Waduh!!!! Ini para dokter begini semua yahhh?

Ceritanya sore kemarin (14 Agustus), saya dan bapak ke sebuah klinik yang sudah punya nama di Banda Aceh. Niatan membawa bapak untuk berobat ke dokter saraf karena bapak merasa sudah beberapa hari merasa ada yang salah dengan tubuhnya makanya bapak mengajak saya “menjenguk” si dokter. 4 jam sebelumnya saya ke klinik tersebut untuk mengambil nomor kartu, dan sebelum pulang saya menanyakan kapan dokter masuk kepada salah seorang petugas. 4:30 jawabnya tegas.

Sesampai kita di klinik yaitu sekitar pukul 5. Aneh!!! Tidak ada tanda-tanda dokter atau suster sama sekali diruangan dokter saraf  tersebut. Saya lihat jam sudah memanggil 5:30. Itu artinya sudah satu jam dari jadwal awal. Rasa kesal masih tingkat rendah. Panas tubuh mulai terasa. Tetapi, semua masih bisa ditolerir karena budaya ngaret adalah budaya yang sudah sangat mendarah daging di kehidupan kita. Saya maklumkan saja. Saya sendiri juga pernah ngaret sesekali kok. Beginilah, tanda-tanda sebuah bangsa yang belum maju. Pertanyaan saya adalah kapan majunya kalau kayak gini terus. Hufff.

Saya tidak begitu mengenal si dokter, tetapi hasil pembicaraan dengan bapak, katanya si dokter sudah lumayan terkenal di Banda Aceh, dan saya juga pernah mendengar dari beberapa tetangga bahwa si dokter udah top banget untuk tingkat Banda Aceh. Hampir kebanyakan testimony adalah dari orang-orang yang sering berobat ke dokter tersebut. Karena itu saya sedikit out of date dengan si dokter.

Pukul terus mendekati sore jam 5:40. Akhirnya si dokter, sang idola para pasien,  nongol juga.  Asistennya 5 menit kemudian. Molor 1 jam(What a wasting time) ( Kesalahan Pertama).

Setelah si dokter masuk langsung aja deh para pasien asal nerebos saja masuk kedalam, seolah-olah mereka sudah cukup familiar dengan ruangan, dokter, ataupun assistennya. Terus, saya berpikir, untuk apa juga nomor kartu yang saya ambil tadi? Kalau para pasien main asal masuk kedalam? Hufff. Sama sekali tidak terorganisir dengan baik ( Kesalahan kedua).

Sesaat kemudian, bapak dipanggil kedalam. Didalam ada 7 orang termasuk saya dan ditambah dokter dan asistennya. Jadi ada 9 orang di sebuah ruangan berukuran 3 x 5 m.  Sempit banget kelihatannya. Bapak cukup mengerti dengan keadaan. Mengambil posisi di sebuah tempat duduk, dan siap dipanggil untuk diperiksa.

Saya mengamati apa yang terjadi didalam ruangan itu. Asisten banyak yang berperan aktif, lari kesana kemari memeriksa pasien. Si dokter mah santai memberikan instruksi dan menulis resep. Saya perhatikan gerak-gerik sidokter dengan sangat sungguh-sungguh. Saat itu iseng aja di dalam ruangan itu tidak tahu ngapain. Satu persatu dia keluarkan hpnya dari dalam tas. Mulai dari Blackberry harga lumayan, harga mahal, dan yang paling mahal sepertinya Samsung Note. Jadi jelas ada 3 hp berada di atas mejanya. Gila nih dokter. Jualan hp atau meriksa pasien dok?

Awalnya saya tidak terlalu peduli dengan hp yang dipakai, toh saya juga punya hp sendiri. Tetapi, sedikit yang menganggu saya adalah dia tidak terlalu fokus kepada pasien-pasiennya. Semenjak saya masuk sampai saya keluar, bisa saya persenkan adalah 80 dia banyak berinteraksi dengan hp daripada pasien. Sekali pegang hp, sekali dia lihat kepasien, begitulah rutinitasnya sampai saya keluar dari ruangan itu. Bahkan, dia sempat berbicara santai dengan temannya di telp, tanpa merasa merasa bersalah sama sekali. Idihhhhhhhhhhh. Yang membuat saya kehilangan respect kepada sidokter ketika bapak menanyakan sebuah pertanyaan kepada sidokter, dan dengan sangat menyesal  si dokter meresponnya setelah bapak dua kali menanyakannya karena sibukan hp. Kali aja lagi update status atau ngetwit ya. (Kesalahan ketiga)

Suatu ketika, saya nongkrong sama teman-teman. Mereka bercerita pengalaman mereka ketika memeriksa kehamilan disebuah dokter ahli kandungan di Banda Aceh. Persis sama seperti pengalaman saya, kata dia, entah bagaimana situasi saat itu, dia merasa si dokter sibukan sama Ipad dari pada kerjanya. (Kesalahan keempat karena memperburuk citra dokter dimata masyarakat). Ini konsultasi teknologi atau konsultasi kehamilan sih.

Berbicara keprofesionalan atau dedikasi, maka kita akan berbicara bagaimana seseorang itu bekerja tanpa pamrih, dengan niat yang ikhlas. Tepat waktu, pelayanan sempurna (bagi yang melayani orang), rasa hormat, rasa menghargai, memberikan senyuman ini adalah bagian dari kededikasian kita terhadap pekerjaan. Sepertinya budaya itu masih jauh dari kita, kita telah dibentuk untuk banyak meminta daripada memberi. Ini juga sama seperti permintaan kita kepada Allah, berapa banyak yang diberikan Allah, dan berapa banyak yang kita berikan kembali (sedeqah) kepada Allah. Tanpa kita sadari kita telah menjadi makhluk “tamak”.

Budaya keprofesionalan kita masih perlu dipertanyakan. Apakah ini menandakan ketidakikhlasan kita dalam bekerja? Kenapa ketika hak kita sedikit saja bergeser dari waktunya, kita marah. Tetapi, kita tidak pernah marah ketika kewajiban kita bergeser dari seharusnya.

Renungan siang bolong di 15 Agustus, beberapa hari menjelang lebaran.

Advertisements

2 thoughts on “Waduh!!!! Ini para dokter begini semua yahhh?

  1. Aiihhh…setuju banget sama opini mas Iqbal…
    Kmrin aku juga sempat kesal sama kinerja dokter indonesia…ckckck..*agak lebai*
    Mamahku sempat sakit tuh mas, terus ke rumah sakit yg dokternya juga cukup pnya nama di jogja. Saat itu beliau sedang demam tinggi, bahkan berjalan keluar mobil juga terhuyung..dan tau apa yg terjadi???!! Errrrr….setelah hampir 2 jam menunggu sang dokter ga muncul2 dengan alasan yg gaje dan ga logis. “Masi di jalan bu…sabar ya…” begitu terus kata perawatnya….errrrr…pliiiss deeehhh….kalo semua dokter indonesia bertindak demikian…tidakkah pasiennya keburu meninggal di tempat?
    Akhirnya karena mamahku makin kesal dan enak badan..kita memutuskan pulang dg tangan hampa..eh, sampai mobil mamahku bilang…”Tau ga nik, saking kesalnya nungguin dokter tadi..mamah sampe ngerasa kayak udah sembuh..” jiahahaahaha….
    Semoga para dokter baca postingan mas iqbal deh..:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s