Dilla, Istriku…

Siang itu, Dilla mengeluhkan lemas kepadaku. Semenjak kita berdua, baru kali ini aku mendengarkan keluhan lemas dan capek darinya. Pakaian kantornya juga masih begitu utuh ketika dia merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Tidak pikir panjang, aku menyimpulkan ini adalah satu akibat dari kejenuhan di kantornya. Dia sering mendefinikan suasana kantornya dengan “hell”. Dan itu artinya kantornya seperti neraka jahaman dengan segala kepentingan, korupsi, keserakahan, dan keegoisan. Kalau kantor sudah berubah menjadi neraka maka wajar kalau setiap staffnya tidak akan bisa bekerja kecuali kalau bukan untuk uang dan uang.

Setiap harinya, ada saja masalah yang di ceritakannya kepadaku yang berkenaan dengan kantornya: partner yang tidak bersahabat, kerjaan yang bertumpuk, bos yang tidak kenal kompromi. Yang paling mengherankan adalah ketika orang lain libur di weekend, mereka tetap saja nongol di kantor atau terkadang sering tugas luar kota di hari libur. Heran!!! Bahkan Dilla sering mengeluhkan sikap si bosnya yang membuat peraturan dengan alanya sendiri. Hufff.

Hari ini aku menemukannya terkapar tak berdaya. Aku memegang kepalanya. Panas badannya meninggi. Tubuhnya pucat, tidak ada satu makananpun di hari itu yang memasuki tubuhnya. Tidur! itu kata yang terucap dari mulutnya yang kecil dan manis. Aku berpikir ini adalah sakit biasa karena kecapean atau fatique yang mendalam karena kerjaan.

Di lain waktu, aku menemukannya terkapar yang kedua kalinya. Pembawaannya lemas dan tidak bergairah sama sekali. Tidur atau istirahatlah yang dia ingin lakukan sepanjang hari. Bahkan tidak sedikit makanan pun masuk kedalam tubuhnya. Dia mengatakan bahwa ada sesuatu hal yang aneh di tubuhnya.

Aku belum berpikir yang aneh-aneh dengan apa yang dia rasakan saat itu. Sehingga pada suatu hari ada yang mengatakan,” Coba test pack aja, mungkin kondisi badan Dilla lemas selama ini di karenakan Dilla sedang hamil muda,” begitu kata salah seorang keluargaku.

Akhirnya kami membeli dua test pack. Setelah membaca instruksi dari Test Pack yang kami beli, akhirnya Dilla menggunakan test pack tersebut di waktu pagi karena bisa menghasilkan hasil yang sangat akurat. Saya masih ingat saja saat itu ketika dia membangunkan saya dan mengatakan bahwa dia mendapatkan 2 garis yang artinya dia hamil. Masih belum begitu yakin akhirnya di pagi yang kedua, Dilla mencoba menggunakan test pack untuk kedua kalinya dan tetap menemukan 2 garis yang sama.

Senang, bercampur khawatir menerpa kami. Walaupun kami belum memeriksa kedokter untuk kejelasan yang lebih pastinya. Tetapi, sebagian orang mengatakan hasil test pack itu sangat akurat. Dan itu artinya Dilla hamil muda. Kami dilanda rasa binggung dan senang secara bersamaan. Apa dan bagaimana dengan ini semua. Life is never be the same semenjak itu.

Perubahan dalam tubuhnya terus terjadi. Hormonnya sangat fluktuatif. Ini sangat wajar karena ada “makhluk kecil” di tubuh Dilla yang sedang beradaptasi. Dilla beradaptasi dengan kehadiran si janin dan si janin juga masih beradaptasi dengan kehadirannya di tubuh ibunya. Akhirnya kami pergi ke salah satu dokter di Banda Aceh pada tanggal 13 Oktober 2012 untuk memastikan saja. Alhamdulillah, hasil dari pemeriksaan USG memperlihatkan bahwa Dilla sudah hamil selama 6 minggu. Itu artinya, perjuangan dilla masih baru saja dimulai.

