Aceh Education Needs A Total Quality Management

Banyaknya bermunculan universitas, sekolah tinggi, institute, maupun akademi selama ini di Aceh memberikan sedikit nuansa baru dalam dunia pendidikan Aceh, khususnya pendidikan di level higher education (perguruan tinggi). Masyarakat disuguhkan dengan berbagai macam pilihan perguruan tinggi yang mereka sukai. Satu sisi bermunculan perguruan tinggi ini kita sambut dengan positif karena ini pertanda bahwa masyarakat sekarang sudah cukup sadar dengan pentingnya pendidikan. Namun, di satu sisi yang lain kepercayaan yang diberikan DIKTI (Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi) kepada  sebuah institusi untuk menjalankan perannya harus menjadi langkah awal untuk menciptakan sebuah perguruan tinggi dengan pertimbangan manajemen kualitas atau total quality management yang cukup bagus. Kenapa ini dianggap penting? Karena untuk membentuk sebuah generasi yang cerdas dan kritis semua bermula dari sebuah institusi pendidikan yang memberikan kualitas dan metode pembelajaran yang memicu daya kreasi dan inovasi yang tinggi.

Menjalankan sebuah institusi pendidikan berarti kita menjalankan sebuah pelayanan umum atau public service. Kita sebagai pelayan akan melayani masyarakat yang ingin kita layani di tempat kita bekerja. Kita dituntut memberikan pelayanan dengan standar mutu dan kualitas yang tinggi kepada orang akan kita layani. Dan itu artinya adalah kita sebagai pelayan akan all-out atau habis-habisan supaya orang yang kita layani menjadi suka, betah, puas, dan senang dengan jasa atau produk yang kita tawarkan. Semahal apapun budget yang dikeluarkan oleh pelanggan asal dengan high-quality atau top-quality pelanggan juga akan membeli atau menggunakan jasa kita. Contohnya bisa kita lihat bagaimana perusahan Apple mempunyai Apple lovers (pelanggan sejati) dengan produk-produknya. Penggagum Apel lebih mementingkan satisfactory atau kepuasan daripada budget yang dikeluarkan. Membangun kepercayaan itu sangat sulit tapi ketika kita sudah mendapatkan kredibilitas dari pelanggan maka kitalah pemenangnya.

Ini juga yang seharusnya insitusi pendidikan harus tawarkan kepada masyarakat yaitu sebuah kepercayaan yang bermula dari  peningkatan manajemen mutu dalam instansinya. Pakar dalam Total Quality Management Deming melihat bahwa masalah mutu terletak pada masalah manajemen. Manajemen bagus maka akan terbentuk mutu yang bagus pula.

Sebuah institusi perguruan tinggi sekarang ini sedang berlomba-lombanya memberikan mutu yang terbaik untuk masyarakat khususnya masyarakat yang ingin kuliah ditempat mereka. Tapi, itu semua tidak hanya dengan sebuah wacana ataupun teori yang terpampang jelas disebuah billboard maupun surat kabar. Menjalankan sebuah manajemen pendidikan dengan mutu yang bagus itu membutuhkan perjuangan tidak sedikit. Butuh waktu dan perjuangan keras. Melibatkan sebuah aspek atau staff yang terlibat di dalamnya. Kerja sama yang seimbang dan apik diantara semua mereka akan menghasilkan manajemen mutu pendidikan di sebuah institusi semakin tak terkalahkan.

Tapi tunggu dulu, semua tidak semudah itu. Pengalaman selama ini banyak institusi gagal ditengah jalan menjalankan manajemen mutu ini akibat tidak punya tekad yang kuat menjaga dan melakukan perubahan terus menerus untuk memberikan mutu yang terbaik. Membentuk manajemen yang bagus dengan mutu yang super hebat harus dimulai dengan langkah-langkah besar. Dan itu dimulai dengan sikap bahwa semua mungkin dan bisa dilakukan. Asalkan dilakukan dengan cerdas, bersama-sama dan sabar.

