Lebaran tanpa lontong dan keluarga?

Aku seharusnya bersyukur ketika hari nan suci tahun ini aku bisa merayakan Lebaran bersama keluarga tercinta. Teringat, tahun lalu, aku harus menangis darah ketika harus menyadari bahwa aku menghabiskan lebaran seorang diri, di kelas pula. Semua yang pernah merantau maka akan pernah merasakan ketika dimana semua keluarga berkumpul sedangkan Anda harus seorang diri di kost. Pulang shalat Idul Fitri langsung tidur kembali. Persis anak terbuang gitu. Tidak kebayang, ketika keluarga kita nun jauh disana sedang ketawa-ketiwi, sambil makan lontong, sedangkan Anda hanya menangis darah di kamar sambil makan angin.  Sedih banget!

Ga enak banget kalau lebaran dinegeri orang seorang diri, walaupun ada teman-teman sebudaya dan sebangsa. Pastinya tetap aja beda. Karena suasana dan nilai itu tidak didapatkan itu selain di dalam keluarga.  Jadi pernah ketika tahun pertama saya di US. Malam takbiranya neh. Harus bela-belain putarin You Tube. Untungnya takbiran di You Tube enakan dikit dari Uje. Jadi rasa sedih itu bisa sedikit terobati lah ( walaupun masih harus mengusap air mata). Mau dengar takbiran disini? Kagak ada. Boro-boro takbiran. Mereka takbiran aja kayak azan. Jadi nuansanya benar-benar ga dapet. Bukannya tambah semangat dengar takbiran di mesjid, tapi menambah panjang daftar kesedihan.

Terus bisanya kalau udah pulang shalat, tradisi kita-kita kan pada sungkem sungkeman sama keluaga. Nah kalau lo pulang shalat langsung kuliah lagi gimana? Mau sungkem sama siapa coba? sama dosen lo? Itu dia yang sedihnya, kalau pas lebaranya ada kuliah pula. Ribet dah. Pertama, harus minta izin sama dosen. kalau dosennya baikan mau ngasih, tapi kalau ga?  Kedua, kalau pas lebaran ada ujian, atau presentasi, atau quiz, atau apalah yang wajib ke kampus. Nah itu dia sakit banget ini hati. Udah shalat takbiran lewat, ini malah kekampus, memeras otak menjawab ujian-ujian ga penting. Ketiga, yang paling sedih adalah ketika di kelas kayak mayat hidup gitu. Suntuk habis, dengerin dosen, tapi pikiran keingat keluarga dan lontong dan Timphan. Kalau begitu posisi Anda, Selamat, maka Anda mendapat julukan orang yang paling kasihan di hari lebaran. Dan yang paling sakit dari kesemuanya adalah lo dan nungguin dosen 30 menit dikampus dan si dosen ga datang. Beuhhhhh. Pedis banget ga. Udah nungguin, ga ada dosennya pula. Sakitnya double banget. Sakit hati dosen ga datang ( udah bela-belain), sakit hati hanya bisa ngimpi makan lontong bareng keluarga, dan sakit ga bisa ikut shalat takbiran.

Biasanya teman-teman yang udah pada lamaan di Amerika sudah sedikit mengerti proses mengakali bagaimana lebaran lebih asyik. Biasanya mereka pada berbondong ke KBRI. KBRI menyediakan menyediakan masakan khas Indonesia. Dari lontong, oper ayam, kue-kue. Pokoknya macem-macem deh. Pernah juga sekali di ajak sama teman ke KBRI untuk shalat Ied Adha dan makan-makan disana. Dalam hati saya membathin, ‘” Pantes aja kenapa orang sering banget ke KBRI kalau lebaran lebaran kayak gini. Gila makanannya bok. Semua ada. Bisa mewakili kerinduan makanan Indonesia. Tapi, itu tadi, ke KBRI ga segampang kayak kepasar. Kalau ada yang ajak bakalan asyik benar, kalau tidak, ya sudahlah.

Advertisements

One thought on “Lebaran tanpa lontong dan keluarga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s