The Art of Getting By

Kalau kita mau sedikit lebay, maka dunia ini hanya berada dalam ruang lingkup dilemma, masalah dan sedikit kebahagian. Terlahir di dunia, sebagai salah satu makhluk agung milik tuhan, manusia wajib menanda tangai kontrak hidup yang penuh dengan “pelangi-pelangi masalah”. Kenapa saya katakan pelangi? Karena akhirnya kita menyadari bahwa masalah sering mewarnai kehidupan kita. Saya yakin kita bukan pemain sandiwara dunia yang suka dengan lakon mononton. Peran yang tertantang, sedih, senang adalah lakon yang sering kita sukai.

Tuhan juga menyatakan dengan jelasnya kepada kita bahwa “ Hidup berarti harus berada di bawah kekuasaan-Ku”. Bencana, cobaan hidup, ketakutan akan Ku berikan hanya untuk melihat betapa hebatnya kamu”. Jadi jangan heran masalah hidup menjadi salah satu cobaan yang sering tuhan berikan kepada manusia.

Kontrak hidup yang mungkin sebelah pihak di buat tuhan , mau ataupun tidak, sama sekali tidak bisa ditawarkan. Dunia selalu dalam masalah, mungkin itu singkatnya. Hidup manusia sekarang yang banyak menganut “tuhan globalisasi” dimana sudah menihilkan tuhan sebenarnya akan dengan mudah terhipnotis dan terbuai dengan masalah yang dihadapi. Masalah bisa jadi kematian, begitu sebagian orang mengatakannya karena ada saatnya masalah hidup bisa terkurangi dengan kita yakin bahwa Tuhan ada dibalik semua ini. Tidak ada tuhan maka semuanya akan mati.

Tetapi, tuhan dengan kekuatan, kehebatan dan kecerdasaa-Nya, memberikan kita masalah dengan ribuan solusi cerdas yang harus dicari bukan diratapi, yang harus selesaikan bukan ditangiskan. Salah satunya adalah tuhan memberikan otak untuk berpikir lagi akan kehidupan yang singkat ini. Otak di sertai dengan pikiran cerdas dan kreatif itu sebenarnya adalah solusi terbesar dalam segala masalah kita.

Film the art of getting by atau lebih kurang artinya seni dalam mengatasi masalah hidup, memberikan sedikit pelajaran kepada saya lagi bahwa hidup mustahil tanpa masalah. Otak yang berukuran kecil sebagai “mesin” yang paling keren, kreatif, dan hebat di dunia, ini diberikan tuhan untuk mencari sendiri penyelesaian hidup. Mesin ini bukan tuhan yang menghidupkan, kita yang menghidupkan dan mengontrolnya. Kita diberikan fasilitas oleh Tuhan, tergantung seberapa mampu kita menggunakan fasilitas itu. Brain is like parachuting (berkembangnya payung kalau di gunakan). There is a way, if there is a will. Jalan ribuan terhampar di depan kalau niat itu ada.

Karena sangking kreatifnya manusia ini, penyelesaian masalah bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, sesuai dengan karakter dan kemampuan kita sendiri. yang kira-kira nyaman untuk kita. Apa yang bisa mungkin dan apa yang tidak. Karena itu sebagian orang menyelesaikan masalah dengan membiarkan masalah itu berlarut-larut. Sebagian menyelesaikan masalah dengan membuat masalah lain, sebagian menyelesaikan masalah setelah dengan membandingkan dengan orang lain. Sebagian menyelesaikan masalah dengan menghibur diri. We are so resourceful ( begitu cepat mendapatkan cara dalam menyelesaikan masalah)

Jadi, inti yang saya ingin katakan adalah manusia adalah sebuah makhluk yang sangat kreatif dan sangat pontensial dengan kemampuannya sendiri. Potensi kita sering hilang terkadang karena tertutup keegoisan kita sendiri. Tertutup karena kesombongan kita sendiri.

Coba kita renungi, selama kita hidup, berapa banyak masalah kehidupan kita diberikan Tuhan, apakah semua masalah tersebut sudah terselesaikan sampai sekarang? Saya pikir sudah. Hidup tidak selamanya diatas, tidak selamanya siang, tidak selamanya sedih, tidak selamanya meratapi, dan tidak selamanya dalam masalah. Waktu berjalan singkat dengan membawa pesan-pesan tentang kehidupan yang mudah terhapus, terhapus beriring waktu berjalan.

Segala cobaan tuhan dengan masalah hidup, secara tidak langsung, mengajari kita bahwa kita adalah makhluk hebat yang bisa menakluk dunia dengan anugerah akal yang diberikan. Pertanyaannya adalah betapa hebat kita mengakui diri kita sendiri. Sedangkan tuhan jauh-jauh hari mengatakan bahwa manusia adalah makhluk sangat sempurna tanpa batas apapun.

Advertisements

4 thoughts on “The Art of Getting By

  1. saya suka dengan artikel ini like this… (y)
    saya sering menggambarkan hidup itu sebuah drama,dan yang menyutradarai adalah Tuhan dan Tuhan pula yang membuat skenario drama itu.
    Menurut anda hidup itu seperti apa ? dan saat kita terekam masalah apa yang kita lakukan selain memohon pada-Nya !

    jangan lupa kunjungi ke blog ku ya, DSW.sagitdes
    salam kenal.

    1. Sebenarnya disaat kita ada masalah, itu juga sangat tergantung betapa kaya nya otak kita selama ini. Memperkaya otak dengan pengalaman hidup, pancaroba masalah, itu menjadikan kita semakin bijak dalam melihat masalah.

      Salam Kenal DSW…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s