Shayma Rifaya

Cantik dan putih. Matanya bulat mewarisi ayahnya. Tidak pernah ada kata puas ketika memandangnya. Semakin hari semakin aku merasakan bahwa dunia ini tidak ada yang lebih aku cintai selain dia. Semua yang aku lakukan hanya untuk nya. Terserah orang-orang mengatakan ini berlebihan. Tapi siapa yang biasa berani mengatakan untuk tidak jatuh cinta disaat dia harus menjadi bagian dari hidup ku. She is my life.

 Shayma Rifaya aku berikan dia sebuah nama. Bagiku nama itu tidak hanya sekedar sebuah ukiran tulisan yang mempunyai arti. Shayma aku ambil dari saudara sesusuan Nabi Muhammad yang mempunyai nama asli Huzafa. Huzafa sering dipanggil dengan kata Shayma ketika dia masih kecil. Shayma juga berarti kebaikan. Tidak ada yang aku harap lebih dari kata Shayma selain anakku menjadi baik. Baik untuk orangtuanya, baik untuk lingkungannya, baik untuk segalanya. 
 
Harapan kami sangat sederhana, tapi kami selalu berharap bahwa nama itu mewaliki dia sebenarnya nanti ketika dia besar. Rifaya menjadi nama lanjutannya yang berarti pintar ataupun cerdas. Lagi-lagi  kami mengharap dia menjadi anak yang baik dan cerdas untuk keluarga, masyarakat, daerah, negara dan dunia.
 
Ini yang dinamakan jatuh cinta yang berlebihan. Aku bisa membayangkan bagaimana orangtua yang mengharapkan anak tapi tak kunjung ada. Aku bisa meyakini bahwa setiap hati yang merindukan pasti sangat sedih ketika tidak mendapatkannya. Tapi jangan takut. Sadarilah bahwa apapun itu milik Allah. Hanya Allah yang tahu kapan yang terbaik diberikan kepada kita. Begitu juga dengan malaikat kecil itu. Kedatangannya selalu di nanti. Tapi apakah harus sedih dan mengancam tuhan ketika kita tidak mendapatkannya? Tidak perlu, karena suatu saat nanti, entah kapan itu. Apapun yang di titipkan harus dikembalikan. 

Memang dia sangat bersih seperti malaikat yang menghampiri hidup kami. Aku berani katakan bahwa dialah penyemangat hidupku selama ini. Dia pembawa berkah kehidupanku saat itu. Dia pembawa kenyamanan hidup ini. Dia inspirasi kami. Tapi satu sisi ini juga adalah cobaan untuk kami. Dia hanya seorang makhluk Allah yang hanya sekedar dititipkan untuk sementara waktu kepada kami. Itu artinya ketika kami harus kehilangan dia, air mata kami harus ikhlas. Semua kembali kepada yang memiliki. Tidak boleh tidak. Inilah hukum dunia ini.

Suatu hari aku membayangkan bagaimana dia besar. Besar dengan lingkungan yang sangat ganas dan rusak. Moral yang sudah sangat berantakan. Kami takut. Kami takut sekali melihat bagaimana dia tumbuh dan besar nantinya tanpa ada kami kami lagi. Kami cemas ketika melihat dunia ini yang sudah diujung kehancuran. Kami khawatir bagaimana dia nantinya belajar dengan sebuah role model yang salad. Kami tidak kunjung berdoa untuk kehidupan dia nanti. Kami bisa membayangkan bagaimana dasyatnya kehidupan nanti ketika dia beranjak SMA. Kami takut melepaskannya ke masyarakat. Takut dia terpengaruh dengan tidak ada penyaringan sama sekali. Kami terlalu curiga dengan teman-temannya nanti, takut-takut temannya semua berniat tidak baik untuknya.

Tapi apakah rasa takut ini akan menghalanginya untuk mencari dunianya sendiri? Apakah rasa takut ini akan menghentikannya berteman dan bersosial? Apakah kekhawatiran kami ini akan menghentikannya meraih mimpi ? Kami tidak bisa berbuat banyak untuk hal ini. Sebuah amanat lebih baik di jaga dengan sebaik mungkin dengan meminta perlindungan dari sang pemberi amanat.
 
Selamat ulang bulan -5 bulan-Shayma Rifaya.
 
( Seolah waktu berjalan begitu lancang untuk hanya menghentikan kami bermain dengannya selamanya)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s