Miss C

Ini ceritanya ketika saya dulu waktu di US. Jadi gini ceritanya. Setiap musim awal kuliah, mahasiswa kudu sibuk urus sana sini mendaftarkan mata kuliah. Ketika itu saya terhalang satu masalah yang mengharuskan saya tidak bisa mendaftar mata kuliah sebelum masalah tersebut diselesaikan. Biasalah masih jiwa muda, kalau ada masalah kayak gini yang seharusnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin bahkan diselesaikan dengan teh dingin (nah loh apalagi ini). Iya sering emosi menghadapi masalah seperti ini. Merasa dipersulit saat itu sehingga akhirnya saya berbicara dengan staff akademik di jurusan.

Awalnya datang dengan baik-baik berharap cewek yang di staff tersebut bisa mengizinkan saya mendaftarkan kuliah. Damn! katanya saya tidak bisa segampang itu mendaftar. Saya harus ketemu si pulan ini lah si pulan itu lah. Harus ke bagian registrasilah untuk membicarakan masalah ini.

Pokoknya urusannya ribet banget. Sedangkan batas waktu daftar mata kuliah tinggal dua hari lagi. Itu artinya kalau tidak mendaftar ketika itu urusan semakin panjang dan lama.

“Sabar “, saya bisik dalam hati. Damn! tiba-tiba aku mengganas. Nada bicara saya sedikit tinggi ke cewek yang di bagian akademik itu. Tanpa terkontrol. Saya marah. Tetapi yang kerennya adalah saya marah dengan Bahasa Inggris yang super keren. Saya tidak menyangka ketika saya marah saya menjelma bule dengan English yang super duper cool. “Dont make hard for student who come here”, saya bangun dari duduk dan langsung keluar. Weisss, berasa kayak aktor di pilem-pilem gitu sedang akting.

Ya udah, saat itu saya pulang seolah-olah tidak terjadi sesuatu. Si cewek bule itu, pastinya, kayak terkena petir tiba-tiba gitu. Dia yang hanya menjalankan tugasnya mengurusi mahasiswa, tiba-tiba ga ada angin, hujan bahkan huricane saya datang marah-marah kedia. Apa yang ga stress dan darah tinggi tuh bule.

Nah, si cewek bule ini ternyata tidak bisa terima diperlakukan seperti itu. Diam-diam dia melaporkan kejadian ini kepada kepala sponsor alias kepala Students Sponsor Program di kampus. Minta keadilan gitu lah ceritanya.

Jadi selain ada sponsor yang memberikan duit juga ada sponsor yang dikampus yang ngatur semua urusan perkulihan. Nah si cewek ini ngelaporin ke Miss. Cook, kepala geng sponsor di kampus. Umurnya udah sedikit jauh alias tuir. Cerewet banget. Kalau dia udah ngomong ibarat kumpulin cewek 10 yang lagi berbicara. Kalau keruang dia aja pasti ada aja yang dikritiknya. Bukan memberikan semangat. Sebaliknya, kesalahan kita diungkit satu persatu-persatu. Jadi selama di US, manusia yang paling tidak mau  di jumpai adalah si Miss Cook ini. Kalau dikasih uang sekalipun.

Suatu hari saya harus ketemu Miss Cook. Tidak ada pilihan, karena saya butuh tanda tangannya untuk urusan surat menyurat untuk sponsor yang memberikan dana. Kalau di Indonesia sudah saya palsuin deh tanda tangannya. Di US, ketahuan memalsukan tandatangan bisa berujung ke penjara.

Pertemuan saya dengan Miss Cook dan kejadian saya memarahin cewek staff akademik itu sudah lama sekali.  Berkisar 7 bulan. Itu artinya saya sendiri sudah melupakan kalau kejadian itu.

“Hi…Miss Cook, How are you?” Basa basi yang paling basi ketika saya melangkah masuk keruangannya. WTH! Ini ruangan atau apa sih. Kertas berserakan.  Ruangan tidak keurus sama sekali. Kayak rumah yang ditinggalin udah setahun.

Dia kepala sponsor yang mengurusin mahasiswa internasional. Dia banyak mendapatkan hadiah dari mahasiswa dari berbagai negara. Saya perhatikan satu persatu cindera mata yang ditempel di dinding ruangannya. Tidak ada satu pun yang berasal dari Indonesia. Apakah tidak ada satupun orang Indonesia yang mau memberikan kado atau cindera mata untuknya?  Mungkin aja banyak mahasiswa Indonesia yang sakit hati kali ya sering di ceramahin.  Ahh, siapa peduli dengan urusan cinderamat ini.  Yang penting saya harus dapat tanda tangannya dan langsung menyingkir jauh.

