Museum Tsunami: Kemegahan dan Kesedihan


 Mengisi kekosongan libur 4 hari yaitu 17 sampai 20 Mei, saya menginisiasikan untuk mengunjungi Museum Tsunami. Memang tidak terencana secara matang akan tetapi, kami ( saya bersama teman) akhirnya menikmati siang liburan di museum itu yang banyak sedang di padati oleh ratusan pengunjung.

Kehadiran saya saban siang itu, di ikuti bersama ratusan orang, kebanyakan anak sekolah yang menghabiskan waktu liburnya di Banda Aceh. Terlihat dari banyaknya bus-bus tersusun rapi di areal pakiran di depan dan samping museum, menambah suasana semakin ramai dan menarik.Kehadiran kedua saya ke Museum Tsunami membawa kesan tersendiri kepada. Saya bangga dan dalam waktu bersamaan saya juga sedih karena itu timbullah tulisan ini.

Megah tetapi kurang informative dan atraktif

Museum yang diresmikan pada Februari 2008, menjadi symbol yang tersirat begitu banyak makna akan musibah tsunami yang menghantam Indonesia dan negara tertangga lainnya. Bangunan yang menghabiskan dana 70 miliar hasil kerja sama Badan Rekontruksi dan Aceh-Nias, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Pemerintah Daerah Aceh, Pemerintah Kota Banda Aceh, dan Ikatan Arsitek Indonesia ini, terlihat kokoh dan solid dengan berbentuk kapal dengan cerobongnya.

Saya pribadi merasa bangga dengan museum yang di hadirkan di Aceh ini, setidaknya kita punya suatu tempat untuk kembali mengenang musibah yang pernah menggetarkan kita. Akan tetapi, dibalik kemegahan itu semua, saya melihat ada kekosongan dari sebuah kombinasi sempurna akan museum itu. Apa yang saya lihat dari luar gedung dengan kehebatannnya, tidak saya dapatkan ketika saya memasuki ke dalamnya.

Ide dari Ridwan Kamil mendesign gedung ini sangat epic dengan berbagai unsur-unsur ke-Acehan yang diberikan kedalamnnya, akan tetapi info akan design tentang gedung tersebut tidak saya dapatkan di dalamnya. Kurang informative, begitu yang saya pikirkan saat menginjak gedung ini.Kehebatan design dengan tidak ada perpaduan informasi yang jelas  menjadikan bangunan ini kurang maksimal. Fasilitas yang ada  juga tidak bisa mewakili akan kemegahan gedung, Ibarat rumah mewah, akan tetapi tidak ada isi nya sama sekali.

Di lantai dua ada beberapa ruang display, dan terlihat ada beberapa ruangan kosong tanpa diisi dengan apapun. Di lantai 3 sendiri terdapat ruang perpustakaan, dengan, menurut saya, mempunyai buku yang cukup banyak dan sangat bagus, dan di sebelah perpustakaan di sertai dengan ruang souvenir, dimana pengunjung bisa menikmati makanan atau pernak-pernik ciri khas Aceh.

Liburan kemarin, dimana banyak sekali anak-anak sekolah dari luar daerah menyempatkan menikmati museum ini. Karena kurangnya informatif yang di paparkan oleh gedung ini, sepertinya mereka mengakhiri perjalanan di gedung museum tsunami dengan tidak membawa kesan yang seharusnya mereka dapatkan dari kemegahan gedung museum tersebut. Tidak ada daya tarik yang kuat untuk mengembalikan pengunjung ke kunjungan selanjutnya, begitu juga dengan saya, saya tidak mendapatkan suatu kesan yang mendalam untuk kembali lagi  Atau mungkin saya terlalu mendramatirkan keadaan yang ada.

Audio Visual yang buram

Ketidakmaksimalan dalam memberikan yang terbaik, bisa dilihat bagaimana ketika saya memasuki ruang audio-visual di lantai dua, yaitu berisikan footage atau klip video hasil rekaman. Saya memutuskan untuk menonton video singkat itu karena saya ingin mengingat kembali kejadian tsunami tersebut. Akan tetapi, terkesan asal-asalan dengan gambar yang kabur, yang mengurangi kesan dari kejadian tersebut.

Apa yang perlu di pelihara?

Pernahkah kita menyadari bahwa budaya kita adalah budaya yang egois, rasa untuk kebersamaan itu masih kurang, rasa memiliki itu masih belum tertancap tegas di dalam diri kita. Itu yang saya dapatkan kembali ketika  melihat pemeliharaan gedung yang sangat minim.  Dari luar terlihat banyak rumput-rumput yang panjang, terkesan tidak terawat, begitu juga dengan exterior dan interior bangunan yang sudah semakin aus akibat tidak berhasilnya dalam pemeliharan bangunannya. Seperti ada beberapa bagunan yang sudah retak akibat beberap goncangan gempa.  sepertinya di biarkan begitu saja atau masih menunggu dana perbaikan yang entah kapan keluarnya.

