Sebuah Cerita di Siang Minggu…

Panas menyenter bumi dengan ganasnya di Minggu ini. Minggu kedua puasa yang semakin hari semakin berat cobaannya. Bukan karena ketidakmampuan aku untuk puasa, akan tetapi lebih kepada bagaimana melawan alam yang semakin gila dan tidak mengenal kompromi.

“ Banda Aceh Panas” begitu semua status yang aku baca di FBku siang ini. Walaupun saya tahu mereka yang membuat status itu masih bisa berteduh ataupun berlindung dengan nyaman di rumah mereka masing-masing. Setidaknya ada sebuah rasa syukur lain yang harus kita ucapkan ketika disaat yang sama kita harus melihat seorang wanita tua, melepaskan kenyamanan rumahnya mengais rejeki di terik matahari dan di hembusan debu-debu berterbangan. Tetapi, bukan rejeki seperti para pejabat-pejabat yang menghasilkan ratusan juta yang dia cari. Bukan pula rejeki orang kantoran yang menghabiskan waktu dengan AC. Akan tetapi rejeki yang cukup membeli sebungkus nasi dan satu gelas air tebu untuk berbukanya di hari ini.

Kemegahan Hermes Palace Mall tidak pernah dia gubris. Kalaupun wanita tua itu mengais rejeki di dekat mall termegah dan terkeren di Aceh. Belum tentu juga si wanita tua itu berhasil melangkah masuk ke gedung itu. Bukan karena tampangnya yang lusuh dan kumuh nantinya ditolak sama satpam mall, akan tetapi,  itu semua akan menambah sedih hatinya dengan segala diskriminasi kehidupan yang dilihatnya. Yaitu perbedaan yang sangat jauh sekali seperti langit dan bumi.  Kehidupan yang terkaya dan yang termiskin. Mungkin saja dia pernah meminta tuhan, untuk menaikkan derajatnya untuk sama dengan manusia lainnya. Akan tetapi, tuhan Maha Tahu mana yang terbaik untuk hambaNya.

Aku terhenti sejenak melihatnya. Angin berhasil menghembus jilbabnya di teriknya matahari disiang itu. Kulitnya keriput menutupi semua mukanya. Tubuhnya yang kurus bukan alasan untuk melemaskan diri. Kulihat sesekali, matanya timbul tenggelam. Aku tahu, dia lelah. Lelah yang amat dalam dimana membutuhkan waktu dan ruang untuk berisitirahat. Akan tetapi, kelelahan itu harus dilepaskannya dengan rela karena dia masih mempunyai beban dagangannya yang harus dia dagangkan. Ketika aku melihatnya, dia tertunduk lemas dengan bersandarkan sebuah kayu yang memadati dagangannya. Tidak banyak yang dia dagang. Hanya kangkung, telur asin, dan kelapa. Mungkin saja itu hasil dari kebun atau peliharaannya selama ini.

Entah mengapa, kekuatan itu ada dirinya. walaupun serba kekurangan dan hidup yang payah (dimata manusia). Dia masih tegar saja menghadapi hari-harinya menjual dagangannya di sebelah mall itu.  Sebuah keyakinan dan ketidakputusasaan yang harus kita ikuti. Baru kali ini aku melwati lorong mall itu dan bertemu dengan si nenek tua itu. Mungkin saja, keberadaannya di lorong itu menjajakan dagangannya sudah melewati beberapa dekade. Sebuah perjuangan yang patut kita hargai.

Beginilah secuil kisah kehidupan disekitar kita. Kalau kita masih dirumah dengan mengeluh “panas”, maka dengan itu saya berani katakan bahwa Anda adalah orang yang kalah sebelum berjuang, orang egois, orang yang tidak pernah mensyukuri sekecil apapun yang diberikan tuhan. Apakah si nenek tua itu bersama teman-temannya yang berdagang itu tidak mengeluh panas? Mereka seharusnya yang berhak mengeluh panas dengan ganasnya matahari yang seolah-olah ingin menerkam mereka. Tetapi, bukan panas yang mereka keluhkan, akan tetapi bagaimana mereka bisa menjual barang dagangan mereka dengan membawa uang untuk keluarga mereka.

Semua bermanfaat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s