Wewangian yang hilang

Ku melangkah perlahan mendekati sebuah taman yang indah. Hal yang paling mengejutkan adalah hampir seperempat abad aku tinggal disitu. Aku tidak pernah sekali pun aku melihat taman itu hingga suatu waktu teman ku mengatakannya. Hari ini aku begitu penasaran akan taman itu, dan kuputuskan untuk mendekatinya. Dari kejauhan sudah kucium bunga. Tidak tahu persisnya bunga apa yang kucium. Tapi wanginya seolah-olah menghipnotisku dan mengajakku  ke dalam. Ku tahu dia bukan tumbuh untukku tapi aku merasa dia seolah-olah hanya untukku. Penasaranku terus membuncah akan wangi yang semerbak itu. Jangan-jangan seorang peri sedang bermain di taman bunga itu.

Ku dekati lagi. Ku mencari bunga yang harum itu. Keringat pun mulai berpeluh, asa sudah mulai mengendur. Upaya pencarianku sudah di ujung keputusasaan. Aku masih juga belum menemukannya. Merasa, apakah usaha pencarianku masih lemah sekali sehingga bunga itu tidak aku temukan.

Wangi itu terus menyebarkan wangi yang bukan hanya tajam tetapi mematikan. Wanginya sangat  indah. Ku putuskan untuk kembali pulang tanpa menemukan wewangian itu. Tapi aneh, ketika kuputuskan untuk keluar dari taman itu, wewangian itu juga masih harum. Kucium di seputar mana tahu bunga yang menyebar wangi itu ternyata ada diluar sini. Tetapi pencarianku berbuah nihil. Aku masih tetap saja tidak menemukannya.

Kali ini walaupun wanginya terus memenuhi jiwaku, aku tidak peduli. Karena aku mencari dan pencarian itu tidak mendapatkannya. Aku pasrah pada akhirnya.

______________

Kita selalu mencari kebahagian diluar sana. Lingkungan  tidak hanya menyakinkan kita akan tetapi sering menipu kita bahwa mereka bisa memberikan segalanya, bahkan kebahagian sekalipun. Kita mencarinya sampai kita lupa akan diri kita sendiri. Padahal, semua itu ada diri kita sendiri. Kebahagian tidak pernah ada diluar sana. Dia selalu ada di dalam diri kita.

Coba sedikit membuka hati akan diri sendiri. Coba untuk terus bersyukur akan sekecil apapun dalam hidup kita. Terkadang hal yang kita anggap kecil dan lupa kita syukuri itu bisa menjadi awal dari keserakahan dan  keegoisan kita dalam melihat hidup. Ketika keegoisan mulai bermunculan, jangan harap kita bisa melihat dengan jernih. Semuanya keruh. Lama –lama hati kita juga ikut pekat dan kelam bak malam yang selalu datang ketika pagi terhempas.

Kita tidak akan pernah bisa merasakan wangi dalam tubuh kita, kalau kita terus mencium wangi di sekitar kita. Wangi di sekitar hanya ilusi, tercium harum tapi dia akan menghilang seketika. Wangi itu ada didalam diri kita yang baunya jarang tercium karena kita sudah menguburnya sering waktu berjalan.

 

 

Advertisements

5 thoughts on “Wewangian yang hilang

  1. versi ngawur: nahh, kalau yg ini jangan2 kamu diikutin hantu bal, jadinya kemana2 diikutin wangi hihi.

    versi serius: a very thoughtful note, must be based on deep contemplation 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s