11: 37 malam di 10 Dzhulhijjah

Banyak cerita dari setiap waktu yang terlewati. Terkadang enggan untuk menulis, akan tetapi ketika menyadari bahwa waktu yang berlalu akan terhapus dan lekang begitu saja ketika tidak ada ukiran-ukiran tulisan yang mengikatkan. Ketika kita mau untuk menulis semua yang pernah kita lalui dalam setiap satu jengkal kehidupan ini maka dengan mudahnya kita akan menemukan sebuah buku “renungan” yang menjadi pelajaran untuk kita. Bagi saya itu adalah pelajaran yang paling baik dari segala pelajaran yang pernah ada. Disitu kita akan menemukan tahapan dimana kita belajar merangkak dengan satu harapan ketika kegagalan yang pernah kita lewati, atau juga bagaimana kita berperang melawan hati atau bathin yang tekadang sering merongrong diri sendiri akibat ketidak mampuan kita dalam mengontrolnya, atau bahkan hanya sekedar kisah bahagia bagaimana kita tersenyum ketika mendapatkan satu oleh oleh kesuksesan  dalam hidup kita. Itu semua berada di dalam kepingan dan untaian huruf-huruf yang kita tulis. Itu pelajaran sebenarnya.

Mungkin penulis tahu benar bagaimana pentingnya menulis itu untuk menyimpan semua kenangan yang tidak semuanya bisa di simpan di dalam pikiran dan hati kita, karena itu mereka dengan mudahnya menghabiskan waktu untuk menulis. Iya menulis apa saja yang dilewati, di alami, di rasakannya. Karena apa, karena dunia tidak akan pernah bisa kembali kemasa lalu kecuali sejarah yang pernah kita ukir di dalam tulisan kita untuk kita pelajari, kita teliti, atau bahkan bisa jadi kita perbaiki semua yang pernah rusak di masa lalu untuk menjadi indah di masa depan.

Karena itu, saya ingin mengisahkan suasana hati saya yang bisa di katakan sedikit kosong dan hilang ketika merayakan hari raya yang seharusnya menjadi hari kemenangan untuk semua umat muslim. Akan tetapi,  saya merasakan nilai dan esensi itu sudah mulai pudar untuk saya bisa pelajari. Mencoba untuk tidak terus bertahan dalam kondisi ini, karena saya sangat takut suatu saat nanti hari raya ini hanya sekedar mengenyangkan perut atau bukan sebagai ajang introspeksi akan tetapi sebagai ritual “kosong” tanpa makna.

Dan juga tidak mau menyalahkan keadaan yang ada, Tetapi dengan tulisan ini mudah-mudahan saya bisa lebih bisa belajar lagi bahwa semuanya menjadi tanggung jawab kita sendiri bagaimana melihat dan menilai sesuatu. Bukan keadaan atau orang lain yang menciptakan nilai untuk kehidupan kita akan tetapi benar-benar semuanya dari kita sendiri.

Mudah-mudahan ketika tulisan ini saja baca kembali suatu saat nanti, saya sudah bisa belajar untuk sebuah nilai dan makna akan arti kehidupan walaupun itu satu nilai atau makna untuk puluhan tahun.

Amin

10 Dzulhijjah, 11:37 Malam…Atau bertepatan 6 November 2011…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s