Selamat jalan pria tua…

Langkahnya tidak kuat lagi, tubuhnya dikit demi sedikit mulai melemah, semakin aus dimakan waktu. Usianya menjulang tinggi mencapai 60 tahun. Tidak ada yang bisa di banggakan ketika usianya sudah sangat tua, kecuali bertahan untuk terus bisa hidup. Hidup sederhana bahkan sangat sederhana sebagai penarik becak menjadikan pria tua ini tidak pernah mengharapkan kesuksesan atau bermuluk-muluk akan mimpi yang tinggi seperti yang di inginkan banyak orang dengan banyak uang dan harta.

Pagi ini dia membuka mata dengan satu ucapan “ Alhamdulillah”. Ungkapan yang hanya orang-orang suci yang bisa menghargai akan sebuah kehidupan yang selalu untuk disyukuri walaupun dunia terkadang sering tidak berpihak kepada mereka. Tidak ada satu lintasan pikiran aneh untuk menghakimi atau memarahi dengan kehidupan yang dia punya. Di terima mentah-mentah dengan kehidupan yang ada. Karena dia tahu bahwa dunianya tergenggam erat di atas ikatan Tuhan Sang Maha pemilik dunia. Bukan pasrah, akan tetapi lebih kepada kepatuhan.

Siapa yang mau berkehidupan selamanya untuk menarik becak. Siapa yang tidak mau uang banyak? Siapa yang tidak mau hidup mewah dengan pekerjaan yang mantap? Tetapi, pria tua itu tidak pernah minta keadilan kepada tuhan dengan kehidupan yang dia punyai. Dia tidak butuh dunia atau kehidupan yang penuh dengan warna dan senyuman kalau memudahkan dia lupa kepada sang Tuhan. Karena dia begitu tahu bahwa manusia menjalani dunia dalam keadaan sangat rapuh, bak ibarat perahu terombang-ambing di atas air yang hanya menurut saja kepada arus membawa.

Setelah shalat subuh dia menyempatkan berdzikir dan membaca satu halaman al-quran walaupun matanya sudah mulai rabun akan usia. Bacaan yang tidak sempurna tetapi ikhlas. Begitu adanya setiap pagi si pria tua itu. Melihatnya anak-anaknya pergi menjemput ilmu disetiap pagi menguatkannya untuk bekerja dengan giat dan ikhlas. Berangkat anaknya kesekolah berangkat pula dia bekerja.

Satu dayung becak yang dia didayuh dianggap sebagai satu limpahan pahal dan rejeki untuknya. Ternyata dia begitu mengetahui konsep-konsep kehidupan yaitu semuanya membutuhkan keikhlasan dan kesabaran untuk dijalani. Tidak banyak uang yang bisa di bawakan untuk anak istrinya setiap harinya, tetapi  itu cukup untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Menyimpan uang setiap bulan tidak akan pernah terlintas di pikirannya, karena selain uangnya juga cukup untuk kebutuhan sehari-hari, banyak uang membuat dia merasa sedikit serakah dengan menumpuk-numpuk harta yang entah kapan di gunakannnya.

Matahari masih saja begitu kejam memanasi makhluk-makhluk bumi walau jam sudah menunjukan jam 5 sore. Peluhnya bercucuran membasahi baju dan tubuh yang sudah mulai keriput, peluh itu diabaikannya karena dengan perlahannya dia mendayung sepeda untuk meraih rumah yang dia yakini istri dan anak-anaknya sudah menunggu akan kehadirannya di setiap sore. Bukan uang yang di harapkan oleh istrinya, akan tetapi keberkahan dan keikhlasan suaminya mencari kerja untuk keluarga cukup membuat istrinya bahagia menyamput kepulangan suaminya tercinta.

Pagi tadi setelah shalat subuh dia sempat berdzikir dengan masih terlibat tasbih di tangannya. Ternyata itu adalah pagi terakhirnya di dunia.

Selamat jalan pria tua…

Advertisements

4 thoughts on “Selamat jalan pria tua…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s