Antara proyek, masyarakat, hak, dan kekesalan

Semingguan ini, saya ngerasa sekali kejebak macet berkali-kali di seputaran Jalan Daud Beur’eh. Jalan itu pun bukan jalan tikus yang hanya di gunakan sekali-sekali oleh masyarakat. Daud Ber’euh jalan besar dengan luas jalan pun cukup lebar. Masyarakat yang menggunakannya pun sangatlah ramai. 

 Saya tidak sanggup memikir lagi, apa yang sebenarnya di benak pemegang proyek pengaspalan. Saya tidak berbicara korupsi disini. Toh Anda sendiri sudah bisa membuat kesimpulan sendiri dengan proyek pengaspalan berlapis-lapis yang kasat mata kita lihat sangat mubazir. Kesimpulan Anda itulah kesimpulan saya juga. Masalah korupsi biarlah masalah KPK. Tapi, menurut saya, proyek ini benar-benar salah.
Bagi saya, sebagai masyarakat umum yang tidak bekerja di proyek itu akan melihat bahwa pengaspalan berlapis-lapis sangatlah tidak etis ketika di saat yang sama kita masih melihat ruas jalan Banda Aceh masih bolong, rusak, dan sangat tidak layak untuk di lewati. Toh jalan yang diaspal di sepanjang jalan Daud Beur’euh masih sangat bagus. Memang tidak ada lubang sama sekali. Mau balap sekalipun masih ok tuh jalan.Inikah yang dinamakan proyek? Asal ada pekerjaan, walaupun itu tidak bermanfaat, tapi bisa mendapatkan uang. Entahlah, biarlah itu urusan mereka sendiri. Mereka yang bekerja dan mereka yang meraup rupiah disitu. That is not my business. Tapi, bekerja ya mikir-mikir juga kalee. Jangan sampai menggangu hak orang lain.

Yang membuat saya kesal dan juga Anda mungkin, mengapa pengaspalan di lakukan di siang hari. Disaat orang-orang sedang beraktiftas. Ratusan bahkan ribuan orang melewati jalan itu. Jangankan ada proyek pengaspalan, kecelakan sedikit saja bisa membuat antrian panjang.
Apakah si pemegang proyek tidak bisa mengusahakan pekerjaan di lakukan disaat orang-orang tidak sedang ramai. Tengah malam misalnya. Di Jakarta sendiri, pekerjaan fasilitas umum sering di lakukan ketika malam. Ini sangatlah wajar karena tengah malam masyarakat banyak yang tidak beraktifitas di jalan raya. Sepi bahkan pekerjaan juga bisa berjalan dengan lancar.
Masalahnya tidak berhenti disitu, pelebaran jalan di jalan Syiah Kuala, termasuk rumah saya, juga membawa dilema sendiri bagi masyarakat yang tinggal disitu maupun masyarakat yang menggunakan jalan Syiah Kuala sebagai akses jalan yang mereka gunakan setiap harinya.  Pelebaran jalan itupun berjalan dengan sangat amburadul. Sangatlah kacau dan tidak teratur sama sekali. Coba Anda bayangkan, pelebaran jalan di lakukan setengah-setengah tidak merata di satu tempat. Di satu tempat belum selesai sudah memulai di tempat lain. Hasil pengaspalan pun asal jadi. Jangan heran kalau dalam beberapa tahun kedepan jalan sudah mulai bolong. Kualitas rendah. Belum lagi suara beko, mobil truk, abu dimana-mana. Sangat-sangat menganggu. Bahkan kejadian ini kami rasakan sudah berbulan-bulan.
Pengaspalan berlapis-lapis atau pelebaran jalan atau apalah lagi proyek-proyek lain, bagi saya itu adalah bagian dari pembangunan Aceh. Bahkan itu harus dilakukan untuk kemajuan Aceh,Tapi, kalau proyek itu menganggu masyarakat umum lainnya, ini benar-benar sangat menyebalkan. Dimana letak hak rakyat untuk hidup nyaman, tenang, dan damai?
_______
Tenang. Jangan diambil terlalu serius.
Tulisan ini cuma kekesalan salah seorang pengguna jalan yang dirugikan haknya oleh pemegang proyek. Kalau Anda merasakan sama dengan apa yang saya rasakan. Mari kita berdoa sama-sama, supaya pengaspalan maupun pelebaran jalan cepat selesai.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s