Bapak Tua di Sebuah Mesjid

Mungkin kita merasa orang yang kurang beruntung di dunia ini. Mungkin kita merasa orang miskin di antara saudara-saudara kita. Mungkin kita merasa mengapa tidak banyak uang seperti teman-teman yang lainnya. Tapi, sadarilah bahwa hidup kita lebih  dari apa yang kita rasakan. Hidup kita lebih beruntung dari orang-orang yang kurang beruntung disekelilingi kita. Hidup kita lebih kaya dari pada orang-orang miskin di sekelilingi kita.  Dan hari  ini Allah telah mempersembahkan sebuah kisah sederhana tapi begitu dalam bagi ku.

Keluar dari mesjid, aku melihat sosok tua, lemas, dengan tas dengan ikatan-ikatan tali. Tas yang dimilikinya adalah tas bekas yang mungkin saja didapatkannya di tong sampah. Restleting tas sudah tidak ada.  Sekilas dia orang tua itu tidak beda dengan yang lain. Tapi, ketika aku tatap lama-lama aku sadari dia bukan orang tua seperti biasa. Tatapannya kosong ke depan. Dia memindahkan tangannya yang dia tumpangkan diatas lututunya ketika aku minta permisi melewati di hadapannya karena dia duduk persis di hadapan motor ku. Tidak lama ku sapa beliau.

Pat tingai, pak? Ku bertanya. Kerut diwajahnya penuh memenuhi. Matanya berkisah seribu cerita. Matanya seolah-olah ingin bicara dan mengharapkan sebuah petolongan.

“Lon tinggai di Mesjid Peunayong,” dia menjawab lemas.

“ Peu na payah lon intat wo, ku bertanya kembali.

“Hana payah, karena lon jak minta rejeki bacut, begitu dia menjawabnya.

Mendengar jawaban itu dari mulutnya, akhirnya aku menghidupkan motor dan hendak beranjak pulang. Keluar dari perkarangan mesjid aku berpikir bahwa si orang tua itu tidak sedang baik-baik saja. Dia membutuhkan sesuatu, namun aku terus mengendarai motor langsung pulang kerumah tapi hatiku tidak tenang meninggalkannya begitu saja tanpa memberikan sesuatu.

Setiba dirumah aku mengambil uang dan langsung kembali ke mesjid dimana aku bertemu si orang tua itu. Setiba dimesjid dia sudah keluar menuju jalan besar, dan langsung aku menyapanya kembali.

Aku kembali membuka basa-basi,” peu na payah lon jak intat dron?

“Hana payah, begitu dia menjawab?

“ Neujok mantong rejeki keu lon bacut, mukanya memelas dan sangat sedih.

Tanpa pikir panjang, aku mengeluarkan uang sealakadar dan langsung memberikannya untuknya. Tidak banyak tapi begitu bahagia dia mendapatkannya. Dia menyalami tanganku, dia mendoakanku. Bertubi-tubi dia mengucap Alhamdulilah. Raut wajahnya tersinarnya begitu cerah. Mungkin saja dia berpikir hari selamat tidak perlu mencari rejeki yang lain, dan besok urusan lainnya.

“Teuma dron asli dipat? “ Aku bertanya.

“Lon asli Lhokseumawe, tapi keluarga lon kabeh meninggal, dan lon tinggal di mesjid Peunayong”

Dia melanjutkan ,” lon han ek kerja le karena ka tuha lon minta rejeki pat-pat yang na.

Akhirnya saya kembali menawarkan dia tumpangan tapi dia menolak karena menuju sebuah tujuan lain.

Muse all for us

Uang yang saya berikan tidaklah seberapa. Bagi saya itu bisa saya habiskan dalam waktu 5 menit dengan belanja atau beli kue dan sebagainya.  Tapi, bagi si bapak itu, bagi orang miskin, bagi orang yang berjuang mencari pekerjaan, uang sedikit menurut kita, banyak menurut mereka. Kita mungkin merasa selalu diberikan gaji kecil oleh perusahaan kita, mungkin kita merasa tidak seimbang dengan gaji kita kerja dengan bayaran yang diberikan. Tapi, bagi si bapak itu yang telah berjuang siang dan malam mencari rejeki, uang sekecil apapun akan membuat dia tersenyum.  Mungkin saja kita sedih ketika kita ada uang untuk beli baju lebaran. Tapi, bagi sibapak itu, baju lebaran tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Bagaimana dia bisa berpikir baju lebaran ketika dia harus mengisi perutnya yang kosong.

Apakah kita masih merasa hidup ini tidak adil ketika orang lain mempunyai banyak harta sedangkan kita tidak? Ungkapan ini seharusnya di ucapkan oleh sibapak itu. Orang -orang seperti mereka yang seharusnya berucap kata-kata demikian ketika disaat yang sama kita masih mempunyai  tempat tidur yang empuk, ketika kita masih masih mempunyai pekerjaan tetap, ketika kita masih mempunyai keluarga yang lucu-lucu dan bahagia. Kita tidak perlu mengeluh dengan keadaan kita sekarang, kita tidak perlu merasa bahwa kita kurang beruntung dengan orang lain, tapi lihatlah sekeliling kita. Apakah orang-orang di sekililing kita mendapatkan apa yang kita punya sekarang?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s