Menjadi Hamil (Perspektif seorang suami)

“Bang garisnya ada dua,” subuh itu, Dilla membangunkan saya dengan perkataannya. “Jadi, Dilla hamil dong? Alhamdulillah!”, saya berkata sambil mengucek-ngucek mata.  Saya lemparkan sebuah senyum kepada Dilla. Dia membalasnya dengan sedikit air mata. Kami sama-sama terharu dengan anugerah ini.

8 bulan sudah semenjak Dilla dikatakan hamil oleh dokter, tubuhnya semakin banyak perubahan. Tapi, trisemester pertama seolah-olah tubuhnya tidak bisa menerima makhluk kecil itu. Muntah, mual, lemas berkali-kali. Pernah sekali, Dilla muntah darah karena tubuhnya tidak terisi sama sekali dengan makanan. Tubuhnya kurus kering seperti tidak sedang hamil. Kondisi ini membuat selera makannya rendah. Sempat-sempatnya tubuhnya turun 4 kilo drastis dalam 1 bulan. Dia tidak sanggup menahan tanggis menghadapi ini. Maklum, anak pertama dengan kondisi dan pengetahuan yang masih minim.

Tapi, Dilla  menjalaninya dengan sangat sabar. Sebagai suami saya tidak bisa berbuat banyak kecuali memberikan nasehat untuknya. Saya sering mengatakan kepada Dilla bahwa inilah kodrat seorang wanita. Ketika kalian bersyukur dengan semua diberikan Allah, maka kalian menjadi manusia yang paling sempurna dan suci di dunia ini. Konsepnya sederhana. Terlahir sebagai wanita, maka kodratnya harus hamil. Tidak dinikmati maka akan menjadi beban. Dinikmati akan menjadi anugerah. Toh penderitaan ini, mulai dari hamil, melahirkan, sampai menyusui semua dibayar mahal kok sama Allah. Allah tidak menyia-nyiakan semua penderitaan kalian. Karena itu Allah memberikan pahala sahid bagi ibu meninggal ketika melahirkan. Subhanallah.

Benar kata orang, suami mengerti apa sih dengan kehamilan yang istri rasakan. Kami sebagai suami tidak akan pernah tahu apa yang kalian rasakan sampai kami menjadi kalian dan merasakan benar-benar seperti kalian rasakan. Dan itu tidak mungkin. Karena itu biarkan kami membantu kalian semampu kami. Karena hanya itu yang bisa kami lakukan.

Bulan demi bulan Dilla meraskan perkembangan tubuhnya. Tubuhnya tidak kecil lagi. Makhluk kecil itu semakin membesar. Karena ini pengalaman pertama kami, maka kami berdua, khususnya saya sering mengobservasi perkembangan Dilla semenjak diawal kehamilan sampai sekarang yang sudah memasuki minggu ke 34. Banyak buku kami baca. Baca informasi kami tanya. Bahkan kalau ada masalah atau sesuatu terjadi saya sering searching di Internet. Membantu sekali. Banyak ilmu yang kami dapatkan. Akhirnya, kami kagum dengan sebuah penciptaan ini. Allah sudah mengaturnya sedemikian rupa. Kejadian ini, kalau kita mau berpikir, maka bertambahlah iman kita.

Tidak hanya informasi dari sana sini kami dapatkan. Kami juga memerika rutin di dokter kandungan. Tapi, saya sedikit kecewa dengan pelayanan dokter kandungan yang selama ini kami kunjungi. Kecewa bukan karena apa-apa. Kami sebagai pasien tidak diberikan waktu yang cukup untuk berkonsultasi dengan dokter. Dokter juga terkadang tidak ada inisitaif memberikan informasi kepada kami kalau kami tidak menanyakannya. Sering sekali dokter memberikan info ketika itu sudah terjadi. Bukan memberikan info untuk preventif.

Pentingnya suami siaga dengan kondisi istri sedang hamil sangat dibutuhkan. Istri hamil mempunyai resiko tinggi terjadi sesuatu. Suami harus bertanggung jawab untuk mengurangi pekerjaan istri. Membantu istri disetiap saat. Mengurangi beban stress istri. Memberikan kasih sayang kepada istri. Apa yang disebut suami siaga? Yaitu suami yang siap selalu disamping istri. Membantu istri tanpa terkecuali. Membelai istri. Mengurut istri. Menasehati istri. Dan yang paling penting adalah mendoakan istri dan anak yang dikandung sehat selalu dalam lindungan Allah.

Dilla sekarang sudah memasuki trisemester ke 3. Prediksi dokter mengatakan Dilla sudah 34 minggu. Kemungkinan besar Dilla Insya Allah melahirkan akhir bulan Mei atau awal bulan Juni, kalau Allah mengizinkan. kedatangan bayi kecil itu sangat kami nanti-nantikan. Persiapan itu kami lakukan dengan membeli perlengkapan bayi, menyiapkan nama bayi. Dan yang terpenting mempersiapkan diri kami berdua menerima amanah ini dari Allah.

Mohon doanya. Mudah-mudahan Dilla bisa melahirkan normal dengan tidak ada kendala apapun. Amin ya rabbal alamin.

________

Inspirasi atas kejadian Dilla tadi siang. Ditelpon dari kantor, tiba-tiba katanya perutnya mules dan muntah-muntah. Sepertinya hanya salah makan. Bukan mau melahirkan.

Advertisements

3 thoughts on “Menjadi Hamil (Perspektif seorang suami)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s