebuah artikel tentang delayed gratification. Delayed gratification sendiri lebih kepada sikap kita menahan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Konsep psikology ini awalnya di paparkan oleh seorang professor walter Mischel dari Stanford University dengan Marsmallow Experiment. Di percobaan tersebut anak anak di berikan kebebasan untuk mengambil marsmallow yang telah disajikan dalam sebuah ruangan dan peneliti akan pergi selama 15 menit. Bagi yang tidak mengambil/menahan untuk mengambil Marsmallow sampai peneliti kembali maka anak tersebut akan mendapatkan dua marmallow. Ada reward dari setiap kesabaran.

Namun hal menarik lainnya adalah penelitian itu berjalanan sampai 40 tahun dengan melihat apa pengaruh anak yang dengan sabar tidak mengambil marsmallow dengan kehidupan sukses mereka. Mencenangkan bahwa anak yang bisa bersabar mempunyai test score SAT yang tinggi, sedikit obesitas, mempunyai sosial skill yang bagus. Dan hidup mereka lebih sukses dengan yang tidak bersabar. 

Kita setuju bahwa kesuksesan itu datang ketika kita memilih hidup dibawah kedisiplinan dari gangguan gangguan yang kita hadapi. 

Mengapa di awal saya menyebutkan ayat alquran tentang kesabaran. Apa hubungannya dengan delayed gratification. Betapa banyak doa kita yang tidak langsung di ijabah oleh Allah. Apa maknanya kalau bukan Allah mengajarkan kita dengan kesabaran untuk mendapatkan sesuatu itu butuh waktu. Mengapa banyak keinginan kita yang tidak langsung dikabulkan Allah, maka kita juga akan menyadari bahwa Allah akan memberikan sesuatu yang lebih baik dari keinginan kita. Selalu ada reward dari setiap kesabaran. 

/blind politics

img_20170124_184629_processed.jpg

Saya memulai tulisan ini dengan sebuah postingan tulisan dari penyair Jerman Bertolt Brecht yang mengatakan bahwa buta yang terburuk adalah buta politik. Menurut hematnya, keputusan politik adalah keputusan yang  mempengaruhi segala aspek kehidupan, khususnya aspek ekonomi dan sosial. Pendapat dia ini akan saya akan serahkan kepada Anda kembali. Setuju atau tidak, coba kembali berpikir ulang.

Ini adalah tulisan saya yang bertema politik untuk pertama kalinya. Kenapa saya harus menulis ini sebagai orang awam yang buta akan itu? karena saya tahu bahwa kebutaan politik saya selama ini telah menghilangkan sensifitas atau cenderung apatis untuk berpatisipasi, sebagai rakyat, dalam segala keputusan politik yang di buat pemerintah.

Menyukai politik ataupun tidak adalah hanyalah berbicara selera. Ada momen bagi sebagian orang kenapa akhirnya memilih politik sesuatu yang asyik di diskusikan, sesuatu yang asyik di jadikan uang. Namun itu tidak berlaku dengan saya. Dengan kebodohan saya maka saya melihat bahwa  politik adalah sesuatu  tidak penting dibicarakan apalagi di diskusikan dan itu akan membuang waktu saja. Hanya diskusi warung kopi tidak berpengaruh. Meskipun pengetahuan saya tentang politik itu nihil, anehnya saya berasumsi bahwa orang yang politik itu begitu rumit, politik itu jahat, bahkan semua orang yang berpolitik itu full of bullshit. Dan ini hanya pendapat sepihak dari saya yang saya yakin tidak punya landasan. 

Berbicara ‘bodo amat’nya saya terhadap politik, maka saya tidak akan ambil pusing dengan apapun pergolakan politik di tanah air. Saya tidak akan ambil pusing dengan kenaikan BBM dan makanan pokok, karena saya melihat tidak ada titik koneksi yang kuat antara itu semua. Saya juga tidak akan pusing siapa gubernur yang saya pilih, saya tidak peduli dengan presiden yang saya pilih.  Saya buta. iya benar benar buta dengan itu semua. Saya tidak pernah berpikir bahwa keputusan politik akan sangat mempengaruhui kehidupan orang banyak. Seharusnya keputusan politik adalah satu keputusan yang mengindikasikan makmur atau tidaknya rakyat dalam sebuah negara. Saya berpikir bahwa apapun yang terjadi  dengan politik di negeri saya ini tidak akan berpengaruh dengan saya. Dugaan ini sangat salah. Tapi saya yakin, ini tidak hanya terjadi kepada saya saja. Banyak dari kita yang masih tidak mau peduli dan berpartisipasi.

