Selamat datang anakku!

Siapa yang bisa tahan untuk tidak bercerita ketika melihat sebuah maha karya dan maha cipta yang luar biasa ini. Ini hanya pengalaman seorang suami yang bertransisi menjadi seorang ayah. Tidak maksud berlebihan. Tapi, hanya untuk berbagi kebahagian saja. Silakan dinikmati!

Saya sudah kembali ke Banda Aceh dari Medan setelah mengantar Dilla ke rumah kakaknya di Medan ketika Dilla menelpon saya mengabari dianya sudah bukaan 3. Dilla sendiri sudah cuti mulai 18 Mei. Dilla kesana karena kakaknya kedua mau pindah ke Jakarta dalam waktu dekat. Untuk urusan melahirkan sendiri, Dilla sudah merencanakannya di Langsa, dimana orangtuanya tinggal. Perkiraan melahirkan menurut dokter adalah sekitar 8 Juni 2013. Itu artinya ada beberapa minggu waktu santai di Medan sebelum nantinya Dilla ke langsa untuk melahirkan disana. Tapi, siapa yang bisa meyakinkan semua rencana kita bisa berjalan seperti kita mau? Allah punya cerita lain. Dan itu lebih indah pastinya.

Rabu itu Dilla masih di Medan. Dan Rabu sore itu juga Dilla bersama kakaknta ke salah satu dokter di Medan sebagai dokter back up kalau terjadi apa-apa. Namun, setelah diperiksa oleh dokter, dokter memberikan kejutan dengan ucapannya dengan mengatakan Dilla sudah bukaan 3 dan akan melahirkan dalam waktu dekat. Siapa yang tidak shock. Bagi Dilla ini adalah pengalamanan pertama. Semuanya masih meraba-raba.

Selanjutnya, dokter menyuruh Dilla ke salah satu rumah sakit untuk langsung rawat inap. Perkiraan dokter tidak lama lagi. Tengah malam akan melahirkan.

Langkah pasti saya ambil. Malam kamis saya memutuskan berangkat ke Medan dengan meninggalkan semua pekerjaan.

Dilla jauh-jauh hari mengatakan kepada saya bahwa ketika dia melahirkan saya harus ada disampingnya. Memang benar, selain doa, kehadiran suami disamping istri ketika melahirkan bisa memberikan energi positif. Keinginan itu kuat. Sampai Dilla mengulangnya beberapa kali ucapannya.

Bus nagkring diluar terminal ketika abang ipar mengantar saya ke terminal bus. Saya berhenti dan menjumpai calo dan langsung dapat tiket. Saya pikir bus mau berangkat. Kemudian saya melangkah masuk kedalam bus dengan berharap ada puluhan penumpang lainnya di dalam. Akan tetapi, itu semua bohong. Berasa kayak ditipu ratusan juta. Bus kosong melomplong ternyata. Dengan tidak merasa bersalah bus masuk kembali kedalam terminal mencari penumpang lain. Kesal dan merasa kayak ditipu, akhirnya saya memutuskan ke toilet sebagai bentuk pelampiasan saya. Ngapain ke toilet segala? Dengan perasaan was-was memikirkan Dilla plus ditambah dengan perasaan kayak orang bodoh ditipu sama orang bus akhirnya saya hanya bisa berdoa supaya busnya cepat berangkat dan Dilla bisa melahirkan dengan normal bersama suami tercintanya.

Akhirnya jam 8:15 malam busnya berangkat juga. Tiba di Medan perkiraan jam 7 pagi. Bus berjalan bak keong berjalan. Pelan dan berhenti setiap lihat orang. Ingin rasanya semua penumpang yang dilihatnya di naikan ke dalam bus. Banyak penumpang saat itu. Wajah batak terlihat satu-satu dari penumpang bus. Kalau perjalanan seperti ini, mahal bukan masalah tapi kenyamanan dan keselamatan. Bus yang saya naiki sendiri adalah bus baru dengan riwayat dan rekomendasi bagus dari orang-orang.

