Rindu Iblis- Reposted

Terduduk beku di bangku lusuh era tahun 80-an, mencari inspirasi untuk tugas kuliah yang semakin merajalela dan semakin terpaksa, ternyata pikiran ini menjalar ke negara asia yang paling aku cintai, dimana tempat aku lahir, iya tepatnya aku sedang memikirkan kampong halaman ku, rindu, mungkin itu yang lebih tepatnya.  Pikiran ku bergembira, mengorak senyum, memuncah-muncah, melompat-lompat membayang semua kegiatan yang aku lakukan di kamar ku dulu. Aku sadari mimpi tetap lah rekayasa khalayan yang tak kunjung datang.

Menangis, tersungkur merebah kan tubuh bersama bayang, mengingat semua kenangan yang tak akan kembali menyemput. Ku fokus kan pikiran ini untuk tujuan awal, semakin ku paksa semakin gila aku dibuat nya. TUbuh kekar ku berada di dimeja dan kursi lusuh ini tetapi jiwa ku tetap dikamar itu, kamar kecil berhamburkan asa-asa, keriaan, kegirangan dan semua kenangan bersama mereka, iya bersama mereka yang aku cintai hanya dengan hati.  Itu mungkin yang dinamakan kerinduan setan, yang tak peduli apa yang terjadi.

Entah lah, pikiran itu hanya penyejuk jiwa sesaat yang dilanda kerusuhan hati, hati  terancam kesendirian di negara kapitalis yang sudah bisa siap menghadapi kehancuran. Baru kusadari, sendiri itu pedih, sakit, terpukul, teraniaya, terajam, tersiksa dan  terbekam didalam tubuh yang menimbulkan sakit tak tertahankan.

Mungkin saja, ini awal dari pendewassan pikiran dan juga fikrah ku untuk kembali merenungi kehidupan yang semakin lama semakin menyendiri dan terisolasi. Bukan suatu alasan untuk menolak yang akhirnya kita nanti juga akan hidup sendiri, terikat  bersama cacing-cacing tanah, rayap-rayap kayu atau pun akar-akar tua yang menua dia tanah tuhan. Dan ternyata  manusia adalah makhluk berwajah  reclusive berhati sosial, itu yang aku pahami.

Sesekali ingin ku hiburkan hati ini dengan alunan suara-suara ciptaan manusa, ku dalami isinya, ku pahami setiap untaian katanya, ribuan alasan aku lakukan hanya untuk sebuah kalimat “Aku hanya  sedang rindu”. Hati terus menggebu-gebu, bergetar-getar, tercekik, terbalut kapas putih bersama  sang waktu yang terus memaksaku untuk berjalan dan berlari bersamanya.

Terkadang aku bernangis bersama malam, bersama angin-angin bersuhu minus, menangis bersama rumput-rumput yang selalu setia mengusap air mata ku dan membelai kesendirianku.  Hanya mereka yang menjadi penawar kegelisahan pikiran, jiwa dan ruh ini. Mereka hanya diam, tetapi cukup membuat aku tersenyum. Mereka hanya menghembus dan membisik, tetapi cukup bagiku untuk melepas rindu yang semakin tersiksa.

Aku terus menyalami malam dipelukan angin kota ini. Tidak aku pahami, mengapa kota ini terlalu egois untuk hanya hidup sesaat di muka bumi ini, mengapa kota ini terlalu memaksa untuk meraih semuanya apa yang ada di ranah tuhan ini. Seandainya mereka  tahu, keserakahan, kerakusan, ketamakan dan  keegoisan  awal dari kehancuran diri dan jiwa yang terkungkung bersama nafus-nafsu sang  pendewa iblis di penghunjung malam.

Keikhlasan ku sudah habis, aku bosan dengan kesendirian yang hanya berujung kematian ruhaniku. Aku tidak  di didik untuk egois, aku tidak diajarkan untuk merangkul semua bumi. Ayah dan ibuku mengajarkan aku untuk selalu memberi walaupun itu kecil. Tetapi mengapa, mengapa mereka selalu memainkan peran keegoisan setiap gerak langkah nya.

Tulisan untuk sang perindu yang merindukan kerinduan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s