Gempa, April 11,2012


Aku sengaja tidak makan siang sore itu, karena aku berniatan untuk makan bakso kesukaanku di sebuah tempat.  Jam 2:30 aku berangkat dari rumah menuju ke kantor Kakanwil Depag karena  ada sebuah urusan yang harus aku selesaikan. Selesai dari kantor tersebut, pikiranku langsung ke tempat makan. Iya, entah mengapa, ingin makan bakso saja saat itu. Jam 3:15 aku berada pas di tempat bakso tersebut. Barokah namanya. Tempat yang sederhana, tetapi menawarkan bakso yang luar biasa.. Murah, enak, dan juga banyak. Mungkin ini menjadi the best bakso I have ever eaten in the world 😀

Karena seorang diri, bakso yang dimakan juga hanya sekejap, dan ditambah panas yang menyengat saat itu, jadi aku tidak mau berlama-lama dengan keringat yang memenuhi tubuhku. Aku benci aja, setiap makan sesuatu, apalagi yang panas-panas, keringatan langsung keluar, Perasaan kayak orang baru olah raga saja.

Singkat cerita, aku membayar. 13 ribu aku keluarkan dari dompet dan aku langsung keluar dari Barokah menuju motor yang aku parkir persis di depan Barokah. Ketika aku sedang mengenakan jaket dan niatan untuk menghidupkan motor, aku melihat banyak orang keluar. Dan tiba-tiba salah seorang dengan takutnya mengatakan “ Gempa”. Dan aku merasakannya juga seketika.

Awalnya pelan dan akhirnya membesar, Aku melihat gedung persis di samping aku berdiri bergoyang dengan memberikan bunyi yang cukup mengerikan. Aku berpikir kalau saja gedung itu runtuh pasti akan mengenai motor baruku karena aku memarkirnya persis di samping gedung berlantai empat itu. Tetapi konsentrasiku bukan ke motorku, tetapi rasa takut yang sangat besar akan gempa yang sedang aku alami. Cukup besar dan mengerikan bahkan.

Aku sengaja tidak menelpon siapa-siapa, karena kutahu jaringan juga down saat itu, dan aku juga melihat ada dua orang ibu-ibu mencoba menelpon anak mereka tetapi tidak tersambung. Jantung berdegub besar dan takut. Perasaanku kembali menjauh memikirkan apa yang akan terjadi. Apakah ini akan terjadi Tsunami lagi ? Gempa yang terjadi  persisi sama dengan kegoncangan seperti 2004, tetapi BMKG melaporkan hanya 8,5 skala ricther, beda 7 angka dari gempa tsunami awal yaitu 9,2 skala ritcher.

Berhenti bergoncang sedikit, aku memutuskan pulang kerumah, memastikan keluarga ku baik-baik saja. Ternyata di jalan orang juga orang sudah begitu ramai. Trauma itu terulang lagi, orang tidak berpikir panjang. 2 menit setelah gempa orang memutuskan untuk pergi menjauhi daerah pantai. Semua ditinggalkan hanya menyelamatkan diri sendiri.

Ratusan motor memadati jalan di depan rumahku, tidak ada tawa , terlihat orang berangkat dengan membawa perlengkapan seadanya. Terlihat seorang wanita yang diboncengi sedang membaca yasin. Trauma itu masih begitu membekas di hatinya, mungkin. Tiba-tiba aku juga berjumpa dengan teman lamaku, dengan tergesa-tega dan perasaan takut yang tinggi di berkata,” aku tinggalkan sepeda motorku dirumah, dan aku langsung lari menjauhi rumah.” Rumahnya juga persis berada di dekat pantai. Wajar sekali kalau traumanya masih pedih dan membekas mati di hatinya, dia satu-satunya yang selamat seorang diri ketika tsunami dan gempa 2004.

Alhamdulillah, 1 jam setelah gempa semuanya menjadi normal kembali, Listrik yang mati juga telah hidup kembali, tetapi orang masih trauma , sehingga malamnya banyak warga tidak tinggal dan tidur dirumahnya mengingat akan berita gempa susulan yang akan terjadi.

Trauma kami begitu dalam Tuhan, dalam bahkan dalam sekali. Rasa sakit kami mungkin saja baru terobati beberapa hari yang lalu. Kami tidak bisa berkata lebih kecuali pasrah dan terus bermohon bahwa cukup sudah trauma ini. Kami capek dan lelah dengan keadaan ini.

Tetapi,

Kegoncangan itu kembali datang sore ini yang begitu menusuk jiwa kami, lengket dan tidak mau beranjak, bahkan dengan waktu sekalipun. Benar! Kami tidak bisa melupakan hari itu, ketika Engkau mengambil semuanya apa yang kami punya. Terasa egois mungkin kami akan kehidupan yang fana ini. Dan Engkau menyadarkannya dengan sebuah jalan yang sangat berbeda.

 

 

 

 

 

Advertisements

14 thoughts on “Gempa, April 11,2012

  1. Ngerti banget, untung mas gpp ya…
    Dulu gua juga pernah ngalamin gempa 5 skala richter di Bandung…pengalaman mengerikan yg bener2 tidak terlupakan…ga kebayang gimana rasanya kemaren 8.5 di Aceh…

    God Bless U

  2. Lupain dulu soal gempa,,, jgn terus diingat krn rasa trauma akan smakin menggrogoti pikiranmu. btw,,, motor barunya merk apa neh…??? hehe… 🙂

  3. semoga warga di sana cepet pulih dari trauma mereka, dan tidak akan terulang lagi bencana bencana seperti ini…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s