Dalam bukunya Total Quality Management in Education, Edward Sallis memberikan banyak poin-poin penting bagaimana meningkatkan manajemen mutu pendidikan.

Point pertama menurut dia adalah perubahan terus menerus. Orang Jepang adalah orang pekerja keras karena itu mereka maju dengan sebuah konsep hidup mereka dengan istilah Kaizen (improvement for the better future) yaitu perubahan terus menerus ke arah yang lebih. Berbicara mutu maka berbicara bagaimana kita mengambil sebuah sikap untuk memperbaiki yang salah. Menjadi baik maka kita harus belajar dari kesalahan kita selama ini. Perbaikan itu tidak harus dimulai dalam skala besar tapi semua itu dimulai dari kecil. Step by step improvement.

Poin kedua yang cukup penting harus kita ketahui untuk meningkatkan manajemen mutu pendidikan adalah perubahan kultur. Memang ini tidak mudah karena ini menyangkut sikap, pola pikir dan kebiasaan kita. Tapi, hal ini harus dipahami adalah budaya yang salah terkadang bisa memberikan hasil kinerja kita yang buruk dan menghambat peningkatan mutu sehingga disini dibutuhkan staff dan institusi yang siap dengan perubahan dengan perubahan sikap dan pola pikir yang matang dan berwawasan.

Dengan berjalannya waktu, staff akan belajar bahwa mereka tidak hanya mengubah pola pikir mereka tapi mereka juga harus meningkatkan skill mereka untuk itu semua. Selain itu, dengan memberikan kepercayaan dalam ruang lingkup jabatan mereka  maka staff bisa bekerja dengan sempurna dan bertanggung jawab tinggi.

Perubahan kultur dan sikap memang sangat dibutuhkan, tapi tidak cukup sampai disitu. Staff juga membutuhkan sebuah kondisi yang nyaman dan aman untuk bekerja yang didukung oleh pimpinan yang arif dan bijaksana dalam mengambil segala keputusan. Ketika staff terasa terintimidasi dengan keadaaan maka ini akan menjadi salah satu penyebab menurunnya mutu yang mereka berikan kepada pihak luar. Sehingga rasa acuh tak acuh dalam pelayanan kepada pihak luar bisa memperburuk reputasi manajemen yang telah dibuat selama ini.

Manajemen mutu di dalam dunia pendidikan semua berpusatkan dalam ruang lingkup pimpinan. Artinya disini adalah pimpinan yang menjadi langkah awal penggerak mutu dalam instansi mereka. Salah langkah atau pun salah dalam pengambilan keputusan akan berakhir kepada amburadulnya manajemen kerja. Dan ini sangat fatal. Bisa-bisa akan menghancurkan manajemen mutu yang ada. Parahnya lagi kalau semua itu harus dimulai lagi dari awal kembali.

Karena seperti yang dikatakan oleh Deming bahwa mutu terletak pada masalah manajemen. Selama ini yang kita lihat bahwa banyak institusi telah berhasil mempertahankan kepercayaan dan mutu mereka di hadapan masyarakat dan banyak juga yang tidak mampu mempertahankan kredibilitas mereka. Ini semua disebabkan karena berhasil atau gagalnya sebuah institusi sangat tergantung dari manajemen senior atau pemimpin yang dipunyai oleh insitusi tersebut dalam menyusun langkah strategis kedepan.

Menjadi profesional adalah faktor lain yang juga sangat penting untuk meningkatkan mutu manajemen dalam pendidikan. Ini bisa dimulai dari pemimpin yang pintar yang mempunyai konsep transformational leadership yang kuat yaitu yang mampu memberikan pengaruh kepada staf-stafnya dan disertai dengan dosen atau guru yang harus mempunyai kualifikasi yang tinggi. Dan ditambah dengan staff akademik yang mempunyai motivasi dan inovasi yang tinggi pula.

Berkualitas atau tidaknya sebuah institusi maka bisa dilihat bagaimana konsumen atau pelanggan bisa puas dengan pelayanan yang diberikan. Nilai akhir semuanya kita serahkan kepada konsumen kita. Biarlah mereka yang menilainya.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s