Think Before Comment, Dude!

Semenjak FB menjadi media social yang sangat fenomenal, kehadirannya tidak hanya mengubah bagaimana manusia bersosialisasi dengan sesama, akan tetapi bisa juga sebagai media disseminate atau penyebaran informasi, baik visual ataupun audiovisial. Kehadirannya  di Feruari 2008 telah  mengubah siapa kita: Mengubah kita lebih supel dari informasi yang di postingkan dari teman-teman. Mengubah kita lebih expresif dari status yang kita buat. Membuat kita lebih narsis dari sebelumnya, Mengubah sesuatu yang realita adanya menjadi sebuah konklusi sebelah pihak, dan yang sering terjadi adalah mengubah sebuah konklusi menjadi penghakiman yang tajam.

FB menjadi media social-knowledge bagi saya dengan memperoleh segala informasi yang memperluas horizon saya,  apakah itu hanya sekedar informasi ringan, berita headline di koran-koran, status yang inspiratif, atau hanya sekedar gambar iseng yang menyimpan berjuta makna. Kalau saya istilahkan menjadi ” “One complete package”

Tetapi…

Yang paling menohok hati saya selama ini adalah gambar yang sering di uploadkan dari teman-teman yang berbau SARA. Banyak gambar yang seharusnya tidak di pertontonkan ke media FB karena bisa memancing emosi siapa saja yang melihatnya. Misalanya: kekerasan, gambar asusila, dan sebagainya.

Itu apa yang saya rasakan ketika malam kemarin saya melihat  sebuah gambar yang di tag ke teman saya, yaitu gambar seorang wanita dan pria yang berposisi sedang berciuman mesra di depan orang banyak. Tidak heran, komentar yang telontar  adalah hampir 100 persen berhasil menghujat, menghina, marah, dan menghakimi mereka secara sebelah pihak.

Pertanyaan saya, siapa yang salah? Salah orang yang uploadkah atau salah orang yang menciumkan? Tidak perlu saya menjawab dari pertanyaan bodoh saya itu. Masing-masing dari kita punya persepsi sendiri. Akan tetapi, patut disayangkan ketika kita begitu belia membuat suatu asumsi atau persepsi negatif dari orang lain sebelum klarifikasi sebelumnya. Segampang itukah kita menjudge orang lain, bahkan orang lain yang tidak kenal sekalipun. Seberapa lama kita sudah mengetahui episode hidup mereka?  Sejauh mana kita sudah mengenal mereka? Kalau mereka bukan yang kita kenal, apakah mereka berhak mendapat hujatan tersebut? Bisa saja mereka adalah suami istri atau pasangan sah.

Dimana budaya menghargai kita? Kalau kita benar adanya seorang yang berbudaya dan beragama. Kalau pun mereka bersalah, ciuman di tempat umum, mengapa pula harus di sebarkan seolah-olah media FB ini menjadi penghukuman massal atas kesalahan mereka.  Apakah ini jalan yang terbaik memberikan pelajaran untuk mereka? Saya pikir bukan. Penyelesaian mereka bisa dilakukan dengan mediasi yang terbaik, bukan dengan jalan dengan membunuh karakter yang seharusnya bisa diselesaikan dengan sebaiknya.

Sadarkah kita bahwa ketika kita menghamiki seseorang maka itu sama sekali tidak akan mengambarkan atau mendefinisikan siapa mereka sebenarnya, bahkan sebaliknya mendefinisikan siapa kita, memperlihatkan diri aslinya kita dari kata-kata atau ucapan yang kita lontarkan. Camkan itu!

Memang FB telah mengubah paradigma kita berpikir, bahkan saya melihat kearah yang sedikit ekstrim dengan tidak ada filter sama sekali. Pernahkah kita berpikir sebelum memposting sesuatu. Pernahkah kita berpikir sebelum mengupload gambar ke FB. Pernah kah kita berpikir sebelum melepaskan status kita kepada orang lain.

Apakah itu namanya ekspresif?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s