Ujian Master…

Jadi gini, aku sebenarnya terlahir dari keluarga sederhana yang menyuka kesederhanaan, sehingga apapun yang aku lakukan pasti selalu mempertimbangkan kesederhanaan 😀 ( jadi judulnya kesederhananaan neh?) Bukan, aku cuma mau cerita tentang yang ada hubungannya dengan kesederhanaan. Gitu loh maksudnya. Bukan deng, mau cerita tentang ujian akhir kemarin :D.

Jadi ketika itu di akhir Ocotober, tanggal 25 an sih. Sebenarnya ga akhir-akhir banget. Tapi kalau aku kalau ditanyain sama orang-orang, dari pada capek-capek ingat-ingat tanggal. Tanggal 20 keatas aku anggap menjadi akhir bulan D:. Iya, 25 October menjadi ujian lisan ( dan tulisan juga sebelumnya) atau bahasa medisnya ujian oral . Iya, ujian oral untuk sah menjadi dan menyandang gelar the MASTER. Kampus, Alhamdulillah, atau tepatnya departementku memberikan dua pilihan bagi setiap mahasiwa yaitu memilih mengerjakan THESIS atau cuma sekedar UJIAN akhir (tulisan dan oral). Karena aku adalah orang yang menganut system pemerintahan kesederhanaan, akhirnya aku memilih ujian akhirnya. Kenapa bisa dikatakan sederhana? Karena tidak repot-repot penelitian yang bisa bisa menghabiskan seluruh rambut indahku.

Tetapi kalau di pikir-pikir THESIS atau UJIAN sama saja lah. Kalau THESIS, mahasiswa pasti deh akan tenggelam dengan penelitiannya. Penelitian sana lah, sini lah. Macem-macem deh. Dan UJIAN, mahasiswa seperti harus meringkas ulang semua mata kuliah yang udah di ambil. Jadi, kalau setiap berakhir semester, jangan pernah coba-coba membuang semua catatan ke tong sampah. Haram. Kalau ujian akhirnya nanti mau contek kemana coba. Dan selain ringkasan semua mata kuliah, si mahasiswa di wajibkan memilih 3 dosen yang menurut mereka asyik, keren, mantap, kalau bisa yang cantik. Saranku yang cantik aja. Ntar kalau ga bisa jawab ujian lisan, dikedipkan saja sama dosennya yang cantik. Pasti deh :D.

3 dosen tersebut akan memberikan masing-masing ujian tulisan sebelum ujian oral yaitu persis 3 atau 4 hari sebelum ujian oralnya di laksanakan. Santai lah aku pikir awalnya, nah kemudian satu dosen memberikan pertanyaan 2 hari sebelum ujian. Kalau ujian tulisnya cuma opini tanpa perlu ada referensi, mungkin ujian tulisnya bisa selesai dalam 1 jam. Ini kalau ga pake referensi juga ga boleh. Jadi buru-buru lah keperpustakaan mencari buku-buku, dan journal-journal juga menjadi makanan aku saat itu selain nasi dan burger. Tapi alhamdulilah, semuanya santai lah, kalau sumber sudah ada dan di olah sedikit dengan permainan kata, semuanya ujian tulisan selesai persis 2 hari sebelum ujian.

Eng ing eng, ternyata ujian itu benar-benar berat bagiku. Selama di Amerika insomnia bukan hal baru bagi ku, tidur jam 3 jam 4 bahkan bisa sampe pagi. Seminggu sebelum ujian, otak ku benar-benar di peras abis oleh keadaan itu,dan  aku sama sekali tidak bisa tidur nyenyak. Bukannya belajar atau apa, tetapi aku disibukkan memikirkan dan membayangkan bagaimana ujian nantinya.

Baju kemeja, dasi, dan celana kain menjadi salah satu pilihan untuk aku kenakan pas ujian saat itu. Kalau seandaianya ujian bisa pake sandal jepit, baju oblong dan celana pendek, pasti asyik dan keren banget kali ya. Pagi-pagi itu dengan kekurangan tidur yang sangat parah aku harus mandi jam 7: 30 pagi. Mandi pagi kalau ga perlu-perlu amat pasti tidak akan aku lakukan. Tidak mandi saat itu juga tidak mungkin karena aku juga akan mengenakan pakaian yang sangat eklusif, kalau perlu aku mandi susu sekalian supaya sepadan dengan pakaian yang aku kenakan. Tidak percaya awalnya melihat diri sendiri begitu rapi dan keren memakai kemeja, dasi, dan di padukan dengan celana hitam. Awalnya aku berpikir, “ Apakah aku cukup sederhana dengan penampilanku saat itu?” Tapi aku tidak bisa bohong, aku tidak dalam kesederhanaan. Aku lagi “KEREN” sekali :D. Sesekali boleh lah keren, jangan sederhana mulu. Sesekali boleh lah puja diri sendiri. Ga mesti harus muja anak atau istri orang terus. Persis pejabat-pejabat gitu lah.

“Mudah-mudahan pakaian itu dan semangat ku pagi itu menjadi awal yang indah dalam menjawab semua soal-soal ujian,” pikirku.

Jam 8.30 aku sudah tiba di kampus, karena aku harus mempersiapkan segalanya menjadi beres sebelum ujian di mulai. Aku kembali melihat kiri kanan, mencari mungkin saja ada dosen yang mengujiku sudah datang. Ku lihat jam juga masih begitu belia untuk mereka datang disaat itu. Ku pilih tempat yang sangat pewe dan ku ambil contekan tulisan-tulisan yang aku anggap akan di tanya di ujian nanti. Karena biasanya si dosen akan menanyakan soal dari apa yang aku tuliskan. Jadi aku buat kopean, sempat-sempatnya aku menghafal.

