Tukang Pangkas Idolaku…

Pagi Banda Aceh tidak begitu menusuk di hari ini . Sepertinya alam mendengarkan keluh kesah manusia yang sudah depresi dengan panas yang membara membungkus bumi. Adem itu yang aku rasakan setelah beberapa bulan Aceh ditimpa dengan kemarahan matahari. Aku melangkah keluar, ku hirup udara yang sangar bersahabat. Jam menunjukkan 9:30 pagi, aku harus pergi karena ada urusan yang harus aku kerjakan sebelum libur lebaran.

Kenderaaanku berlari santai memadati ruas jalan. “Ada yang aneh”,bisikku didalam hati. Mengapa jalan sudah mulai lenggang banget.” Tidak lama langsung pikiranku menyimpulkan, “pantes ini, suasana 2 hari menjelang lebaran”. Tidak biasanya aku ingin berlama-lama dijalan. Langit berawan dengan menumpahkan angin dinginya kebumi. Benar kata orang ketika bumi adem otak dan hati ini juga adem. Sebenarnya aku keluar untuk melakukan urusan, akan tetapi urusannya tidak bisa diselesaikan karena ada sebuah kantor yang harus kukunjungi sudah benar-benar tutup karena liburan leberan. Tetapi, perasaan hati ini tetap adem aja, tidak ada rasa jengkel atau apalah.

Akhirnya aku putuskan melakukan pekerjaan lain yaitu memakas rambut. Toh lebaran juga mau dekat, walaupun ibadahku kali ini tidak sempurna seperti yang aku harapkan, setidaknya penampilanku harus sempurna di hari nan suci nantinya. Sudah kuduga, tempat bangkas pada rame banget dengan orang-orang yang ingin mempercantik diri. 4 tempat pangkas aku masuki, tetap saja antrian bak ular melingkar. Memang Ramadhan adalah sumber rejeki bagi orang-orang. Bagi tukang pangkas, ketiban rejeki kalau udah mau lebaran kayak gini, begitu juga dengan penjual baju atau kue. “Allah Maha Adil,” itu yang ada dibenakku.

4 tukang pangkas, bayangkan saja. Hasilnya nol. Tadinya mau memutuskan langsung pulang, toh jam sudah menunjukkan 10:45, itu artinya 1 jam 30 menit lagi mendekati Jumatan. Tapi, akhirnya aku memutuskan untuk pangkas di depan sebuah masjid yang sering aku kunjungi, selain dekat rumah, aku juga sudah lama ingin memangkas disitu, Tapi, baru kali ini realisasi itu terjadi, Sebenarnya aku juga mengenal tukang pangkasnya. Aku juga ingin mencoba gaya pangkas di tempat itu, dan harganya juga lebih murah 5 ribu dari biasanya. Kenapa beda? Karena tempatnya dan fasilitas mereka standar dibandingkan dengan tempat pangkas lain yang benar-benar memberikan kenyamanan buat pelanggannya.

Terlihat 2 tukang pangkas, satu Benu, teman yang aku kenal, dan satu lagi pria yang juga sering aku temui dimesjid. Pria yang tidak aku kenal ini lah yang menyebabkan mengapa aku menulis tulisan ini. Ada yang beda dari tempat tukang pangkas yang aku datangi selama ini. Kali ini salah satu tukang pangkasnya bukan seperti bias. Akan tetapi, dia seorang yang hidup dalam “tongkat”. Tongkat itu ibarat nyawa baginya. Terlihat tongkat yang sudah mulai lusuh bergoyang kesana kemari mengikuti tubuhnya yang bergoyang. Tongkat itu yang menyeimbangi tubuhnya. Mobalitasnya sangat terbatas. Dia terlahir beda.

Aku perhatikan bagaimana dia memainkan gunting-gunting disetiap helai rambut. Dia mahir dalam menari-menarikan setiap potongan. Rapih, hati-hati, dengan kesentuhan kesabaran mendeskripsikan apa yang sedang dia lakukan Walaupun mobalitasnya nya tidak segesit orang biasa, tetapi “produk” dari kerjanya emang luar biasa. Bukan tidak beralasan, dia berhasil membuat saya puas dengan hasil kerjanya. Dia memotong rambut saya dengan sangat sempurna.. Salut!!!!

Jujur, selama saya hidup. Baru kali ini saya melihat tukang pangkas yang tidak biasanya. Kekurangan bukan alasan. Saya sempat membayangkan sipria potong rambut tersebut dengan peminta-peminta yang sering kita temukan di jalan-jalan, di warung kopi atau di restaurant. Banyak dari mereka yang sehat walfiat. Secara fisik mereka sudah menang tetapi terkadang mereka terlalu mendramatisirkan kehidupan mereka dengan meminta-meminta bukan bekerja. Mereka memperburuk kehidupan mereka dengan tidak menggunakan skill yang mereka punya. Saya terkadang tidak menaruh kasian kepada mereka yang sehat secara fisik super sehat tetapi suka meminta-meminta. Apa yang membatasi mereka sehingga mereka tidak bekerja? Apakah mereka tidak melihat bagaimana si tukang pangkas itu melakukan pekerjaannya? Sulit sebenarnya kalau kita melihat dengan kondisi tubuhnya. Akan tetapi, si pria itu sepertinya ingin mendeklarasikan bahwa saya dengan kondisi seperti ini bisa melakukan apa saja yang saya mau. No one can stop me! What seems impossible is always impossible when we see with impossible mind. Apa yang kita lihat tidak mungkin selalu menjadi tidak mungkin ketika kita melihat dengan pikiran tidak mungkin.

Handicap atau Disabled seperti anak tiri. Apalagi kalau sudah mulai test-tes pegawai, sudah barangkali disabled sering tidak luluskan walaupun dia sangat pintar. Alasan klise, mereka, maaf, cacat. Begitu juga dengan dengan akses gedung untuk orang disabled. Biasanya orang yang berkursi roda tidak diberikan askes untuk memasuki gedung, apalagi gedung banyak yang bertangga-tangga. Dimana ada gedung yang memberikan akses untuk orang yang berkursi roda di Banda Aceh? Lagi, untuk transportasi, dimana ada transportasi yang memberikan akses untuk orang yang berkursi roda.

Walaupun kita sering tidak melakukan perbedaan antara kehidupan kita dengan orang disabled, akan tetapi tanpa kita sadari kita telah dan membentuk sebuah siklus memperpanjang diskriminasi kehidupan kita dengan mereka. Seperti yang saya katakan tadi, mana ada gedung yang memberikan akses, mana ada bus yang memberikan akses ntuk orang disabled, mana ada test PNS yang menerima orang disabled ( dari syarat-syarat saja sudah jelas, tidak boleh cacat). Mana ada sekolah umum yang meneriman anak-anak disabled ( walaupun sekarang sudah mulai ada). Kalau Allah saja tidak membedakan hambanya, mengapa kita suka membedakan sesama. Mengapa?

Lagi-lagi saya harus membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan budaya orang maju. Selama di Amerika saya hampir melihat semua gedung ada akses untuk orang disabled. Semua bus ada tangga untuk orang disabled. Saya juga pernah melihat seorang pekerja disabled disebuah kasir toko. Terkadang saya sangat benci dengan sistem perekrutan pegawai selama ini. Mesti gitu mempekerjakan orang karena fisiknya saja. Banyak orang yang tidak mempunyai fisik seperti kita akan tetapi mampu untuk melakukannya. Sepertinya budaya kita telah menghamiki bahwa orang disabled tetap dirumah, tidak bisa bekerja, dan harus menghabiskan waktunya dirumah saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s