Di harapkan tidak terjadi pada dokter lain

Ketika saya menulis berarti hati ini tidak mau menyimpan masalah ini sendiri karena itu saya ingin berbagi. Bukan maksud untuk di caci. Bukannya juga untuk di hakimi. Saya ingin memberitahukan saja bahwa banyak di luar sana yang bekerja tidak profesional yang merugikan pihak lain.

Berbicara malpraktek maka kita akan berbicara kepada  ketidakmampuan sang dokter dalam memberikan kemampuan ilmu, dedikasi dan skillnya kepada pasien yang membutuhkan pertolongannya dengan merugikan pasien itu sendiri yang bisa berakibat fatal- mengancam nyawa pasien atau cacat seumur hidup.  Kasus yang akan saya ceritakan di bawah ini  menurut saya adalah  malpraktek dimana sang dokter sesuka hati mengambil keputusan melakukan operasi yang ternyata dia belum tahu atau begitu paham dengan apa yang akan dia lakukan. 

Pekerjaan sebagai dokter masih menjadi pekerjaan yang sangat bergengsi untuk negara kita ini. Tetapi, pekerjaan ini  sangat berat dan beresiko  tinggi karena membahas dan menganalisa tubuh manusia yang sangat komplek. Profesionalitas sangat dibutuhkan untuk bekerja sebagai seorang dokter. Memberikan diagnosa salah ataupun memberikan resep  obat yang salah akan berakibat kematian bagi orang lain. Seharusnya menjadi dokter juga bukan paksaan. Disini dibutuhkan seorang dokter yang benar-benar mampu bekerja secara dedikasi yang sangat dalam. Tidak semua dokter terlahir sebagai dokter. 

Kasus yang saya ceritakan dibawah ini adalah kasus pertama yang menimpa keluarga saya. Ada banyak kasus yang  sama yang mungkin Anda  juga mengalaminya. Begini ceritanya. Seorang saudara (sebut saja Andi)  mengalami penyakit batu karang yang membutuhkan pertolongan dokter spesialis urology atau ahli bedah ginjal. Singkat cerita dia dan keluarga ke rumah sakit umum Sigli dengan harapan batu karang tersebut bisa di angkat karena satu-satunya jalan untuk mengangkat batu tersebut adalah dengan operasi. Tanpa berpikir panjang, MOU antara dokter dan pihak keluarga pasien terjadi maka terjadilah operasi tersebut. Keluarga tidak berharap banyak kecuali anggota keluarganya bisa sembuh dan batu karang tersebut bisa di angkat.

Operasi berjalan sekitar 3 jam lebih dengan memberikan hasil NIHIL. Si dokter dan teman dokter bedah lainnnya di dalam ruangan operasi tidak bisa menemukan batu karang tersebut yang sebelumnya dari hasil ronsen juga memperlihatkan ada 3 buah batu yang terpampang dalam tubuh Andi. Dengan keluguannya akhirnya si dokter memanggil salah satu anggota keluarga masuk keruang operasi, yang di saat itu operasi masih sedang berjalan dan perut  Andi masih terbuka lebar alias belum di jahit kembali ( Apa bisa di tengah-tengah operasi anggota keluarga masuk? Apa begitu prosedurnya?) Si dokter dengan gampangnya mengatakan bahwa batu karangnya tidak bisa di temukan. Nah loh? Ngapain aja dok 3 jam di ruangan operasi? Ngopi?

Melihat hasil operasi, semua orang mengira  itu adalah operasi besar dengan belahan yang cukup luas, padahal  tidak perlu seperti itu. Andi juga pernah melakukan operasi yang pertama tahun 2000 dengan penyakit sama dengan hasil belahan operasi hanya beberapa senti saja. Dan ini mengejutkan semua keluarga dan juga dokter rujukan di Banda Aceh. Anehnya lagi, tim dokter tidak memperbolehkan Andi dan keluarga keluar dari rumah sakit sampai 10 hari lamanya. Dan dokter juga dengan kemampuannya mengolah kata ( memperbodoh keluarga pasien dengan kata-katanya) menawarkan solusi lain yang dimana solusi tersebut bisa di perbincangkan seharusnya dengan keluarga pasien sebelum operasi di lakukan. 