“Kayak ujian Agama aja, ” Pikirku. Bukan apa. Aku  hanya ingin terlihat  “perfect” dihadapan dosen-dosen pengujiku.

Jam 8.45 ku melangkah ke ruang dosen advisorku, dan dia juga ketua penguji ketika aku ujian. Yang juga menyuruh ku datang lebih awal untuk me “setup” semuanya sebelum ujian.

Dug jantungku berdegub sekali, dan begitu kuat terasa, dan sambil tersenyum ku sapa advisorku.

Hi, How are you doing, dr Larke?

“I am good,” dia menjawab dengan sekali pandang ke arahku dan kembali mencari-cari sesuatu di atas mejanya.

Kembali dia melihatku, dan dia berkata ,” You look so wonderful.”

Wajar mungkin dia berkata begitu, karena selama ini kalau di kelas atau ketemu dia dikantor aku cuma pakai pakaian yang sangat sederhana ( Sudah aku bilang, aku orangnya emang sederhana. Kamu aja yang ga caya), bahkan sering juga aku cuma hanya baju oblong dan pakai sandal ke kelas :D. Bukan kurang ajar sih, yang hampir rata-rata mahasiswa seperti itu.

Dia akhirnya mengajakku ke ruangan ujian. Dug sekali lagi jantungku berdetak. Ku melangkah pasti keruangan ujian dan mempersiapkan power pointku sebelum aku presentasi. Dan tidak lama kemudian, dosen penguji kedua juga hadir. Dosen penguji kedua ini adalah dosen kesukaanku. Dosen Educational Psychology yang tidak macam-macam di kelas, memberi banyak ilmu juga sangat ramah kepada mahasiswa. Bayangkan karena sangking sukanya ke dosen tersebut aku mau bela-belain ambil 3 mata kuliah dari dia. Dan mungkin ini adalah bentuk lain dari sikap kesederhanaanku yang tidak mau ribet dengan tugas-tugas paper yang gimana-gimana gitu. Dan dosen yang kedua ini kurang sadisnya dari pada dosen yang lain dalam hal tugas. Sederhana deh menurut gua ( Kalau dia masih muda, mungkin sudah ku nikahkan dia) :D.

Dan waktu juga udah mau jam 9 yaitu waktunya aku seharusnya ujian. Dan pertanyaanku dosen yang ketiganya kemana? Ternyata oh ternyata,  dia tidak bisa datang dan dia berkomunikasi melalui telepon.

Dalam detik-detik yang sangat kritis sebelum ujian di mulai, aku sempat mengambil hp untuk merekam ujian oralku. Aku tekan “on” di bagian recordingnya dan cepat-cepat aku sembunyikan hpku kembali kekantong. Dan sedetik itu juga salah satu dosen menyuruhku keluar sebagai tanda ujian udah mau dimulai. Kenapa harus keluar? Ya memang seperti itu prosedurnya.

Ketua kembali memanggil aku, pertanda ujian benar-benar akan di mulai. Pembantaian yang berdarah-darah akan kembali terjadi ( Ga segitu-gitu amat sih). Iya, awalnya aku harus presentasi tentang rangkuman mata kuliah yang telah aku ambil. Panjang dan lebar aku jelas dengan “kecadelan” bahasa inggrisku. Ku maklumin bahasa inggrisku yang sangat kacau saat itu, selain takut, ujian, dan juga bahasa inggris bukan bahasaku. Alasan yang cukup masuk akal.

Berbuih-buih ku jawab semua pertanyaan dosen satu persatu. Sempat tesandung di sebuah pertanyaan dari ketua ujian alias advisorku. Wanita yang berdarah hitam alias super black educated woman itu menanyakan pertanyaan yang sangat berbelit-belit, sehingga aku harus banyak berhenti ketika itu ( bukan berbelit-belit sir sebenarnya, aku aja yang kurang mengerti apa yang dia omongkan. Alasanku saat itu karena dia masih punya aksen yang cukup kuat sebagai orang hitam.

Alhamdulillah semua pertanyaan terjawab sudah, dan aku untuk kedua kalinya harus keluar dengan alasan, para dosen berdiskusi lagi akan ujian aku tadinya. Ku berdiri di luar ruangan. Tidak lama ku meraih hp untuk mematikan recording yang aku rekam tadi. Busyettttt, terrnyata oh ternyata, “on” nya tidak tertekan habis tadi, jadi aku tidak merekam sama sekali. Arghhhh..

“Tidak apa lah,” pikirku. Yang penting aku sudah menyelesaikan ujianku yang terbaik, walaupun aku saat itu begitu yakin akan kelulusanku, tetapi untuk meyakinkanku, kelulusan itu harus benar-benar di ucapkan oleh para dosen yang mengujiku.

Tidak lama aku kembali di panggil, tidak sempat masuk penuh kedalam ruangan, dan aku di berikan ucapan selamat oleh dosen itu.

Dan disitulah, aku temukan kembali senyuman yang penuh yang benar-benar keluar tanpa ada rasa beban dan rasa takut lagi. Senyum itu yang mengantarku dengan sebuah awal mimpi yang selama ini aku bicarakan.

Advertisements

4 thoughts on “Ujian Master…

  1. hahahhahahahha,,,,lucu…lucu…sukkkkkkaaaa ama cerita ini,,,assiiikkk,ada gaya sok keren getoh,,,:p,,,,,emanglah,,,,,,,,,,

    upload dunx foto “u look so wonderful-nya”,,,,hihihihihiihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s