Pernah satu waktu saya bertanya kepada teman Amerika. “Kenapa dengan terpilihnya Trump sebagai presiden membuat rakyat Amerika sangat emosional. Kekecewaan, ketakutan, kemarahan, demonstrasi merajalela. “Kenapa?” saya bertanya. Teman saya dengan sederhana memberikan gambaran bahwa, “Saya melihat bahwa meskipun Hillary  yang terpilih kemungkinan besar tidak jauh beda dengan kepemimpinan president sebelumnya, akan tetapi, setidaknya orang yang melek dan mengerti politik memimpin sebuah negara maka dia akan memimpin dengan sedikit lebih rasional dibandingkan dengan yang tidak. Kampanye kebencian Trump dengan penindasan kaum lemah yang tidak berpihak ke kaum minoritas tidaknya hanya menambah rasa takut rakyat, namun memicu pergelokan politik sosial yang parah. Sejatinya Trump di kampanye berhasil ‘membunuh’karakter rakyatnya, maka apalagi ketika dia akan memimpin nantinya.

Sejenak melihat kondisi tanah air kita ini. Semakin saya menyadari bahwa arti dari seorang pemimpin cukup berarti untuk rakyatnya. Kalau dia di pilih oleh rakyat, maka kemana hak rakyat ketika dia menjabat? Itu menjadi pertanyaan besar yang harus di jawab. Seringnya rakyat dianggap sampah. Suaranya di bungkam, haknya di tahan, dan demokrasi yang kita agung-agungkan menjadi tidak berarti. Tersadarkan kita bahwa ini adalah sebuah keputusan politik yang rakyat tidak mau melibatkan dirinya sendiri, dan cenderung acuh tak acuh. Wal hasil, politikus mengambil kesempatan kebutaan politik rakyat untuk sebuah kecurangan. Ketika kecurangan untuk sebuah kekuasaan, maka tunggulah negara tersebut akan sungguh sangat berantakan. Dan itu terjadi di negara kita tercinta ini.

Gerakan 411 dan 212 adalah momen terbesar bagi semua rakyat Indonesia untuk melek dengan kondisi politik dan pemerintahan kita sekarang ini.  Sering kali kebodohan  kita sebagai rakyat dalam urusan politik di manfaatkan oleh penguasa penguasa kita. Menilik sejarah-sejarah kita dulu bahwa rakyat mempunyai kekuatan besar untuk meruntuhkan pemerintahan yang tidak berpihak, namun kekuatan besar itu bisa tidak bermakna ketika rakyat tidak peduli dengan segala keputusan keputusan politik itu.

 



/merindukanmu

4 tahun berjalan begitu tak terasa, hidup kita tidak selalu putih namun juga hitam. Tidak perlu juga kita bantah bahwa  hitam dan putihnya hidup kita adalah dari rancangan perancang yang terbaik. Iya, yang terbaik dari yang terbaik.

Sesekali kita memadu kasih dengan senyuman, ketawa konyol sampai tengah malam. Sesekali kita begitu serius menata  dan membicarakan masa depan. Sesekali kita marah marahan hanya perbedaan prinsip. Sesekali kita satu pikiran namun di lain kali pikiran kita bertolak belakang.

Hidup kita tidak ada yang tahu, kenapa kita bersama, dan sampai kapan kita akan bersama. Namun kita tahu siapa yang merencanakan ini semua.

Sudah dua tahun kita tidak ‘sekamar’. Kutinggalkan kalian untuk sebuah harapan. Meskipun berat tapi aku yakin saja ini hanya awal dari senyuman.

Di dalam kondisi ini, hanya rasa syukur yang menguatkan, setidaknya kondisi kita tidak seperih kondisi yang lain yang harus dicoba dengan bertubi tubi. Kita doakan terus agar Allah memberikan kemudahan, kesabaran, dan ketabahan dalam menjalani hidup ini.

Karena sejati satu hubungan dimulai dengan rasa syukur dan di lanjutkan dengan Alhamdulillah.

#alhamdulillah

Entahlah, ternyata semakin malam maka semakin galau lah hati ini :p