Mual, muntah itu hari-hari yang sering di laluinya semenjak dia mengetahui dia hamil.  Kalau sudah muntah, badan terasa lemas, dan tidak sanggup untuk makan kembali. Sedih!

Tubuhnya semakin aus, kurus kering. Dia juga tidak menginginkan ini terjadi, hidupnya tidak semangat. Banyak waktu dihabiskan selain di kantor adalah di tempat tidur. Karena tidur adalah jalan terbaik untuk menghindari mual ataupun muntah yang dia alami. Semua energy seolah-olah hilang begitu saja ketika dia muntah. Yang paling menyedihkan adalah Dilla sering mengeluhkan mual setiap saat setelah dia makan, tidak lama kemudian dia memuntahkan semua makanan yang di makannya. Obat anti-mual dari dokter juga tidak bekerja dengan efektif.

Hati ini semakin miris  dan tertohok ketika suatu hari dia menangis kesal karena dia tidak sanggup menahan mual dan muntah seharian terjadi. Dia ingin mengakhiri semuanya. Bagi seorang suami seperti saya, pengalaman ini menjadi pengalaman baru apalagi ini adalah untuk anak yang pertama. Selain istri yang mengalami beratnya perjuangan mereka selama masa kehamilan, seorang suami juga harus siaga, dan membantu istri dengan segala kondisi. Yang pasti kesabaran dan doa.

Dilla juga sering iri melihat kondisi temannya yang hamil yang tidak mengalami nausea atau mual yang seperti dia alami. bahkan sekarang tubuhnya bak tidak sedang mengandung sama sekali. Niat untuk memberikan nutrisi yang terbaik untuk janin sepertinya harus membutuhkan sedikit perjuangan dan kesabaran. Bukan Dilla tidak mau peduli dengan itu semua, akan tetapi kondisi mual dan muntah membuat dia sedikit apatis dengan keadaan. Disaat saya menulis tulisan ini, dia sudah terkapar lemas di tempat tidur. Semua makanan yang dia makan tadi: ikan bakar, kentang goreng, pisang, dan air putih semuanya termuntahkan hebat. Ini tidak terjadi sekali akan tetapi berkali-kali.

Semenjak itu, google adalah teman yang terbaik untukku. Banyak hal yang aku dapatkan bagaimana memberikan yang terbaik untuk 3 bulan pertama kehamilan yang merupakan sangat penting untuk perkembangan janin. Semua artikel tentang kehamilan aku lahap. Karena banyak sekali ilmu baru yang aku pelajari dengan kejadian ini. Tidak lupa juga sering berbagi cerita dengan teman lain. 

Istilah surga di bawah telapak kaki ibu berhak disandang oleh mereka. Dengan melihat apa yang sedang Dilla rasakan sekarang ini, maka sudah sepantasnya wanita mendapatkan predikat manusia terhebat yang ada dimuka bumi ini. Perjuangan berat wanita tidak berhenti begitu saja, setelah 9 bulan mereka mengandung anaknya, harus mengalami proses kelahiran yang juga membutuhkan tidak sedikit perjuangan. Perjuangan yang mempertaruhkan nyawa.

Suami tidak bisa merasakan apa yang sedang di alami istrinya. Suami tidak akan bisa mengerti dan merasakan apa yang dirasakan oleh istri sampai kita menjadi mereka yang melihat sesuatu dengan sudut pandang mereka. Karena apapun ceritanya, suami benar-benar harus lebih sabar dibandingkan istri, karena kehadiran “makhluk keciil” adalah moment terpenting yang harus benar-benar di syukuri. Kata orang “Nikmati saja moment2 ini”.

 

Waduh benar-benar kaku banget nulisnya.

Benar kata orang “practice makes perfect”.

 

31 Oktober 2012

Week 9 of fetus in the womb.

Advertisements

8 thoughts on “Dilla, Istriku…

  1. hahahah,, seulamat beu,,, hana peu22 nya,,, biasa cih cuman 3 buleun,, selanjutnya tip ureung inong beda2,, yg penting iqbal sabar,,, salam dr kel di CS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s