Repost: Kehilangan itu

Angin melambai mengetuk jendela kamarku, petanda pagi menghampiri bumi, udara pagi dan matahari pagi semakin menganga, sempurna sudah pagi. Mereka semua seolah-olah mengajak makhluk bumi untuk menyongsong hari dan masa depan yang penuh harap. Pagi adalah waktu yang sangat aku banggakan, sebagai mana bangganya Allah memberikan limpahan rejeki kepada makhluk-makhluk-Nya yang mau menjemput pagi.

Malaikat juga mengakui akan hal itu, dengan senangnya mereka memberikan keberkahan bagi manusia yang mau memuja pagi dengan senyuman. Tetapi sayang, hanya terlihat satu orang tua renta di gubuk itu yang mau akan keberkahan itu. Sehingga, Allah begitu senang bersamanya, tersenyum, iya Allah terus tersenyum sambil membelai rambutnya yang putih, karena dia pantas mendapatkannya.

Aku berharap bisa selalu tersenyum disetiap pagi, terus berkeinginan bisa menghapus segala kemalasan yang menjumpaiku, dan aku juga berhajat pagi kapan pun itu akan menjadi pagi yang indah yang selalu diberkati Allah, ditemani burung-burung dan angin-angin segar menyelimuti tubuh dan pikiranku. Tetapi mustahil kiranya itu akan terjadi sepanjang sejarah hidupku. Karena, akan ada selalu pagi yang Allah berikan dengan kegelapan, kemuraman, dan air mata. Itu sudah pasti adanya.

Pagi yang tidak aku tunggu-tunggu pun terjadi.

Pagi itu air mataku kembali jatuh ke tanah yang suci, kembali tercemar oleh ulah manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab. Berharap pagi itu bisa tertawa kecil kembali, tetapi Allah menjadikan itu pagi yang paling berat bagiku. Iya pagi yang dimana aku mendengarkan berita kehilangan. Anda tidak perlu tahu kehilangan apa yang sedang saya alami, anda tidak perlu tahu berapa banyak kehilangan yang saya alami, dan anda tidak perlu tahu bentuk kehilangan apa yang sedang saya alami.

Yang pasti kehilangan itu telah membentuk dan membawa jiwa ini kembali mengartikan sebuah makna hidup, mengajari aku satu pelajaran yang mungkin aku sudah melupakannya yaitu makna keikhlasan hidup.

Memang benar, aku bukan sang pencipta makanya aku tidak bisa mencipta yang tiada menjadi ada, aku bukan sang penjaga sebabnya aku tidak bisa menjaga semua amanah-amanah. Aku bukan sang pemberi makanya aku tidak bisa memberi kepada sesama. Dan aku bukan sang maha ikhlas, sebab nya tidak ada tanda-tanda keikhlasan di setiap musibah yang terjadi. Tidak heran kalau kehilangan itu membawa saya kembali tertegun memaknai diri sebagai makhluk terlemah yang seolah –olah ingin menjadi makhluk yang paling kuat.

Kembali lagi cerita itu terungkit, 5 Tahun yang lalu saya harus kehilangan harta benda akibat bencana tsunami, 4 tahun yang lalu saya terpaksa harus kehilangan ibu tercinta akibat sakit kanker yang ganas, 1 tahun yang lalu aku kehilangan teman karena salah paham kecil dan hari ini, hari ini kehilangan itu terus saja membayangi hidup ku. Dan disinilah saya yakin bentuk ujian dari Allah akan manusia yang selalu meminta keikhlasan hidup.

Dulu, dalam sebuah doa malamku. Aku minta ke Sang Maha Pengampun sudi kiranya menjadikan hamba manusia yang ikhlas, manusia yang sabar dengan semua kejadian musibah-musibah yang terjadi. Namun, beriring waktu berjalan, saya tetap menunggu dimana dan kapan keikhlasan itu datang. Apakah tuhan sudah mulai tidak mau mendengar doa hamba-hambanya yang meminta keikhlasan? Apakah doa keikhlasan yang saya minta dulu memang tidak akan pernah terwujud?

Tanpa saya sadari, beribu banyak kehilangan yang saya alami selama ini ternyata doa yang pernah saya minta kepada-Nya di waktu itu, kehilangan itu mengajarkanku akan bentuk keikhlasan yang teramat dalam, bisa jadi satu kehilangan satu tancapan paku keikhlasan didalam dada ini, dua kehilangan dua tancapan paku keikhlasan. Semakin banyak maka semakin terpenuhi hati ini dengan keikhlasan.

Ya Allah,
Apakah kami harus menangis akan kehilangan yang tidak kami miliki?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s