Menyangkut dengan kebersihan,  masih tanya besar sepertinya. Saya sempat shalat di salah satu mushala di museum tersebut. Kondisinya yang saya harapkan tidak seperti itu. Ketersedian air cukup memadai untuk berwudhu, akan tetapi mushala nya tidak layak untuk orang-orang shalat.  begitu juga dengan berserakan sampah dimana-dimana. Kesadaran kita untuk kebersihan masih minim, walaupun terlihat ada beberapa tong sampah, akan tetapi orang masih kurang sadar akan apa fungsi tong sampah tersebut.

Keadaan ini meliarkan pikiran saya dan mencoba menghubungkan dengan fasilitas public lainnya yang kita miliki selama ini, hampir saya bisa katakan bahwa semua fasilitas publik tidak terurus dengan sebaiknya. Dimana penghargaan kita kepada sesuatu? Apakah ini budaya atau nilai-nilai muslim yang benar?

Berbicara bagaimana menjaga maka kita akan menanyakan dulu bagaimana kita bisa membangun. Membangun fasilitas publik membutuhkan biaya yang sangat besar, museum tsunami contohnya. bahkan menghabiskan 70 miliar segala, akan tetapi apakah kita pernah memikirkan untuk menghabiskan 70 miliar untuk pemeliharaan. Untuk apa bangunan besar-besar akan tetapi, tidak ada pemeliharan yang baik.  Pembangunan gedung hanya memerlukan dana yang sekali jalan saja, akan tetapi pemeliharaan gedung akan terus berjalan sampai gedung tersebut masih di fungsikan.

 

Saya begitu sedih dengan budaya kita yang satu ini. Budaya Aceh dengan nuansa keislaman dengan nilai-nilai semuanya dari Alquran dan hadist, tetapi mengapa menjaga sesuatu saja masih harus belajar banyak dari negara barat. Benar bearti perkataan salah seorang penceramah yang pernah saya dengar di sebuah Jumat , “ Budaya kita, yaitu budaya atau nilai-nilai Islam yang menjalankannya adalah orang barat, sehingga jangan salahkan mereka kalau mereka lebih maju dari pada kita. Misalnya kebersihan. Di dalam Islam jelas-jelas ada bab Thaharah atau membahas tentang kebersihan, tetapi apa yang kita pelajari dari pembahasan itu?  Kita masih saja berjuang keras untuk kearah itu. Kebersihan di mesjid menjadi masalah klasik yang terus kita pertahankan. Konon katanya mesjid yang suci, tetapi mengapa tempat wudhu dan toiletnya sangat tidak layak alias sangat kotor?

Sepertinya kita adalah bangsa yang mampu untuk mencipta tetapi kita bukan bangsa yang mampu untuk memelihara. Kita bisa membuat akan tetapi begitu egois untuk melihat kembali apa yang kita buat. Begitukah kita? sepertinya iya, kita begitu adanya.

Apa Solusinya?

 Ini bisa jadi pelajaran buat kita, dimana fasilitas public dengan kurangnya pemeliharan yang bagus, sangat mendefinisikan siapa kita sebenarnya. Orang lain yang mengunjungi gedung museum atau fasilitas lainnya akan melihat betapa jeleknya kita dalam pemeliharan, sehingga disini terlihat sudah bahwa Aceh memang mempunyai budaya yang mampu menciptaa akan tetapi lupa bagaimana memelihara, yaitu budaya yang tidak mau peduli. Budaya lain akan menjudge kita dengan sebagai orang Aceh yang mempunyai  budaya yang tidak ada sense kebersamaan, asal-asalan, budaya yang sudah terkuras nilai-nilai Islam.

Saya pikir, pemerintah harus menganalisa kembali akan budget pemeliharaan lebih banyak lagi dari pada pengadaan gedungnya, karena seperti yang saya katakan, gedung mewah tidak terurus maka akan sama saja, akan tetapi gedung bisa dengan perawatan yang luar biasa akan memberikan kesan luar biasa nantinya.

Satu lagi, masyarkat kita adalah masyarkat yang sudah terbentur dengan nilai egois dan kepentingan diri sendiri. Sering memikirkan hanya untuk diri sendiri, tetapi jarang bagaimana menghasilkan sesuatu untuk kebersamaan. Tidak salah untuk sedikit peduli akan fasilitas public demi kenyamanan bersama.

Museum Tsunami bisa jadi contoh untuk kita bahwa jangan karena kurangnya pemahaman kita akan kasih sayang kita kepada benda, timbul pemikiran negative, yang dimana orang dengan gampangnya menjudge kita sebagai bangsa yang egois dengan hanya memikirkan diri sendiri saja.

Mengapa saya kritik apa yang saya lihat. Karen sangat sedih dan sangat simpati yang mendalam. Mengapa nilai-nilai untuk menjaga kebersamaan demi untuk kepentingan bersama telah hilang dalam roh budaya kita. Kapan kita pernah mau menghargai apa yang kita punya dengan memberikan sedikit kontribusi untuk kebaikan bersama?

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s