Saya menarik sebuah bangku dihadapan sebuah meja yang berisikan ribuan kertas-kertas. Meja itu tidak ada tempat kosong lagi untuk digunakan. Mejanya lumayan besar. Semua kertas-kertas dari tahun berapa sudah ada di meja itu. Sengaja dibiarkan begitu saja sepertinya atau si Miss Cook itu tidak ada waktu untuk membersihkannya. Untuk lebih gampang mencarinya kali ya. Kali aja dokumennya dikumpulin semenjak kampus Texas A &M University dibangun kali ya, seabad yang lalu. Pernah ke percetakan? Nah beda-beda tipislah ruangannya dengan percetakan.

Disaat saya masuk, Miss Cook membelangkangi saya yang masih sibuk dengan urusan komputernya. “Wait”, nada keras keluar dari dirinya.Tidak lama kemudian dia membalikkan badannya dan itu artinya urusan dengan lepinya udah selesai untuk sementara. Tidak lupa dia mengambil secangkir kopi kesukaannya.

Teman-teman senior yang sudah banyak sekali diceramahin oleh Miss Cook ini menceritakan untuk mengambil hati si Miss Cook dengan memberikan kopi atau rokok cuma-cuma. Ini Wanita bukan sembarang wanita. Wajahnya tidak pernah membawa kedamaian. Perasaan kalau udah jumpa si wanita ini, jantung berhenti sejenak. Bukan tidak beralasan. Dia punya hak untuk memulangkan saya atau siapa saja kembali ke Indonesia kalau tidak mendengar apa yang dia katakan. Dan kalau semua urusan sudah diurusin sama dia, rektor yang punya hak tertinggi juga tidak bisa berkata apa-apa. Gila! Kekuasaannya tidak terbatas kayak presiden. Preman kampus!

“Iqbal, I need to talk with you about one thing,” dia membuka pembicaraan dengan mukanya semakin tidak enak untuk dilihat. Di tambah keriput menyelimuti tubuhnya, lengkap deh ga ada asyik-asyiknya. Firasat saya semakin tidak enak dengan kalimat pertama darinya. Kalau jantungku awalnya berdegub sekali ketukan sekarang 3 ketukan. “Apa lagi sih wanita,” Bisikku dalam hati. Kalau udah ngomong sama dia ajah pasti deh ada saja yang kesalahan kita di sebutin satu persatu. Entah dari mana dia tahu kesalahan kita sampai kalau ketemu dia aja pasti deh banyak banget list-list detail kesalahan kita disebutkan. Kalau sudah ketemu dia kayak jatuh ketimpa tangga dan tangganya rusak. Siap-siap kena down syndrome habis ketemua dia. Butuh paling tidak 10 hari untuk kembali sehat.

“Iqbal, what did you say to the woman that you were angry with,” dia melanjutkan pertanyaannya kepadaku. What? Perasaan ini kasus udah lama banget deh. Ini wanita pada ingat aja. Detektif kalau udah ngurusin kasus yang udah lama banget pasti deh udah ga selera lagi. Ini beda banget sama si wanita ini. ” I did not know what you are talking about,” aku pura-pura kayak anak kecil imut yang tidak bersalah gitu.

“I know you knew it but you pretend not knowing that,” tanpa titik koma kalimatnya kayak kena pukulan kungfu master bertubi-tubi. Kayak dikejar penjahat dan anak mudanya tersedutkan di sudut bangunan. Skak mat habis. Akhirnya saya mengakuinya untuk mengakhirinya. Dan sebagai lelaki yang gantle and handsome, saya minta maaf atas kesalahan. Cuma mau cepat-cepat aja kasus ini di lupain sama dia. Jantung jangan ditanya lagi harus berdegub berapa kali dalam sedetik. Kalau si Miss Cook lagi ga mood bisa-bisa saya di suruh angkat koper pulang ke Indonesia gara-gara secuil ini. Tapi, Alhamdulillah dia lagi mood bagus. Cuma memberikan nasihat saja.

Miss Cook Miss Cook. Tapi kangen juga sama kamu.

Reminding of that sweet memory during US Journey
9 November 2012
Advertisements

2 thoughts on “Miss C

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s