Shayma Rifaya on 11 months celebration: parent’s reflection

Saat ini mungkin Anda yang memiliki anak kesal dengan anak Anda yang bandel, cengeng, ga mau makan, atau apalah. Ingat, bro dan sis. Di luar sana begitu banyak orang tua mengingingkan si buah hati. Begitu banyak orang tua yang setiap malamnya tidak berhenti meminta kepada Allah agar di karuniakan anak. Begitu banyak orang tua di luar sana yang menghabiskan ratusan juta untuk mempunyai anak. Kita hanya mengeluh dan kesal kepada anak sendiri yang hanya karena bandel, cengeng ataupun sebagainya. Membesarkan anak tidak mudah. Amanah ini penting kita jaga dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai Allah mencap kita sang pelupa dan sang tidak berterima kasih.

Shayma Rifaya adalah anak terindah yang Allah titipkan kepada kami yang sudah memasuki usia 11 bulan. Ini hanya amanah, suatu saat harus dikembalikan. Insya Allah dengan segala umur panjang, bulan depan Shayma on the first year celebration. Umumnya orang tua di setiap perayaan ulang tahun ataupun ulang bulan selalu mempunyai harapan-harapan. Tidak terkecuali kami sebagai orang tua muda yang khawatir, takut dengan masa depan Shayma. Kekhawatiran kami memuncak hari semakin hari ketika menyadari bahwa lingkungan dia hidup memang tidak dalam kondisi sedang baik-baik saja. Betapa tidak, hidup di akhirnya zaman, dengan segala ke-edan-annya, banyak sekali muncul berita-berita menakutkan yang bagi orangtua muda seperti kami itu cukup menegangkan dan cukup menguras keringat. Ketakutan kami ketika membayangkan bagaimana Shayma nanti besar dengan lingkungan sekolah dan teman permainannya? Apakah dia akan mendapatkan sekolah yang bagus? Apakah dia mendapatkan teman yang baik? Bagaiman pendidikannya nanti? Apakah dia akan mendapatkan pendidikan yang bagus nantinya? Mengikuti kasus pedophilia di JIS menambah daftar ketakutan kami sebagai orang tua. Apakah Shayma nanti akan baik-baik saja ketika dia sudah tidak lagi bersama kami?

Apakah kita sebagai orang tua akan memelihara ketakutan ini sendiri sampai kita benar-benar yakin dan siap melepaskan anak kita dengan dunianya sendiri? Namun, apakah ketakutan-ketakutan yang kita rasakan sama seperti ketakutan Lukman kepada anaknya? Membaca surat Luqman surat 31 memberikan gambaran bagaimana seharusnya orang tua membesarkan anaknya dengan tidak perlu ketakutan-ketakutan yang lebay hingga menumbuh sebagian uban kita. Lukman dengan gampangnya menasehatkan anaknya untuk tidak mensyirikkan Allah dan menyuruh anaknya untuk selalu taat kepada Allah dengan selalu meningkatkan imanya. Itu sudah cukup bagi Lukman, dan selanjutnya dia serahkan anaknya kepada pantauan Allah.

Apakah kita sudah mengacang-acang dengan nasehat Luqman yang akan kita berikan kepada anak kita nantinya? Karena bagi Luqman ketika anak tidak mengenal Allah dan imannya maka rusak lah anak tersebut. Namun, apakah kita sekarang sudah merasakan ketakutan ketika anak kita tidak mengenal Allah? Atau ketakutakan kita masih sebatas dunia saja?

Entahlah, bagi siapa yang membaca tulisan ini, Anda sudah mengetahui arah dan maksud tulisan saya ini, karena sejatinya kita sebagai orang tua tidak perlu takut dengan segala masa depan anak kita, karena Allah telah menjamin rejeki dan kehidupannya. Orangtua hanya menjalankannya saja. Dan seharusnya ketakutan yang benar-benar kita takutkan adalah ketika anak kita tumbuh dengan tidak ada iman dan Islam di hatinya. Bisa kita membayangkan bagaimana dunianya kedepan.

Happy Birthday My Girl

IMG_5330

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s