/blind politics

img_20170124_184629_processed.jpg

Saya memulai tulisan ini dengan sebuah postingan tulisan dari penyair Jerman Bertolt Brecht yang mengatakan bahwa buta yang terburuk adalah buta politik. Menurut hematnya, keputusan politik adalah keputusan yang  mempengaruhi segala aspek kehidupan, khususnya aspek ekonomi dan sosial. Pendapat dia ini akan saya akan serahkan kepada Anda kembali. Setuju atau tidak, coba kembali berpikir ulang.

Ini adalah tulisan saya yang bertema politik untuk pertama kalinya. Kenapa saya harus menulis ini sebagai orang awam yang buta akan itu? karena saya tahu bahwa kebutaan politik saya selama ini telah menghilangkan sensifitas atau cenderung apatis untuk berpatisipasi, sebagai rakyat, dalam segala keputusan politik yang di buat pemerintah.

Menyukai politik ataupun tidak adalah hanyalah berbicara selera. Ada momen bagi sebagian orang kenapa akhirnya memilih politik sesuatu yang asyik di diskusikan, sesuatu yang asyik di jadikan uang. Namun itu tidak berlaku dengan saya. Dengan kebodohan saya maka saya melihat bahwa  politik adalah sesuatu  tidak penting dibicarakan apalagi di diskusikan dan itu akan membuang waktu saja. Hanya diskusi warung kopi tidak berpengaruh. Meskipun pengetahuan saya tentang politik itu nihil, anehnya saya berasumsi bahwa orang yang politik itu begitu rumit, politik itu jahat, bahkan semua orang yang berpolitik itu full of bullshit. Dan ini hanya pendapat sepihak dari saya yang saya yakin tidak punya landasan. 

Berbicara ‘bodo amat’nya saya terhadap politik, maka saya tidak akan ambil pusing dengan apapun pergolakan politik di tanah air. Saya tidak akan ambil pusing dengan kenaikan BBM dan makanan pokok, karena saya melihat tidak ada titik koneksi yang kuat antara itu semua. Saya juga tidak akan pusing siapa gubernur yang saya pilih, saya tidak peduli dengan presiden yang saya pilih.  Saya buta. iya benar benar buta dengan itu semua. Saya tidak pernah berpikir bahwa keputusan politik akan sangat mempengaruhui kehidupan orang banyak. Seharusnya keputusan politik adalah satu keputusan yang mengindikasikan makmur atau tidaknya rakyat dalam sebuah negara. Saya berpikir bahwa apapun yang terjadi  dengan politik di negeri saya ini tidak akan berpengaruh dengan saya. Dugaan ini sangat salah. Tapi saya yakin, ini tidak hanya terjadi kepada saya saja. Banyak dari kita yang masih tidak mau peduli dan berpartisipasi.

Pernah satu waktu saya bertanya kepada teman Amerika. “Kenapa dengan terpilihnya Trump sebagai presiden membuat rakyat Amerika sangat emosional. Kekecewaan, ketakutan, kemarahan, demonstrasi merajalela. “Kenapa?” saya bertanya. Teman saya dengan sederhana memberikan gambaran bahwa, “Saya melihat bahwa meskipun Hillary  yang terpilih kemungkinan besar tidak jauh beda dengan kepemimpinan president sebelumnya, akan tetapi, setidaknya orang yang melek dan mengerti politik memimpin sebuah negara maka dia akan memimpin dengan sedikit lebih rasional dibandingkan dengan yang tidak. Kampanye kebencian Trump dengan penindasan kaum lemah yang tidak berpihak ke kaum minoritas tidaknya hanya menambah rasa takut rakyat, namun memicu pergelokan politik sosial yang parah. Sejatinya Trump di kampanye berhasil ‘membunuh’karakter rakyatnya, maka apalagi ketika dia akan memimpin nantinya.

Sejenak melihat kondisi tanah air kita ini. Semakin saya menyadari bahwa arti dari seorang pemimpin cukup berarti untuk rakyatnya. Kalau dia di pilih oleh rakyat, maka kemana hak rakyat ketika dia menjabat? Itu menjadi pertanyaan besar yang harus di jawab. Seringnya rakyat dianggap sampah. Suaranya di bungkam, haknya di tahan, dan demokrasi yang kita agung-agungkan menjadi tidak berarti. Tersadarkan kita bahwa ini adalah sebuah keputusan politik yang rakyat tidak mau melibatkan dirinya sendiri, dan cenderung acuh tak acuh. Wal hasil, politikus mengambil kesempatan kebutaan politik rakyat untuk sebuah kecurangan. Ketika kecurangan untuk sebuah kekuasaan, maka tunggulah negara tersebut akan sungguh sangat berantakan. Dan itu terjadi di negara kita tercinta ini.

Gerakan 411 dan 212 adalah momen terbesar bagi semua rakyat Indonesia untuk melek dengan kondisi politik dan pemerintahan kita sekarang ini.  Sering kali kebodohan  kita sebagai rakyat dalam urusan politik di manfaatkan oleh penguasa penguasa kita. Menilik sejarah-sejarah kita dulu bahwa rakyat mempunyai kekuatan besar untuk meruntuhkan pemerintahan yang tidak berpihak, namun kekuatan besar itu bisa tidak bermakna ketika rakyat tidak peduli dengan segala keputusan keputusan politik itu.

 



Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s