Generasi kritis?

Semester ini saya diberikan kesempatan mengajar di beberapa kelas dengan jurusan yang berbeda. Tantangan itu muncul ketika saya mau keluar dari comfort zone saya. Ini menjadi sebuah tantangan baru untuk mengajar Bahasa Inggris untuk mahasiswa yang tidak berjurusan Bahasa Inggris. Bukan juga mereka tidak menyukainya akan tetapi ini lebih kepada perjuangan baru bagi mereka ketika mereka belajar bukan dari apa yang mereka fokuskan yaitu keilmuan mereka.

Tetapi, saya sudah bertekat kuat dan bulat kalau mengajar untuk tidak setengah-setengah dan itu artinya saya memberikan yang terbaik dari saya untuk siapapun yang mau belajar dengan saya. Mengajar dengan setengah hati itu sama artinya saya membiarkan hati itu aus dan busuk dimakan waktu karena ketidakikhlasan saya dalam melakukan sesuatu.

Mengajar dengan latar belakang jurusan siswa yang berbeda-beda sangatlah menarik terlepas ini juga tantangan hebat untuk saya. Saya bisa melihat berbagai macam background ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh generasi muda kita untuk memajukan bangsa ini khususnya bangsa Aceh dengan keilmuan mereka masing-masing.

Saya tidak perlu mengetes keilmuan mereka karena saya yakin mereka jauh lebih hebat dari saya. Suatu hari saya ingin diskusi tentang keilmuan mereka dengan pengetahuan dasar saya. Banyak sekali ternyata mahasiswa yang tidak tahu tentang apa yang mereka pelajari di jurusan mereka sendiri. Disini saya mulai ragu dengan generasi muda ini.

Mudah-mudahan ini hanya hasil hipotesa saya yang salah. Saya biasanya mengajak mahasiswa saya untuk mengeluarkan ide mereka di awal pertemuan dengan maksud saya bisa melihat seberapa kuat motivasi mereka untuk belajar dan seberapa kritis mereka.

Hasil dari beberapa observasi kelas yang saya ajarkan hanya beberapa mahasiswa yang kritis dengan apa yang saya ungkap di kelas. Bahkan tidak bisa dipungkiri fenomena mahasiswa diam dikelas itu lebih besar dari mahasiswa yang vocal alias mahasiswa yang mau berbicara. Apakah sistem pendidikan kita mengajarkan sistem banyak diam dari pada berbicara?

Apakah generasi kritis bisa di lihat dari bagaimana peran mereka di dalam kelas? Pertanyaan ini yang menghantui saya selama saya mengajar. Kelas diskusi hanya satu atau dua orang yang mau berbicara. Ketika saya mengajak mereka berbicara selalu ada rasa malu di diri mereka. Apakah kritis itu artinya harus berkoar2 memberikan ide? Apakah kritis itu bisa di dapat hanya dengan diam saja? Mungkin kita mempunyai jawaban yang berbeda akan hal ini.

Saya juga tidak bisa mengatakan setuju atau tidak setuju dengan kritis atau tidaknya generasi kita selama ini. Hasil observasi saya selama ini membuat saya sedikit takut dengan generasi yang hanya diam dan mau menerima apa yang diberikan oleh orang. Atau jangan-jangan generasi kita sudah sedikit apatis dengan keadaan? Banyak akulturasi budaya yang dengan mentah- mentahnya di terima oleh generasi kita tanpa ada filteriasi lagi dari mereka.

Generasi kritis adalah generasi yang bukan pembelot tapi generasi yang bisa mau berbicara demi kebenaran dan ilmu pengetahuan.

Selamat Siang!!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s