Ini yang namanya hidup

Tubuhnya yang gempal melambai yakin di depan kampus itu. Tatapannya netral dan misteri selalu menyelimutinya. Setiap saya mengajar di kelasnya, tidak ada canda dan tawa yang dia lepaskan dengan teman-teman lain di kelas. Dia diam dan selalu banyak diam. Ketakutan dan malu sering menyetubuhi tubuhnya ketika saya menanyakan sesuatu kepadanya. Dia tidak yakin dengan apa yang dia ucap sehingga dia sering melihat temannya dengan maksud memohon pertolongan.

Semester ini, untuk kedua kalinya saya bertemu dengan sosok wanita itu. Dia tidak begitu pintar seperti mahasiswa lain, dan bukan berarti dia bodoh. Karena saya tahu bahwa Allah tidak pernah menciptakan manusia dengan segala perbedaan. Pikiran tentang kehidupannya yang menguras semua energi kehidupannya.

Rasa keingintahuan saya akan dirinya semakin dalam. Dia introspert, sangat tertutup. Ada kehidupannya yang mungkin saja tidak mau diketahui orang lain. Ketika temannya berdiskusi di kelas, dia tetap saja diam.

Untuk menambah keakraban dengan mahasiswa biasanya di awal-awal pertemuan saya sering menanyakan bagaimana kehidupan mereka dan kegiatan mereka sehari-hari. Selain bisa mengorek kehidupan mereka, saya ingin hubungan saya dan mahasiswa terasa lebih dekat. Akhirnya saya menanyakan sebuah pertanyaan kesosok wanita pendiam itu.

“Sekitar 30 menit dari rumah dengan menggunakan kendaraan umum karena saya tidak punya motor pak”, begitu dia menjawabnya dari pertanyaannya saya.

Jaman sekarang motor mungkin bukan barang mewah lagi, akan tetapi semua orang menggunakan motor untuk mobilitas kesana kemari terlepas kaya atau miskin mereka. Hanya dia yang masih menggunakan kendaraan umum ketika teman-teman yang lainnya menggunakan motor ke kampus. Tidak ada yang aneh saya pikir saat itu.

Pertemuan selanjutnya dia datang lebih awal dari teman-teman lainnya. Sehingga dia sendiri di ruangan kelas. Kesempatan itu saya menanyakan yang lebih privasi tentang kehidupan dia.

“Dari tempat kamu ke kampus berapa ongkos kamu habiskan”, pertanyaan iseng keluar dari mulut saya. ” 2000 rupiah pak, 2000 pergi dan 2000 pulang”. Orang tua saya memberikan saya uang 5000 sehari”. Ada uang lebih 1000 rupiah biasanya saya simpan”. Biasanya kalau kuliah sampai sore saya bawa nasi, tidak pernah saya jajan di kampus pak. Saya menyimpan uang lebih itu pak,”begitulah dia menjawabnya.

Tiba-tiba teman lainnya berdatangan, dan saya langsung menghentikan pertanyaan lainnya yang sebenarnya masih begitu banyak yang saya ingin tanyakan. Setelah mengajar usai, saya menahan dia untuk tidak pulang dulu, karena saya ingin sekali mengetahui kehidupannya. “Ada sesuatu yang lain,” begitu yang saya pikirkan saat itu. Setelah teman yang lain sudah pulang semua. Mulailah satu persatu saya tanyakan pertanyaan untuknya.

” Bapak kamu kerja apa?” Pertanyaan yang mengawali pembicaraan kami. Air matanya langsung membasahi bumi.

“Bapak tidak bekerja lagi pak, beliau sakit. Sakit Diabetes baru juga di bawa pulang dari rumah sakit,” begitu suara lirihnya keluar.

Air matanya terus mengalir, sepertinya dia terasa sangat pedih dengan kehidupan orang tuanya.

“Dan ibu kerja apa?” kembali saya bertanya. “Ibu tidak bekerja juga. Kalau dulu bapak yang bekerja dayung becak, dan sekarang di rumah tidak ada yang bekerja lagi”. Dia menyapu air matanya. ” Alhamdulillah bapak berobat kemarin bantuan JKA (asuransi buat orang tidak mampu), dan sekarang berobat di klinik di kampung pak sekali berobat 35 ribu”

Air mata ini terasa ingin keluar begitu saja mendengarkan ceritanya. Dari cerita itu saya bisa membayangkan betapa sulitnya kehidupan dia dan keluarganya. ” Jadi bagaimana dengan biaya sehari-hari dan sekolah adik-adik kamu?” Saya menambahkan pertanyaan lain untuknya. ” Untuk tahun ini ada bantuan dari kampung pak, sebesar 500 ribu per 3 bulan dan ada bantuan dari Qatar charity 1.000.000 per 3 bulan juga, dan di mulai tahun ini pak. Saya bekerja menanam sayur-sayuran biasanya saya dapat 100.000 ribu sekali panen pak”.

1 500.000 ribu per 3 bulan? Dia mempunyai adik sebanyak 5 orang dan alhamdulilah kesemua adiknya bersekolah. Bagaimana mereka hidup dengan biaya sebesae itu selama 3 bulan? Pertanyaan itu yang bersarang di kepala saya setelah mendengar sebuah ceritanya. Allah maha Adil, itu pasti!.

Untuk tahun pertama dia mendapatkan beasiswa kurang mampu di kampus, untuk tahun kedua dan selanjutnya dia sepertinya harus kembali bekerja keras untuk bisa meneruskan pendidikannya dan adik-adiknya.

Pengalaman itu menambah kekayaan jiwa saya lagi. Tidak perlu mengeluh dengan kehidupan kita ketika kita tidak bersusah payah seperti pengalaman mahasiswi saya. Kita tidak perlu mengeluh ketika kendaraan yang kita punyai bisa membawa kita kemana-mana. Tidak perlu mengeluh ketika orang tua bisa menyediakan uang jajan dan biaya pendidikan untuk kita. Tidak perlu mengeluh ketika melihat orang tua kita sehat dan hidup dalam kenyamanan. Hidup harus sering melihat. Melihat ke atas supaya kita termotivasi untuk bekerja. Melihat kebawah supaya kita bisa mensyukuri betapa luar biasanya hidup kita ini.

Advertisements

One thought on “Ini yang namanya hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s