Percaya ga percaya akhirnya bisa ke Amerika

IMG_1437

Melihat judulnya pasti banyak yang bertanya-tanya. ” Lulus S3 lagi ya bal ke Amerika?” Tidak, ini hanya tulisan refleksi saya ketika (itu) 2009 di saat Allah memberikan kesempatan termahal melanjutkan sekolah ke Amerika dengan beasiswa Fulbright yang konon katanya beasiswa paling bergengsi di dunia. Nah coba lihat ya, saya saja yang biasa-biasa saja bisa mendapatkan beasiswa paling bergengi di dunia apalagi Anda yang saya pikir cukup pintar dan pantas mendapatkannya. Namun itu semua bagi saya sepenuh-penuhnya karena Allah terlepas apapun yang telah saya lakukan untuk itu semua. Kisah perjalanan saya hunting scholarship ini mungkin bisa menjadi cerita pembangkit, pendorong, penyemangat, atau apalah untuk pembaca semua yang saat ini sedang berjuang mati-matian menempuh perjalanan meraih mimpi untuk bisa menuntut ilmu di negara-negara hebat dan maju. Sebegitunya kita harus berjuang mati-matian meraih mimpi? Iya lah, karena mimpi harus di perjuangkan dan dibuktikan, bukan di diamkan saja.

Hidup ini memang penuh misteri. Ghaib dan tidak pernah di duga-duga. Allah memang telah membuatnya seperti itu. Dengan itulah kehidupan di dunia ini semakin asyik, penuh warna warni, seperti pelangi. Tiba-tiba yang penyapu jalan dapat rejeki menjadi orang kaya. Tiba-tiba yang tidak ada uang untuk kuliah dapat beasiswa untuk bisa kuliah, keluar negeri pula ( seperti saya). Lagi-lagi enaknya di rumah, eh dapat telpon dari teman nomor buntutnya keluar dan dapat uang miliaran ( nah yang ini ga benar, kok dapat kekayaan pake buntut segala). Begitulah Allah telah mengatur sedemikian rupa untuk manusia. Tugas Allah memberikan rejeki kepada manusia, dan tugas manusia mencari rejeki dan ikhtiar penuh kepada Allah dengan jalan-jalan yang di ridhai Allah.   Saat itu ( sebelum berangkat), bagi saya Amerika is not in the list. Berpikir saja pun tidak pernah. Jangankan Amerika, negara-negara Asia saja saya masih takut untuk bermimpi. Alasan saya sangat kuat saat itu karena kemampuan intelegensi saya yang sangat rendah untuk bisa kuliah sampai ke negara maju. Lebih tepatnya saya merasa tidak pantas. Bodoh. Di tambah dengan harta benda yang saya punya sangat nihil untuk bisa kuliah jauh-jauh. Boro-boro Amerika, Ke UI saja saya tidak pernah berpikir bisa kuliah kesana. Kenapa saya merasakan seperti itu? Karena saya masih mengandalkan kemampuan intelegensi dan uang untuk meraih sesuatu. “Jangan pernah lihat ketidakmampuan manusia yang tidak mempunyai kemampuan apa-apa, namun lihatlah kemampuan Allah yang sangat luar biasa yang Maha mempunyai segala apa-apanya di dunia ini”.

Kalau kita masih mengandalkan kemampuan intelegensi kita untuk bisa kuliah keluar negeri, berarti kekuasaan Allah cetek sekali, karena bisa memberangkatkan kita hanya dengan kepintaran kita. Kalau kita masih mengandalkan nilai TOEFL, uang, atau apalah, untuk bisa kuliah ke luar negeri, berarti kekuasaan Allah kerdil sekali, masa hanya dengan itu semua kita bisa diberangkatkan oleh Allah. Padahal bagi Allah, memberangkatkan kita ke manapun sangatlah gampang. Uang, kemampuan, atau apapun itu hanya alat saja sebagai ladang amal kita kepada Allah. Sehakikatnya bahwa memberangkat kita kemana saja bagi Allah cukup dengan “KUN”.

Teman saya berkali-kali mengatakan bahwa bukan karena kemampuan kita yang pintar kita bisa mendapatkan beasiswa kuliah ke laur negeri, bukan nilai TOEFL kita yang menembus angka 600 kita bisa berangkat, dan bukan karena research proposal, atau statement of purposes kita yang hebat kita bisa menembus universitas dunia, namun sepenuh-penuhnya itu terjadi karena Allah. Sekali lagi saya katakan sepenuh-penuhnya karena Allah.   Namun, terlepas dari ini semua, kekuatan ikhtiar masih tetap nomor satu. Disaat kita meminta Allah untuk menyelesaikan ikhtiar kita dengan sempurna, maka disitulah muncul keajaiban-keajaiban yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Ini yang di sebuat jalan ‘pelicin’ menembus mimpi ketika kita melibatkan Allah disetiap usaha kita. Dan kenapa kita lupa menyumpai Allah di shalat malam kita untuk meminta kemudahan-kemudahan aplikasi beasiswa kita sebelum kita bergerak berikhtiar di pagi harinya? Dan kenapa kita tidak menyempurnakan ikhtiar-ikhtiar kita dengan bersedeqah kalau dengan itu bisa memudahkan jalan kita kesana? Dan kenapa tidak kita mulai pagi dengan shalat dhuha 4 rakaat terlebih dahulu sebelum kita bergerak melakukan ikhtiar-ikhtiar lainnya? Kenapa? Karena kita masih mengandalkan kemampuan kita sendiri yang jelas-jelas tidak ada apa-apanya.

