Seven years memory of love: Ibu

Tubuhnya tambun. Kasih sayangnya tidak terbatas. Usianya menginjak senja ketika beliau pergi. Tidak pernah saya temukan sosok wanita seperti dia. Dia seorang malaikat dilahirkan untuk kami. Bukan main hebatnya bagaimana beliau membesarkan kami. Tulus dan Ikhlas. Saya tidak pernah membayangkan sedikitpun beliau akan pergi begitu cepatnya. Belum sepertinya saya membalas semuanya yang telah diberikan. Tapi Tuhan punyai cerita lain. Siapa yang berani mengatakan tidak ketika Tuhan mengatakan iya. Begitulah nasib kami disaat itu.

Selesai shalat subuh dia membangunkan kami. Semangatnya membara ketika matahari mulai memancar. Menghidupkan kompor dan memasak untuk kami. Tidak ada satu ucapan keluh dari mulutnya. Peluh bercucuran ketika beliau sibuk menyiapkan sarapan untuk kami setiap paginya. Beliau selalu memberikan yang terbaik untuk kami. Ingin rasanya menangis mengingat masa-masa itu.

Beliau tidak seperti wanita lainnya, setiap pagi sudah rapi dengan seragam berangkat kekantor. Beliau hanya bekerja di rumah. Mendoakan kami ketika kami kesekolah. Menunggu kami ketika kami pulang sekolah. Memasak untuk kami ketika kami lapar. Memberikan kasih sayang kepada kami. Memberikan solusi setiap permasalah kami. Membelai kami ketika kami menangis. Dan memberikan doa untuk kami setiap saat. Pekerjaannya memang tidak berpangkat tapi kerjanya melebihi presiden sekalipun. Siapa yang bisa bekerja dengan ikhlas tanpa dibayar kalau bukan Ibu.

Pagi itu saya mendapatkan kabar dari Kak Nana, kakak pertama yang tinggal di Jakarta. Kak Nana mengatakan bahwa ibu masuk rumah sakit karena jatuh dikamar mandi ketika mengambil wudhu. Ibu segera dibawakan kerumah sakit terdekat. Ketika sakit, Ibu dan Abi sedang berada di Jakarta dalam rangka liburan. Hasil pemeriksaan lab mengatakan ibu kekurangan HB. HB beliau sudah mendekati 2. Alhamdulillah Ibu masih bertahan. Kata dokter ibu kuat dengan kondisi HB segitu karena sebagian orang HB 2 sudah meninggal.

Alhamdulillah, setelah beberapa hari HBnya ini sudah mendekati 8. Tapi, bukan berarti ibu akan sembuh segera. Hari demi hari kami mendapatkan kabar dari dokter akan perkembangan ibu di rumah sakit. Ibu tidak semakin membaik. Dokter menemukan masalah baru diperut ibu. Dan itu mengejutkan kami semua. Kanker Usus Halus Stadium 4. Saya tidak begitu mengerti dengan stadium itu, tapi kak Nana mengatakan bahwa Ibu akan mengakhiri dunia ini dengan segera.

Hati ini menjerit mendapatkan kabar itu. Saya kaku dengan sebuah keadaan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Hati belum bisa terima. Tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali berdoa siang dan malam. Apa yang saya takutkan selama ini akan terjadi.

Seminggu kemudian, dokter mengatakan bahwa ibu harus melakukan operasi besar dengan membuat saluran pembuangan lain atau kolostomi. Dimana pembuangan atau anus ibu tidak bisa digunakan lagi. Alhamdulillah operasi berjalan lancar, tapi tetap saja organ tubuh ibu banyak yang tidak bisa digunakan lagi karena kanker sudah menjalar keseluruh tubuh. Setelah di operasi, Ibu berada di rumah sakit selama 1 bulan setengah. Kak Nana yang menjaga dan mengurus semua.

Akhirnya kami semua berangkat ke Jakarta bersama-sama. Saya, Kak Yanti, dan Mak Anda, adik Ibu. Setiba kami di Jakarta, Ibu sudah bisa pulang kerumah. Ketika kami melihat untuk pertama kalinya, ibu menangis dengan menahan rasa sakit. Tubuhnya kurus. Rambutnya menipis. Beliau sangat berbeda. Raut wajahnya menyimpan asa untuk kesembuhan dirinya sendiri walaupun itu sulit. Beliau hanya duduk tidak banyak bergerak ketika kami satu persatu menyalami beliau.

Ingin sekali menangis. Tapi, kami semua tegar dengan melihat keadaan Ibu. Kami tidak mau air mata kami menambah beban sakit ibu yang cukup menderita dengan sakitnya. Setelah beberapa hari di rumah, ibu mengeluhkan sakit kembali. Sakitnya kembali kambuh. Kali ini sepertinya tambah parah. Akhirnya kami memutuskan membawahkann ibu kerumah sakit kembali. Di dalam mobil menuju kerumah sakit, ibu merintih kesakitan. Sakitnya menggila. Kami tidak bisa berbuat banyak kecuali memberikan pijatan kecil ditangan dan kaki dan sedikit doa.

