The Bloofers of Aceh

Pertemuan ini bukan pertemuan biasa. Selain member-nya masih mengusung jam karet sejati, mereka juga adalah millennial generation atau generasi Y yaitu generasi muda yang “mungkin” bercita-bercita sebagai “penyebar informasi untuk orang lain. Bahasanya sedikit berbelit-belit, barangkali. Mereka adalah “ a true writer” lebih tepatnya.

Kulihat pukul sudah menjalar ke angka 3, pertanda siang sudah sangat membara membakar bumi Aceh. Ku parkir sepeda motor kesayanganku di depan segerombolan manusia-manusia yang sedang melahap makanan mereka. Iya, aku tepatnya sedang berada di sebuah restaurant. Ayam Lepas namanya. Sebenarnya aku masih bingung saja dengan penamaan restaurant ini. Terlepas namanya yang masih aneh bagiku, yang ku lihat begitu banyak orang yang datang ke restaurant yang satu ini.

Dari sekumpulan orang-orang yang kulihat, tidak seorangpun yang ku kenal, dan kusimpulkan teman-teman yang akan ku temui juga belum datang. Alasan yang lain, mungkin, lebih tepatnya adalah aku belum mengenal teman-teman yang akan ku temui kecuali satu orang. Jadi walaupun mereka sudah datang, aku tidak akan mengenal mereka. Jadi hari ini ( 21 March 2012) adalah pertemuan perdana kami.

Tidak lama, kuputuskan untuk menelpon  salah satu teman (yaitu satu-satunya teman yang ku kenal). Mungkin saja dia lupa atau juga dalam perjalanan ke restaurant dimana kita berjanji. Akan tetapi, wal hasil dia membeberkan sebuah pesan ketelingaku yang berbunyi “ Bang, maaf ya, bentar ya, aku masih ada urusan“. Hahaha, sudah kuduga. Mungkin aku sedikit idealis kali ya. Aku  dulu juga mengusung jam karet sejati, tetapi semenjak aku lama diluar ( ceile) dan melangkah kaki kembali ke daerahku dengan budayaku seperti ini, mungkin untuk tepat waktu hanya segelintir orang yang mau ( hahaha, tidak maksud apa-apa ya, tertutama  Tia. Maafkan aku Tia :D), walaupun terkadang aku juga sering ngaret!

Lama juga aku menunggu.  Sengaja aku tidak melahap masakan kakakku di rumah dengan alasan aku akan melampiaskan rasa lapar itu di restaurant Ayam Lepas ini. Rasa lapar itu juga menghilang akibat penungguan yang tidak berujung :D, Terbesit untuk mengenyahkan diri  dari tempat itu jikalau dalam 20 menit kedepan mereka tidak juga tiba. ( Ceritanya marah neh :D)

Tiba-tiba aku menoleh ke belakang. Ku melihat cowok berambut panjang seorang diri, hatiku berucap bahwa dia adalah salah satu teman yang akan kujumpai. Tetapi, karena kita sama sekali tidak mengenal satu sama lainnya, aku juga tidak berani menengurnya.

Suara itu tidak lama untuk bisa aku identifikasi. Iya, suara ringtone telpon ku berdering merdu ditemani teriknya matahari di bumi ini.  Suara Hp yang kucintai meramaikan kesendirianku direstaurant itu. Kali ini bukan nama yang keluar, akan tetapi nomor cantik.

“Iya, Assalamualaikum “ Aku menyapa dengan santai.

“ Ini Khairil bang,” suara laki-laki itu menghembus dari telponku, sambil dia berbicara dia melambaikan tangan dari jauh ke arahku.

Dan tidak lama cowok yang berambut panjang yang ku lihat tadi langsung menghampiri kita dengan berkata.

Ini anak Bloofers ya, “ Iya, ku jawab dengan penuh sangat antusias. Iya, akhirnya ku kenal namanya RAZI.

Iya kita di persatukan oleh Bloofers, yaitu sebuah komunitas penulis yang suka wara-wiri di dunia blog yang hanya sekedar menulis, curhat atau sekedar memberikan info ke orang lain.

Setelah kita bertiga, kita di datangkan oleh seorang wanita, dan diikuti dengan 2 wanita lainnya. Kita akhirnya ber-6.

Entah mengapa, aku dari dulu masih saja kagum ke generasi muda-muda yang hobby menulis. Menurutku hobby itu bukan sembarang hobby. Iya cool aja kelihatannya. Tidak mudah untuk menulis apa lagi kalau kita tidak di barengi dengan kebisaan membaca. Dan itu tidak di temukan di generasi Y sekarang yang banyak menghabiskan sesuatu yang tidak bermanfaat ( Sebagian mungkin, tidak maksud menghakimi). Tetapi aku temukan nuansa lain dari di teman-teman baruku itu. Khairil, Tia, Majidah, Khaira, dan Razi. Harus ku akui bahwa kehadiran mereka di kancah pembloggeran di Aceh telah membawa warna tersendiri yang patut di perhitungkan. Aku yakin aja, bahwa mereka suatu saat nanti akan menjadi penulis hebat. Amin!!!

Pertemuan kami hari ini, 21 Maret 2012 bukanlah pertemuan pertama dan juga bukan pula yang terakhir, karena kami masih punya misi-misi mencerdaskan anak bangsa dalam kapasitas kami sebagai penulis muda yang siap selalu belajar dan terus belajar untuk menjadi “penulis tanpa batas”. Kami masih punya harapan untuk membantu anak-anak diluar sana yang masih kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan. Walaupun kami belum berkata siap untuk itu semua, tetapi kami semua yakin dengan tekad dan kemampuan kami, kami siap melakukan perubahan dalam hidup kami dan juga orang lain sesuai kapasitas kami sebagai “Penulis Muda”. Ingat! Kami masih muda, karena jiwa kami masih panas untuk melakukan apapun yang kami mau.

Teruslah berkarya sahabat.

Advertisements

9 thoughts on “The Bloofers of Aceh

  1. hahha maafkan aku juga bang, telatnya ngak tanggung sampe 1 jam…laen watee hana lee insyaallah..ayo smngat, peuna pakat ??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s