Sabar-Delayed Gratification

Sabar adalah 5 huruf yang mempunyai makna yang cukup mendalam. Sejatinya kita hidup maka sabar adalah bagian dari kehidupan kita artinya lagi adalah suka ataupun tidak, Allah akan menguji kesabaran kita bisa kapanpun dan dimanapun. Jujurnya saja kita sering tidak mampu menghadapi segala ujian kesabarann. Kita sering gagal. Iya kita belum begitu memahami mengapa kita harus sabar

Setidaknya ada 14 kali Allah memamparkan tentang kesabaran di dalam Al quran. Bukan jumlah yang sedikit. Kalau the ultimate hadiah dari sabar adalah surga, maka mengapa sampai sejauh ini kita tidak ataupun kurang sabar dalam menghadapi segala ujian masalah hidup?

Menarik sekali ketika saya membaca sebuah artikel tentang delayed gratification. Delayed gratification sendiri lebih kepada sikap kita menahan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Konsep psikology ini awalnya di paparkan oleh seorang professor walter Mischel dari Stanford University dengan Marsmallow Experiment. Di percobaan tersebut anak anak di berikan kebebasan untuk mengambil marsmallow yang telah disajikan dalam sebuah ruangan dan peneliti akan pergi selama 15 menit. Bagi yang tidak mengambil/menahan untuk mengambil Marsmallow sampai peneliti kembali maka anak tersebut akan mendapatkan dua marmallow. Ada reward dari setiap kesabaran.

Namun hal menarik lainnya adalah penelitian itu berjalanan sampai 40 tahun dengan melihat apa pengaruh anak yang dengan sabar tidak mengambil marsmallow dengan kehidupan sukses mereka. Mencenangkan bahwa anak yang bisa bersabar mempunyai test score SAT yang tinggi, sedikit obesitas, mempunyai sosial skill yang bagus. Dan hidup mereka lebih sukses dengan yang tidak bersabar. 

Kita setuju bahwa kesuksesan itu datang ketika kita memilih hidup dibawah kedisiplinan dari gangguan gangguan yang kita hadapi. 

Mengapa di awal saya menyebutkan ayat alquran tentang kesabaran. Apa hubungannya dengan delayed gratification. Betapa banyak doa kita yang tidak langsung di ijabah oleh Allah. Apa maknanya kalau bukan Allah mengajarkan kita dengan kesabaran untuk mendapatkan sesuatu itu butuh waktu. Mengapa banyak keinginan kita yang tidak langsung dikabulkan Allah, maka kita juga akan menyadari bahwa Allah akan memberikan sesuatu yang lebih baik dari keinginan kita. Selalu ada reward dari setiap kesabaran. 

/blind politics

img_20170124_184629_processed.jpg

Saya memulai tulisan ini dengan sebuah postingan tulisan dari penyair Jerman Bertolt Brecht yang mengatakan bahwa buta yang terburuk adalah buta politik. Menurut hematnya, keputusan politik adalah keputusan yang  mempengaruhi segala aspek kehidupan, khususnya aspek ekonomi dan sosial. Pendapat dia ini akan saya akan serahkan kepada Anda kembali. Setuju atau tidak, coba kembali berpikir ulang.

Ini adalah tulisan saya yang bertema politik untuk pertama kalinya. Kenapa saya harus menulis ini sebagai orang awam yang buta akan itu? karena saya tahu bahwa kebutaan politik saya selama ini telah menghilangkan sensifitas atau cenderung apatis untuk berpatisipasi, sebagai rakyat, dalam segala keputusan politik yang di buat pemerintah.

Menyukai politik ataupun tidak adalah hanyalah berbicara selera. Ada momen bagi sebagian orang kenapa akhirnya memilih politik sesuatu yang asyik di diskusikan, sesuatu yang asyik di jadikan uang. Namun itu tidak berlaku dengan saya. Dengan kebodohan saya maka saya melihat bahwa  politik adalah sesuatu  tidak penting dibicarakan apalagi di diskusikan dan itu akan membuang waktu saja. Hanya diskusi warung kopi tidak berpengaruh. Meskipun pengetahuan saya tentang politik itu nihil, anehnya saya berasumsi bahwa orang yang politik itu begitu rumit, politik itu jahat, bahkan semua orang yang berpolitik itu full of bullshit. Dan ini hanya pendapat sepihak dari saya yang saya yakin tidak punya landasan. 

Berbicara ‘bodo amat’nya saya terhadap politik, maka saya tidak akan ambil pusing dengan apapun pergolakan politik di tanah air. Saya tidak akan ambil pusing dengan kenaikan BBM dan makanan pokok, karena saya melihat tidak ada titik koneksi yang kuat antara itu semua. Saya juga tidak akan pusing siapa gubernur yang saya pilih, saya tidak peduli dengan presiden yang saya pilih.  Saya buta. iya benar benar buta dengan itu semua. Saya tidak pernah berpikir bahwa keputusan politik akan sangat mempengaruhui kehidupan orang banyak. Seharusnya keputusan politik adalah satu keputusan yang mengindikasikan makmur atau tidaknya rakyat dalam sebuah negara. Saya berpikir bahwa apapun yang terjadi  dengan politik di negeri saya ini tidak akan berpengaruh dengan saya. Dugaan ini sangat salah. Tapi saya yakin, ini tidak hanya terjadi kepada saya saja. Banyak dari kita yang masih tidak mau peduli dan berpartisipasi.

