Ibu Hasni

Aku kembali membuka mata di pagi ini. Berharap ada malaikat berbisik dan memberikan sebongkah mukzijat untukku. Aku terasa begitu berat di pagi ini, aku tidak mau mengingat dan ingin melupakan semuanya. Ingin tidur panjang dan ketika membuka mata semuanya seperti sedia kala.  Kesal dan harap bercampur menjadi satu menghampiriku  sudah dalam beberapa bulan ini. Aku tertekan batin.

Surat dari kepala sekolahku yang dulu telah banyak mengubah hidupku. Aku tiba-tiba hilang jiwa dan kehidupan, aku telah kehilangan semangat bekerja. Aku lemas menghadapi semuanya. Sebagai manusia yang sedang belajar bijak aku tidak akan bisa menyalahkan kepala sekolahku dahulu dan suamiku  karena memindah tugasku.Tidak ada yang patut aku salahkan karena aku bukan di mutasi sebenarnya, aku hanya pindah tempat saja dari sekolah kota ke sekolah desa.

Aku sangat mencintai suamiku dengan sepenuh hati karena itu aku mau  bersamanya kemanapun dia berada. Kalaupun aku mau menyalahkan kenapa aku di sekolah ini? Mungkin aku akan menyalahkan suamiku, karena dia satu-satunya penyebab aku berada disini. Tetapi, mustahil bagiku menyalahkan seorang pangeran yang telah mendampingiku dunia akhirat hanya karena dia dipindah tugaskan ke desa terpencil seperti ini. Konsepnya sangat mudah. Suamiku pindah dan aku juga harus pindah.

Rasa egoisku memang  tinggi sebagai penduduk kota. Aku bertahun-tahun bersosial dan bekerja di kota. Aku terbentuk dengan kehidupan yang egois dan kompetitif. Aku tidak bisa begitu saja di pindahkan ke sebuah sekolah desa seperti ini. Aku bisa membayangkan mengajar disana yang serba kekurangan. Apakah aku bisa? Tetapi, aku harus bilang apa? Haruskah aku menjumpai bos suamiku dan mengatakan untuk tidak memindahtugas kerja suamiku? Tidak mungkin sepertinya. Aku harus belajar sedikit mengerti dengan keadaan. Ini cobaan perasaan sepertinya yang harus aku hadapi.

Hari ini hari pertama aku melangkah kaki ke sekolah baruku. Walaupun aku belum pernah melihat sekolah baru itu, tetapi bayangan yang aku buat sendiri itu sudah ada di dalam pikiran ini. Semuanya serba tidak bagus. Selalu saja ada harap dibalik kekecewaan ini. Berharap aku bisa berdedikasi sama persis aku dedikasi di sekolahku dahulu. Aku bertekat.  Walaupun hati ini mencoba untuk menerima sedikit demi sedikit, tetap saja semua itu butuh waktu dan proses yang panjang.

“Bang di simpang empat saja ya saya turunnya ya?” Aku mengagetkan penumpang yang lain di bus itu.

Hati ini semakin sedih karena hari ini suamiku tidak bisa mengantarku ke sekolah. Lengkap sudah penderitaanku, bus menjadi alternatif untuk bisa menjangkau sekolah baruku selain motor dan sepeda sebagai alat kendaraan yang sering di pakai penduduk disini

Setelah aku membayar aku berbalik arah menghadap sebuah jalan kecil yang dikelilingi oleh rawa-rawa atau tetapnya hutan. Aku tidak membayangkan betapa banyak binatang yang hidup di tempat itu. Aku melangkah pasti menuju ke jalan kecil itu. Aku harus menemukan sekolah baruku sendiri dengan sebuah sketsa sederhana dari suamiku. Suamiku begitu mengenal tempat ini karena dia pernah di tugaskan beberapa minggu di tempat ini.

Tanpaku sadari, aku melewati gedung demi gedung. Keringatku mulai bercucuran, kulihat jam sudah 15 menit lewat semenjak aku turun dari bus di persimpangan jalan tadi.

“Apakah aku tersesat?”, aku membatin kuat.

TIba-tiba aku melihat sebuah plampet yang sudah mulai lapuk dengan tulisan yang samar-samar. Aku berharap jangan itu ya Allah. Aku semakin mendekat ke pamplet itu. Jantungku mulai mendapat ketukan kencang, kencang dan sangat kencang. Mataku terbuka lebar dengan sebuah tulisan usang “Departemen Pendidikan dan Kebudayan SMP Swasta Mandiri Timur.”