Saya duduk di bangku nomor 11. Di bagian gang. Di samping saya seorang anak muda tanggung. Wajahnya membingungkan. Antara Aceh atau Medan. Di depan saya, jam bewarna merah terpampang. Saya cocokkan dengan jam tangan saya, dan ternyata jam di bus telat satu jam. Tidak tahu alasannya mengapa dilakukan seperti itu. Malam di dalam bus sangat tidak enak. Selama saya menikah saya sering melakukan perjalanan dengan bus karena kampung orang tua Dilla di Langsa. Kalau dahulu baru- baru menikah kita bisa setiap bulan ke Langsa. Tinggal kita buat kartu member saja supaya dapat diskon dengan pihak busnya. Sayangnya, bus tidak menyediakan kartu member untuk mendapatkan diskon. Membosankan sekali hidup dalam bus. Apalagi kaki saya panjang jadi agak sulit untuk duduk. Bayangkan saja supir dan kerneknya bertahun tahun hidup seperti itu. Intinya? Semua pekerjaan harus di nikmati, ya kan?

Malam itu saya berharapa bisa menelpon dora emon. Menyewakan pintu ajaibnya. Bisa langsung ke Medan meminta pertolongannya dengan harga seberapapun. Ingin rasanya menyempurnakan diri sebagai suami dengan membantu istri ketika melahirkan.

Saya pelototi Jam tangan setiap saat. Berharap ketika melihat jam sudah pagi. Jam 12 malam saya mencoba untuk menelpon Dilla.

“Bagaimana keadaannya Dilla,” saya berbisik pelan takut membangunkan penumpang lainnya.

“Alhamdulillah, bang. Masih bukaan 3. Belum ada kontraksi yang berarti,” suara dilla pelan dan serak. Baru bangun dari tidur sepertinya.

Tiba jam 7 pagi di medan di hari Kamis, Dilla masih belum ada tanda-tanda melahirkan.

“Alhamdulillah,” saya membantin. Kemungkinan bersama Dilla akan melahirkan bersama saya.

Setiba di terminal, saya langsung ke rumah sakit. Sesampai saya di rumah sakit. Dilla berbaring bosan disebuah ruang observasi. Tidur-tiduran sambil bincang bersama ibunya. Bincang informatif tentang melahirkan, pastinya. Ibu Dilla setia menemani. Begitulah orangtua kepada anak. Perhatiannya tanpa batas. Siapa yang mau menemani sampai segitunya. Padahal sehari sebelumnya ibu Dilla berangkat dari Langsa ke Medan selama 4 jam. Tanpa pikir lelah ibu Dilla langsung bersama Dilla menemainya di rumahsakit. Luar biasa memang pengorbanan seorang ibu. Unlimited love and affection.

Jam 12 siang dokter menyarankan suster untuk menyuntik cairan shinto ke cairan infus. 1 jam berjalan tanpa berarti. Dilla bahkan sempat tidur-tiduran segala. Saya mendengar dari orang-orang kalau disinto sakitnya Subhanallah. Shinto itu sendiri memberikan rangsangan supaya bisa konstraksi hebat dan bayinya bisa cepat melahirkan. Dan itu sakit banget. Informasi yang saya dapatkan adalah umumnya ibu yang melahirkan sama dengan seperti 20 kali patah tulang. Disinto dengan sakitnya luar biasa ditambah dengan sakitnya melahirkan tidak ada duanya. Apakah masih mau mendurhakan ibu? Belum lagi harus bergadang siang malam ketika kita baru dilahirkan. Pastinya, semua tulisan tidak bisa menjelaskan pengorbanan ibu.

Saya disamping Dilla terus semenjak ketibaan saya di rumah sakit. Dilla sempat tidur berkali-kali di ruang operasi. Ini hotel atau rumah sakit sih, Dilla? Pada tidur-tiduran saja. Mulai jam 1:30 siang, Dilla merasakan kesakitan hebat. Hebat sekali bahkan.

Disinilah cerita ini dimulai. Rasa sakit itu mulai meningkat. Dan itu bagus. Artinya bayi sudah turun kebawah mau siap-siap keluar. Kontraksi diperut membuat sakit itu luar biasa. Sakitnya tidak terkira. Walaupun Dilla kuat dan selalu saya ingatkan dengan asma allah, tetap saja rasa sakit itu bisa meneteskan air mata. Bahkan sebagian orang berteriak mati-matian.

Air mata Dilla merembes kesaya. Saya tidak bisa merasakan kesedihan Dilla, tapi saya bisa bayangkan ini bukan sakit sembarangan. 1 jam berlanjut Dilla tidak berhenti rasa sakitnya. Tanggisannya kuat diiringi asma Allah sesekali.

Malam sebelumnya Dilla mendengarkan seorang batak melahirkan dengan suara yang sangat kencang. Dan itu persis di samping kamar Dilla. Pasien itu menyumpah serapah dan merintih kesakitan. Dilla trauma pastinya.