Sebelum itu saya ceritakan bagaimana saya bisa menebus kuliah ke Amerika dengan bantuan dana Fulbright.

Ketika itu,TOEFL sungguh sangat saya benci, meskipun saya dulu kuliah di Bahasa Inggris, bukan berarti TOEFL saya tinggi-tinggi amat, paling banter 530. Dan itu tidak cukup untuk mengajukan aplikasi untuk S2 ke Amerika karena yang di minta 550. Namun, begitu Allah merencanakan jalanNya, maka tahun 2008 saya mengikuti program pembibitan Alumni se IAIN seluruh Indonesia, program selama 6 bulan berfokus kepada pemantapan TOEFL dan Bahasa Arab. Awalnya program ini bagi saya sangat membosankan, penuh dengan kemonotonan. Pokoknya saya seperti menghabiskan waktu-waktu sia-sia saja dengan program ini. Bahkan sebagian dari teman saya dari daerah lain mengundurkan diri karena melihat ketidak kejelasan program ini. Tapi karena sudah terlanjur ya sudahlah saya ikuti sampai selesai. ‘Bisa jadi kita benci sesuatu namun itu baik untuk kita’. Tapi Allah kembali berkehendak dengan program pembibitan ini bahwa setelah di gembleng selama 6 bulan di Bandung dengan program ini TOEFL saya naik menjadi 557 dan itu bisa untuk sekedar melamar beasiswa ke Amerika.

Masih ingatkah semua teman-teman tahun 2006, di mana tsunami melanda Aceh dan sekitarnya? Siapa yang bisa langsung mengambil hikmah ketika musibah itu terjadi? Yang ada kita berpikir bahwa Allah telah melaknat, mengazab dan pikiran-pikiran negatif lainnya bermunculan dalam pikiran kita. Tidak ada seorang pun yang dengan gembiranya mengatakan ” Horee, musibah datang lagi, setelah musibah pasti ada kebaikan, dan kebahagian,” Tidak ada seorang pun dengan senang hati menyambutnya. Siapa sangka dengan musibah besar ini, orang-orang Aceh khususnya yang di timpa bencana mendapatkan kesempatan beasiswa gratis ke Amerika melalui program Fulbright Scholarship. Siapa sangka? Siapa? Tidak ada satupun yang menyangkanya. Selama 4 tahun Organisasi Fulbright memberikan beasiswa untuk rakyat Aceh. Dan di tahun ke empatlah saya melamarnya dengan ketidakyakinan saya. Kenapa tidak yakin? Karena saya masih berpikir ketidakmampuan saya yang sangat terbatas dan lupa melihat kemampuan Allah yang sangat-sangat tidak terbatas.

Bermodalkan TOEFL dan kesempatan khusus di berikan ke rakyat Aceh akhirnya saya melamar, dan setelah melamarpun saya tetap tidak berharap banyak. Jangankan berharap sedikit, bahkan saat itu saya sama sekali tidak berharap sama sekali bisa lolos. Tapi, lihatlah kekuasaan Allah, dari saya yang tidak ada apa-apanya bisa mendapatkan ini. Lihatlah bagaimana Allah memberikan jalan-jalan rintangan, penghalang, ataupun penghambat yang menurut kita sangat pahit namun itu adalah jalan besar untuk sebuah tujuan yang sangat luar biasa. Bayangkan saja program pembibitan yang saya benci awalnya menjadi modal awal saya mendapatkan nilai TOEFL yang bagus, begitu juga dengan musibah tsunami yang menghancurkan segalanya namun Allah mendatangkan Amerika memberikan beasiswa kepada rakyat Aceh. Apakah sampai disini kita masih mengandalkan diri sendiri yang katanya pintar, kaya, hebat, bla, bla dan bla?

Sekarang sedang heboh-hebohnya pengumuman beasiswa LPSDMA Aceh. Bagi calon yang lulus dan tidak lulus, tenang saja, kalian bisa berangkat ataupun tidak bukan karena beasiswa LPSDMA namun sepenuh-penuhnya karena Allah. Ketika keinginan dan mimpi-mimpi kalian itu kalian satukan di tempat sujud, lihatlah satu persatu keajaiban itu datang. Mungkin bagi sebagian orang mudah untuk mendapatkan nilai TOEFL tinggi, namun belum tentu dia dengan mudahnya dia mendapatkan beasiswa ke universitas yang di inginkan, Mungkin bagi sebagian orang mudah untuk membuat research proposal yang sangat hebat bagusnya, namun belum tentu mudahnya professor disana merekomendasikannya. Kerajaan di dunia ini milik Allah. Makanya, sebelum mulai berikhtiar maka sempatkan berjumpa dengan Allah di shalat malam kita, mudahkan ikhtiar kita dengan bersedeqah dan shalat dhuha, karena sejatinya manusia tidak berkekuatan apa-apa kecuali kekuatan Allah yang sangat luar biasa.

Bagi yang sampai sekarang masih berjuang bahkan sudah gagal beberapa kali, ini saatnya Anda melibatkan Allah sepenuhnya, karena hanya Allah lah yang mampu mewujudkan mimpi-mimpi kita semua.   Selamat berjuang terus ya teman-teman…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s