Reposted : Aku memaafkanmu wahai adikku

Pelajaran hidup kalau kita mau belajar memang selalu ada dan dimana saja. Pelajaran hidup itu saya dapatkan dari 2 keponakan saya yang satu berumur 5 tahun dan satu lagi 3 tahun. Dua-duanya lelaki.

Anak-anak selalu main kesana kemari. Ketika sedang menonton film menggunakan headset, masuklah dua keponakan saya. Fatur  berumur 5 tahun, dan  Harira berumur 3 tahun. Tanpa pikir panjang saya langsung menyodorkan headset yang di dua telinga saya kepada si kecil duluan karena dia berada paling dekat dengan saya. Tenyata dia begitu menyukai suara di dalam headset. Disaat bersaman Fatur juga mengingikan headset itu diletakkan ditelinganya. Dan saya katakan kepada Harira untuk memberikan kepada bang Fatur sebentar. Dan ternyata Harira menangis dan saya minta kembali headset dari bang Fatur untuk diberikan ke Harira. Ternyata Fatur juga menangis. Waduh! Gawat ini. Akhirnya mereka saling marah-marahan.

Tangisan Fatur terus berlanjut sampai 30 menit kedepan karena dia memang sulit untuk berhenti menangis. Untuk urusan meredamkan amarah dari kedua keponakan saya berikan kepada kakak saya. Tanpa pikir panjang saya masuk kekamar kembali untuk menyambung film yang terpause tadi. Dan 1 jam semenjak kejadian itu terjadi, saya mendengar mereka kembali ketawa bersama. Seolah-olah konflik yang terjadi sejam yang lalu tidak ada. Ego mereka begitu kecil untuk mengabadikan semua kemarahan mereka.

Tidak ada ada skill manajemen konflik yang mereka punya. Tetapi, kata maaf yang sulit kita berikan kepada orang lain, menjadi konsep hidup yang begitu menakjubkan yang mereka punyai. Benar! Kita harus berego untuk mempertahankan kehidupan kita. Tetapi bukan berarti kita sulit memaafkan karena keegoan kita. Mengapa anak kecil mudah memaafkan? Mungkin karena mereka tidak punya unsur kepentingan yang tinggi seperti yang kita punyai sekarang ini. Mereka hidup netral dengan semuanya tidak ada beda.

Kalaupun ego yang mempertahankan kita untuk terus bisa hidup, bukan berarti kita terus mempertahankan keegoisan kita untuk tidak memaafkan orang lain. Siapapun itu berhak untuk dimaafkan. Apapun kesalahan kita selalu saja ada ruang untuk pengampunan. Tuhan saja mengatakan seperti itu, kenapa mesti kita harus bersikeras untuk mengatakan tidak.

Kembali belajar memaafkan diri sendiri atas semua kesalahan yang dibuat.

Minggu: 13 Mei 2012—8:37

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s