Sebagai suami siaga. Saya harus punya inisiatif tinggi. Setiap apa yang Dilla rasakan saya laporkan ke suster. Saat itu juga suster sudah standby dengan peralatanya.

Jam 2:20 siang dokter masuk. Ruangan walaupun bukan ruangan operasi disulap sama suster menjadi ruangan operasi dengan peralatannya. Satu suster membantu Dilla bagaimana ngedan. Suster yang lain membantu mempersiapkan peralatan lainnya. Nah posisi saya sendiri persis disamping Dilla. Memegang erat tangannya dan terus berdoa untuk dimudahkan melahirkan.

2: 30 dokter memainkan perannya. Dilla merintih kesakitan tapi selalu saya bimbing Dilla dengan asma Allah.

Satu suster mengatakan , tuh rambutnya dah kelihatan.” Nah loh! Doktor sudah siap dengan posisi dan 2 suster membantu dokter.

“Sekali lagi ngedannya ya, ” suster dan dokter berteriak sama. Kompak.

“Sedikit lagi. Ayo ibu. Sedikit lagi. Ayo ngedan terus. Rambutnya sudah kelihatan tuh,” begitu dokter dengan semangatnya berkoar-koar diruangan itu.

Dokter menyuntik dan mengambil gunting memotong salah satu bagian bawah tubuh Dilla. Saya sendiri tidak tahu apa itu. Belakangan saya tahu dari dokter bahwa pemotongan itu dilakukan karena bayinya sedikit besar dan kalau tidak dipotong maka bayinya susah untuk dikeluarkan dari perut ibu.

“Sekali lagi. Sedikit lagi,” kata itu terus menerus saya dengarkan dari dokter dan suster.

Subhanallah. Jam 2:35, akhirnya dengan bantuan dokter, bayi mungil itu muncul. Terlebih dahulu kepalanya. Selanjutnya, dokter mengambil gaya dan tindakan memegang leher bayi dan menarik sisa tubuhnya yang masih tersangkut di dalam tubuh dilla.

Alhamdulillah ya Allah. Saya bersyukur melihat anak saya sudah lahir dengan selamat dan sempurna. Lama saya perhatikan bayi itu. Penciptaan sempurna. Sampai-sampai saya tinggalkan Dilla seorang diri saya perhatikan bayi itu. Air mata saya tidak mungkin tidak menetes melihat bagaimana sebuah penciptaan ini yang sangat sempurna ini bisa terjadi.

Dia kecil. Dia merah berdarah darah. Matanya terbuka besar. Tatapannya kosong. Tangannya menuju ke lidah. Dia menggerakkan tangannya sesekali ke mulut. Dia tidak menangis kala itu. Saya abadikan detik-detik dia lahir kedunia ini. Inilah perjuangan hidupnya dimulai.

Dilla ternyata belum selesai. Dilla harus di jahit. Dan itu tidak kalah sakitnya dengan melahirkan. Sesekali matanya tertutup menahan sakit. Doktor memperlihatkan jarum dan benang dan menjahit bagian yang dipotong tadi.

Dokter dengan jarum dan benangnya persis kayak film-film psyco dimana seorang penjahat mempelihatkan jarum atau pisau untuk dia gunakan untuk menyakiti orang lain.

Menjahitpun akhirnya selesai. Dilla tetap saja sakit. Tapi , setidaknya bayi lahir selamat dan sempurna. Itu saja sebuah anugerah yang patut disyukuri.

Tiba-tiba Dilla merintih kesakitan kembali. Dilla pucat. Dia lemas menahan sakit. Saya panggil suster menanyakan apakah ini normal? Suster mengatakan dengan keilmuannya bahwa ini normal.

Tapi rasa sakit itu tidak berhenti. Membuat Dilla semakin pucat. Untuk bicara saja tidak cukup. Suster memberikan obat anti nyeri. Tetap saja sakitnya tidak berhenti.

Jam 10 malam dokter kembali mengecek Dilla. Akhirnya dia mengetahui penyebab rasa sakit Dilla yaitu ada pembengkakan di jalan lahir.

Jam 11 dokter memutuskan untuk melakukan minor operasi di ruangan bedah bersama dokter anastesi. Kita keluarga semua menunggu selama 2 jam. Setelah di operasi, Alhamdulillah Dilla tidak merasakan sakit sama sekali lagi.

Dua hari dirumah sakit, Dilla dan bayi pulang kerumah. Insya Allah Senin menuju ke Langsa. Sekarang pertanyaan adalah bagaimana kami bisa membesarkan amanah ini?

Selamat datang anakku!

20130526-142448.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s