Tubuh kita bukan sebagai bahan cobaan, pak dokter?)*)(*&^%$&#@! Si dokter juga akhirnya dengan posisi yang sangat terpojok tidak bisa berkata apa-apa dengan hasil pekerjaannya. Kalau tidak mampu yang mengapa malu mengatakannya, wahai pak dokter! Bukan berarti sudah menyandang gelar kita harus tahu semua, kan! Kalau seperti ini kejadiannya dokter mau bertanggung jawab?

Hasil dari pembicaran dengan Andi mengatakan ada sekitar 8 pasien yang pernah berobat ke dokter ini dengan mendapatkan hasil yang jelek pula. Tidak tahu maksud jelek di sini seburuk apa, tetapi 8 dari pasien yang pernah berobat ke dokter ini menyatakan kekecewaan berat dengan kerja di dokter tersebut. Saya pikir ini bukan lagi kasus human error. Kesimpulannya sangat sederhana dimana si dokter sebenarnya belum mampu menghandle operasi sepert itu, walaupun operasinya kecil tetapi ya kalau tidak bisa yang tidak bisa aja. Tidak perlu di paksa. Dokter harus belajar banyak.  Tetapi mengapa dia begitu berani mengambil resiko sebesar itu? Apakah biaya operasi itu lebih besar dari gaji dia perbulan sehingga dia mengorbankan pasien tersebut? Sebagai catatan, Andi ini berasalah dari keluarga menengah ke bawah. Kalau tidak menjual ini itu, dari mana biaya operasi itu ada? 

Bukan kali ini saya merasa di khianati oleh dokter-dokter di daerah saya. Banyak kasus kasus yang saya dapatkan dan juga Anda dapatkan ( tidak perlu saya bicarakan disini). Kekecewaan saya berujung kepad kehilangan kepercayaan saya kepada mereka. Saya cenderung memilih google untuk bertanya tentang keluhan penyakit saya daripada tanya ke dokter. Saya suka memilih You Tube untuk tahu bagaimana mendapatkan pertolongan pertama dari pada menanyakan itu kepada dokter.

Mengapa ini bisa terjadi? Kita  tidak bisa menyimpulkan semua dokter di Aceh seperti ini. Akan tetapi, banyak kasus yang kita dapatkan di lapangan bahwa dokter kita tidak kompeten dalam menanggani pasien. Bukankah mereka sekolah? Bukankah mereka sempat praktek 2 tahu dia rumah sakit? Terus mengapa pelayanan mereka masih begitu-begitu saja. Banyak faktor untuk menyalahkan satu pihak. Tidak semudah membalikkan telapak tangan menyalahkan mereka. 

 Terjawab sudah mengapa orang Aceh suka berobat ke Penang atau Malaysia? Ini akibat dari segilintir dokter yang bekerja tidak ikhlas atau asal-asalan yang memperburuk reputasi dokter di Aceh. Akhirnya yang terjadi apa? Aceh di penuhi dengan dokter-dokter yang tidak kompeten, malas belajar, tidak mau berkarya dan selalu cepat puas sehingga rasa percaya  kita kepada mereka sudah mulai pupus beriring waktu.

Semua pekerjaan membutuhkan profesionalitas dan dedikasi. Apapun itu yang kita lakukan, maka kita melakukannya bukan karena ada sesuatu tetapi karena kita tahu bagaimana melakukannya. Dosen sebagai contoh lain. Siapa yang di rugikan kalau dosen tidak bisa mentransfer ilmu dengan baik? Siapa yang di rugikan kalau dosen tidak bisa bekerja dengan baik dengan mahasiswa. Semua pekerjaan punya konsekuensi yang jelas. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. 

Life is once. Do the best!

 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s