Setiba di Rumah sakit Cipto Mangunkusumo. Ibu dibawa ke IGD. Pelayanan IGD tidak seperti saya bayangkan. Ibu diterlantarkan selama beberapa jam terbaring menahan sakit di dalam IGD tanpa ada yang menanggani. Tidak ada yang peduli hingga beberapa jam kemudian salah satu dokter menyarankan ibu harus menginap kembali di rumah sakit.

Saya melihat banyak orang tidur di lantai diluar ruang IGD. Sepertinya mereka keluarga pasien. Rumah sakit bak terminal. Kumuh dan menambah penyakit. Pantas disebut rumah sakit. Memang bisa menambah penyakit bagi siapa yang datang. Beginilah wajah rumah sakit Indonesia, khususnya rumah sakit umum. Dimanapun tanpa terkecuali.

Dari IGD ibu dibawa ke ruangan di lantai 7. Disitulah ibu melawan sakit sampai ibu meninggal. Selama satu minggu saya dan kak Nana menginap dirumah sakit merawat Ibu, dan yang lainnya beristirahat dirumah kak Nana di Cilandak. Hanya berkunjung ketika siang saja. Kak Nana sering membuat lelucon santai dengan ibu untuk menyemangatkan ibu. Tapi, tetap saja itu semua hambar. Hati ini tidak bisa ditipu dengan keadaan.

Ibu persis robot tak bergerak. Ada 7 selang tepat berada ditubuh Ibu. Hanya mata dan mulut yang sesekali terucap pelan. Makanan harus melalui selang, dan itu pun harus dihaluskan. Minuman hanya menggunakan infus. Artinya ibu tidak minum melalui mulut selama satu minggu lebih. Mulut ibu sesekali terucap asma Allah. Bibirnya kering. Ibu tegar menghadapi ini semua. Tubuhnya tidak bisa memproses makanan yang dimakan. Kanker telah membunuh aktifitas organ ibu. Hasilnya scan juga terlihat kanker ibu sudah menjalar kemana-kemana. Hingga pada akhirnya ketika kanker menutup organ paru-paru dan jantung. Disitulah ibu meninggal.

Suatu ketika, kak Nana pulang kerumah untuk satu urusan. Kak Novi, kakak nomor 4 menjaga ibu dengan saya dirumah sakit. Ibu membisik kecil ingin sebuah permen. Ibu lapar dan ingin sesuatu. Dia membisik pelan dengan suara terputus-putus. Hati saya langsung membumi dengan air mata ketika beliau meminta itu.

” Bek kamo (jangan nangis), beliau berbicara lirih kepada kami. Kak Novi dengan air mata juga memberikan permen kepada ibu.

Setiap hari saya lewati hari melihat ibu, maka setiap itu juga saya mencoba mengikhlaskan ibu kalaupun harus pergi untuk selamanya. Berat. Sangat berat bahkan. Tapi kuasa apa yang bisa menahan saya untuk ibu bisa hidup selamanya? Disetiap shalat saya panjatkan doa untuk ibu. saya meminta kepada Allah memberikan yang terbaik untuk ibu. “Kalau ibu meninggal dan itu yang terbaik maka ambillah beliau disisi Mu ya Allah. Kalau Engkau masih memberikan kesempatan lain untuk kami maka berikan kesembuhan untuknya, ” begitu permintaan saya kepada Allah.

Semua anggota keluarga telah hadir Senin itu. Senin dimana semua aktifitas kembali terjadi. Jakarta juga disambut burung berkicau dipagi hari. Terdengar suara riuhnya kendaraan bermotor. Pertanda pagi sudah mulai ada. Entahlah, apakah saya akan membenci Senin untuk selamanya atau tidak. Bagi orang Senin adalah hari yang penuh semangat, tapi tidak untuk kami. Bagi kami Senin itu adalah hari dimana kami harus melepaskan seorang wanita yang telah menghidupkan kami semua dengan doa dan kasih sayang. Beliau akhirnya pergi meninggalkan kami.

Senin itu pukul 11 lewat 20 menit, tanggal 29 Mei 2006, Ibu tak tersadarkan untuk kesekian kalinya. Tapi, kami yakin inilah saat ibu harus kembali ke Maha Kuasa. Saya melihat ibu bernafas sesekali. Ada 3 nafas yang panjang yang ibu hirup. Di nafas ketiga ibu terdiam dan kaku. Kami memanggil suster untuk memastikan apakah ibu sudah meninggal atau belum. Sesuai prediksi kami, ibu sudah meninggal ketika nafas ketiga ibu terhenti. Aktifitas dunianya selesai. Semuanya tidak ada yang bisa menolong ibu dari kematian ini hanya doa dari kami semua supaya Ibu bahagia disana.

Selamat jalan Ibu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s