Aku merindukannya :(

Ku buka mata dari tidur yang lelap, berharap semua yang ku impikan terwujudkan. Tapi apa mau dikata, dunia nyata kembali menyapa ku di pagi yang begitu cerah. Matahari diluar juga masih siap siaga untuk menampakkan dirinya. Aku yakin mentari pagi juga sangat indah nantinya Tetapi sayang, pagi yang  indah itu  selalu saga terlewatkan begitu saja.

Dari balik jendela yang juga masih tertutup aku mendengar suara canda dari kumpulan para manusia angkatan 50-an. Iya alias orang tua yang sedang melangkah persis di samping lorong rumahku. Jarang mereka mengambil lorong itu sebagai jalan yang mereka tempuh di setiap pagi setelah pulang dari Mesjid. Tapi kali ini aku mendengar candaan tawaan mereka kembali. Aku tidak tahu siapa mereka persisnya, tetapi aku tahu bahwa mereka adalah pria yang cukup bahagia menjalani hidupnya. Aku menyebut mereka “PRIMUS” atau Pria Musalla. Setiap subuh ke masjid dan tidak lupa jalan-jalan pagi dan kongkow bareng bersama teman-teman

Tapi aku merasa mereka adalah pria-pria yang sangat bahagia dan ikhlas menjalani hidup.  Bahkan dulu aku pernah bercita-cita bisa seperti mereka di usia muda. Tetapi …

Orang tua ku dulu juga begitu ketika masih tinggal di rumah ini. Beliau sering subuh ke mesjid dan menghabiskan pagi dengan jalan santai sambil menghidup udara segar seolah-olah semua beban dan masalah dunia hilang sudah. Tetapi semenjak beliau mengambil keputusan untuk tinggal agak berjauhan dengan anak-anaknya, aku tidak pernah merasakan itu lagi. Tapi aku yakin beliau masih melakukan aktifitas paginya sama seperti beliau masih tinggal di rumah ini.

Tidak lama kemudian ku ambil wudhu yang di lanjutakan dengan Ibadah shalat subuh seorang diri di kamar. Kusadari itu hanyalah ibadah kosong sekedar melepaskan kewajiban saja. Kalau bukan karena kewajiban, mungkin ibadah itu sudah aku tinggalkan barangkali.

Aku terduduk pasrah diatas sajadah kuning yang menjadi saksi bisu akan ibadahku yang tak pernah ikhlas. Pikiran ku melayang dan membuas seketika. Air mataku tidak kusadari kembali menetes. Tidak ada yang bisa aku tangisi selain menangisi sebuah kehilangan. Iya kehilangan akan kegiatan pagi ku yang persis sama yang di lakukan oleh si pria-pria tua itu.

April 4, 12,  6.00 Am

Disebuah sore menjelang malam yang tidak bermakna

Advertisements

4 thoughts on “Aku merindukannya :(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s