Pernah satu waktu saya bertanya kepada teman Amerika. “Kenapa dengan terpilihnya Trump sebagai presiden membuat rakyat Amerika sangat emosional. Kekecewaan, ketakutan, kemarahan, demonstrasi merajalela. “Kenapa?” saya bertanya. Teman saya dengan sederhana memberikan gambaran bahwa, “Saya melihat bahwa meskipun Hillary  yang terpilih kemungkinan besar tidak jauh beda dengan kepemimpinan president sebelumnya, akan tetapi, setidaknya orang yang melek dan mengerti politik memimpin sebuah negara maka dia akan memimpin dengan sedikit lebih rasional dibandingkan dengan yang tidak. Kampanye kebencian Trump dengan penindasan kaum lemah yang tidak berpihak ke kaum minoritas tidaknya hanya menambah rasa takut rakyat, namun memicu pergelokan politik sosial yang parah. Sejatinya Trump di kampanye berhasil ‘membunuh’karakter rakyatnya, maka apalagi ketika dia akan memimpin nantinya.

Sejenak melihat kondisi tanah air kita ini. Semakin saya menyadari bahwa arti dari seorang pemimpin cukup berarti untuk rakyatnya. Kalau dia di pilih oleh rakyat, maka kemana hak rakyat ketika dia menjabat? Itu menjadi pertanyaan besar yang harus di jawab. Seringnya rakyat dianggap sampah. Suaranya di bungkam, haknya di tahan, dan demokrasi yang kita agung-agungkan menjadi tidak berarti. Tersadarkan kita bahwa ini adalah sebuah keputusan politik yang rakyat tidak mau melibatkan dirinya sendiri, dan cenderung acuh tak acuh. Wal hasil, politikus mengambil kesempatan kebutaan politik rakyat untuk sebuah kecurangan. Ketika kecurangan untuk sebuah kekuasaan, maka tunggulah negara tersebut akan sungguh sangat berantakan. Dan itu terjadi di negara kita tercinta ini.

Gerakan 411 dan 212 adalah momen terbesar bagi semua rakyat Indonesia untuk melek dengan kondisi politik dan pemerintahan kita sekarang ini.  Sering kali kebodohan  kita sebagai rakyat dalam urusan politik di manfaatkan oleh penguasa penguasa kita. Menilik sejarah-sejarah kita dulu bahwa rakyat mempunyai kekuatan besar untuk meruntuhkan pemerintahan yang tidak berpihak, namun kekuatan besar itu bisa tidak bermakna ketika rakyat tidak peduli dengan segala keputusan keputusan politik itu.

 



/merindukanmu

4 tahun berjalan begitu tak terasa, hidup kita tidak selalu putih namun juga hitam. Tidak perlu juga kita bantah bahwa  hitam dan putihnya hidup kita adalah dari rancangan perancang yang terbaik. Iya, yang terbaik dari yang terbaik.

Sesekali kita memadu kasih dengan senyuman, ketawa konyol sampai tengah malam. Sesekali kita begitu serius menata  dan membicarakan masa depan. Sesekali kita marah marahan hanya perbedaan prinsip. Sesekali kita satu pikiran namun di lain kali pikiran kita bertolak belakang.

Hidup kita tidak ada yang tahu, kenapa kita bersama, dan sampai kapan kita akan bersama. Namun kita tahu siapa yang merencanakan ini semua.

Sudah dua tahun kita tidak ‘sekamar’. Kutinggalkan kalian untuk sebuah harapan. Meskipun berat tapi aku yakin saja ini hanya awal dari senyuman.

Di dalam kondisi ini, hanya rasa syukur yang menguatkan, setidaknya kondisi kita tidak seperih kondisi yang lain yang harus dicoba dengan bertubi tubi. Kita doakan terus agar Allah memberikan kemudahan, kesabaran, dan ketabahan dalam menjalani hidup ini.

Karena sejati satu hubungan dimulai dengan rasa syukur dan di lanjutkan dengan Alhamdulillah.

#alhamdulillah

Entahlah, ternyata semakin malam maka semakin galau lah hati ini :p

/father and a daughter

Ini hanya kisah seorang ayah dan seorang gadis cilik yang terpaut cinta tak bertepi.

Aku inggalkan dia di belantara entah berantah dengan dengan satu harapan yaitu tuhan akan mendoakanya.

Aku titipkan dia kepada tuhan sepenuhnya sebab aku sadari aku juga tidak mampu untuk menjaganya.

Duh Shayma Rifaya, begitu dia dinamakan dengan cinta, kalau suatu saat nanti engkau besar dan menyadari bahwa cintaku kepadamu tidak berujung, aku hanya mengharapkan doamu yang tidak lelah untukku. Iya doamu ketika kau hanya bisa mengenangku saja di mimpimu dengan tidak bisa memelukku lagi.

#baru menyadari betapa orang tua kita dulu akan melakukan apapun untuk penerusnya kelak.