Ya Allah….. Inikah sekolah itu? Sekolah yang akan menjadi tempat pengabdianku?”, aku menangis dengan melangkah lemas masuk kedalam sekolah.

Tidak ada yang indah yang aku lihat, semua serba tidak masuk akal menurutku. Ada 3 bangunan di hadapanku. Semua bangunan ibarat sudah ditinggalkan oleh sang pemilik berbulan-bulan. “Apakah tidak ada bantuan untuk sekolah miskin ini? Kemana pemerintah? Kemana kepala sekolahnya?”, aku berteriak di hati. Semua ibarat kota mati, kelas masih tergembok kuat dengan pintu sudah termakan rayap. Aku melihat 2 siswa dengan pakaian seragam sekolah dengan nuansa lusuh mendekatiku. Sebenarnya mereka bukan ingin menjumpaiku, akan tetapi aku berdiri persis di sebuah ruangan yang merupakan kelas mereka belajar. Bukan sepatu yang mereka kenakan akan tetapi sandal mereka bermain yang sudah sedikit melengkung karena terlalu banyak dipakai menjadi sandal pengganti sepatu mereka.

Aku bertatap kosong, aku buntu, aku apatis dengan apa yang aku lihat. Tidak ada inisiasi atau perencanaan apapun bermain di kepalaku. Aku terduduk lemas disebuah bangku lusuh di sampingku.

” Ibu guru, baru ya disini?” seorang anak mendekatiku. ” Iya, nak”, aku berucap santun kepadanya.

” Kenapa ibu tidak masuk ke ruang guru?

” Guru yang lain belum datangkan?” Saya mencoba untuk memberikan pengertian kepada dia kenapa saya tidak masuk keruangan guru.

” Saya menunggu guru yang lain saja. Ruangan guru masih di kunci kok, mungkin saja sebentar lagi guru lain akan datang,”. Aku menyelesaikan pembicaraanku dengannya.

” Baiklah bu, saya ke kelas ya” dia berucap pelan dan segera pergi.

Tidak ada siswa yang keren dengan tas dan model jilbab yang bagus, tidak ada satupun bermacam kendaraan seperti di sekolahku dulu, apalagi mobil indah yang berderat di depan sekolah. Tidak ada ruangan yang indah tertata rapi dengan pot bunga dan pohon rindang. Semuanya berbanding terbalik ddengan sekolahku dahulu. Apakah aku mampu beradaptasi dengan ini semua? Pertanyaan itu yang mengerogotiku terus.

Mataku tertuju kepada si anak tersebut. Aku bisa membayangkan bagaimana kehidupannya dari cara dia berpakaian, walaupun 100 persen tidak tentu benar, aku yakin anak tersebut dan siswa yang bersekolah di sini adalah siswa kurang mampu dengan semuanya sealakadarnya. Rasa egoisku mulai sedikit menurun. Aku selalu ingin disanjung dengan pekerjaanku sebagai guru di sekolah favoritku dulu. Aku selalu ingin orang lain tahu bahwa aku hebat dengan bentuk prestasiku. Tetapi, rasa sombong itu ternyata di balas Allah dengan penempatan aku di sekolah ini. Aku keliru tentang hidup ini. Aku terlalu angkuh mungkin selama ini. Apa yang bisa aku sombongkah di sekolah ini? Apa? Perasaan ini terus berkonflik, aku tahu ini hal wajar ketika semunya berubah total dari kebiasanku selama ini. Apa yang bisa aku lakukan kecuali beradaptasi dan memberikan yang terbaik untuk sekolah ini. Aku tidak butuh ilmu yang tinggi mengajar disini karena aku yakin siswa tidak butuh itu. Aku hanya ingin memberikan motivasi bagi mereka, semangat hidup untuk bisa meraih masa depan yang lebih cerah lagi untuk mereka.

Satu persatu siswa memasuki halaman sekolah dengan semangatnya, tidak ada kendaraan mewah seperti yang saya bilang, cuma ada sepeda usang terparkir di sebelah selatan gedung, persis di depan kantin bergubuk kayu.  Halaman sekolah di tumbuhi rumput yang semakin panjang. Terlihat rumput yang mati akibat bekas tapak siswa. Aku melangkah menuju ke ruangan guru dengan seorang ibu tua yang membawa senyuman untukku dengan ayunya dia mengucap salam, ” Assalamualaikum Ibu? Ibu Hasni ya? Guru Matematika baru di sekolah ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s