Fall semester

Jadi begini ceritanya. Kelas Fall, 2011 baru saja di mulai. Dan biasanya di setiap awal semester atau persisnya di minggu pertama kuliah pihak kampus memberikan satu minggu untuk add atau drop kelas, dan itu artinya mahasiswa bisa masuk ke kelas dan melihat mata kuliah yang di pilihnya apakah dia suka atau tidak, kalau dia suka dia bisa melanjutkan dan kalau dia tidak menyukai dia bisa drop off the class dan memilih di kelas yang lain.

Entah mengapa department saya menawarkan mata kuliah yang ” basi “. Maksudnya saya tidak begitu tertarik dengan mata kuliah yang di tawarkan. Enaknya kuliah di Amerika adalaha mahasiswa bisa mengambil mata kuliah kesukaan mereka walaupun itu di luar departemen, tetapi awalnya mereka harus menghabiskan core courses terlebih dahulu sebelum mengambil mata kuliah electives di departemen lain.

Setahun saya belajar di Amerika akhirnya saya baru menyadari arah kemana minat atau preferences saya yaitu psychology atau khususnya ke educational psychology. Oleh karena itu setiap semesternya saya sering memilih mata kuliah di psychology department yang bukan department saya. Spring 2011, saya mencoba memilih salah satu kelas di psychology departemen yaitu “ Theory of Social Psychology”. Hari pertama si dosen hanya  meluangkan waktu untuk perkenalan diri dan dilanjutkan dengan pembahasan silabus. Pembahasan silabus harus benar-benar di simak karena disitu semua tercantum peraturan tentang kelas, materi, dan begitu juga dengan nilai. Saya merasa nyaman dan tidak terintimidasi sama sekali di hari itu. Dan  si dosen pula tidak mengharuskan mahasiswnya membeli buku text tetapi dia merangkumkan jurnal-jurnal yang telah dia pilih di jadikan satu buku atau diktat lebih tepatnya. Saya pikir hanya 300 halaman paling banter tuh rangkuman jurnal. Ternyata oh ternyata hampir 500 lembar. Persis satu rem kertas kwarto.

Minggu kedua saya mulai sakit karena akumulasi capek, rasa rindu, dan stress yang berat (Baru juga mulai semesteran tetapi bawaan udah capek saja). Ini yang paling saya benci, kalau kelas ada presentasi dan membaca jurnal apalagi ada sebagian dosen yang menyuruh mengkritik jurnal. Dan kelas itu ternyata penuh dengan apa yang saya bencikan itu. Si dosen mengharuskan mahasiswa untuk presentasi dua kali, dan harus mengkritik 2 jurnal setiap minggunya. Ini yang paling berat buat saya saat itu. Mengritik jurnal? Apanya yang harus di kritik, saya membatin saat itu. Pertemuan kedua di kelas social psikology di batalkan pas berhubung salju turun saat itu, jadi ada 2 minggu lebih untuk mencoba  untuk mengkritik jurnal-jurnal.

Ternyata minggu kedua sampai minggu ke empat di semester spring 2011 itu saya berhasil berada di apartemen dengan tidak kemana-mana alias tidur alias sakit berat. Sakitnya sih biasa tetapi biasalah di tambah dengan sedikit gangguan psikis yang menambah sakitnya lebih lama lagi. Menulis atau mengkritik jurnal dalam keadaan sakit itu sama artinya di suruh berenang tetapi orangnya tidak bisa berenang. Wal hasil, saya mendropkan kelas itu di minggu ketiga semester spring.

Dan pemilihan kelas di psychology department kembali terjadi di Fall 2011 semester ini, walaupun departemen saya lebih ke culture dan curriculum. Saya tetap ngotot untuk memilih kelas di sana, dan juga pembebasan dari academic advisor memberikan keleluasaan bagi mahasiswa di bawah bimbingannya untuk memilih mata kuliah yang mereka sukai. Akhirnya, saya memilih kelas “ Learning” di department psychology lagi. Biasanya sebelum kelas di mulai, saya mencoba mencari-cari seperti apa kelas yang di ajarkan nantinya dengan melihat buku textnya ataupun mencari bahan-bahan seadanya di google. Hari pertama kelas saya bolos karena berhubung dengan Hari Raya Idul Fitri 1432 Hijriah, dan berkesempatan untuk masuk di hari kedua. Di dalam bayangan kepala saya, dosen akan mengajarkan banyak hal yang saya harapkan tentang learning theory and behavior. Intinya si dosen akan memikat saya dengan pembahasannya.

Ternyata oh ternyata selama dia menjelaskan materi saya sibuk berpikir untuk mendrop kelasnya dan mengantikan dengan kelas lainnya. Dan itu artinya saya sama sekali tidak mengerti apa yang dia ajarkan. Kelas berasa kaku, saya juga tidak begitu yakin, apakah mahasiswa lain itu mengerti atau tidak. Yang pasti, keluar dari kelas Learning saya langsung mencari-mencari kelas lain sebagai pengganti kelas Learning tersebut. Seperti yang saya katakan, saya suka yang berbau educational psychology. Tersangkut mata saya di sebuah kelas di department school psychology yaitu “ Child Psychopathology “ yaitu membahas tentang kelainan psikis tehadap anak-anak , seperti autis, atau ADHD yaitu yang tidak bisa berkosentrasi di dalam kelas, dan sebagainya. Setelah pertarungan pemilihan mata kuliah akhirnya saya memilih kelas tersebut.

30 menit sebelum kelas Child Psychopathology di mulai saya sudah mulai nonggol di depan pintu kelas. Melihat jam masih begitu dini karena itu tidak seorangpun mahasiswa yang ada di situ dan kelasnya juga masih tertutup, saya turun ke lobby untuk santai sejenak sebelum masuk kelas.

Dan tidak lama kemudian saya kembali naik keatas karena ruang kuliahnya berada di lantai 7.

“This is a child psychopathology class,” aku menanyakan ke 3 perempuan lagi asyik ngobrol di depan kelas.

“Yes,”  tegas dan mantap salah seorang dari mereka menjawab.

Tidak lama pintu kelas di buka, saya  langung memilih tempat duduk yang PEWE karena kelasnya juga akan berlangsung selama 2 jam 30 menit. Karena itu adalah hari pertama saya masuk di kelas tersebut walaupun kelasnya sudah berjalan di minggu kedua. Satu persatu mahasiswa mulai berdatangan. Dan akhirnya sang dosen masuk melihat sekeliling dan sedikit bingung ketika baru melihat saya.

“Who are you”, pertanyaan sangat tegas sekali, sepertinya dia tidak mengharapkan saya di kelasnya. Berasa seperi di dalam lingkungan yang baru siap-siap di pelonco.

“ I am a new student here,” saya menjawab dengan penuh percaya diri.

“ Are you in school psychology program?,” di bertanya lagi.

“ No, I am not”, saya membalas cepat.

“ You can not be here because this class for school psychology students.” dia berkata lagi.

Whatttttttttttttttt. Seperti kena serangan jantung mendengar si dosen ngomong, dan dia menyuruh saya keluar kelas dan mengcancel kelas dia.

Tidak butuh lama saya langsung keluar dari kelasnya dan berpikir bagaimana jalan keluar yang terbaik.

Sebenarnya, tidak masalah kalau tidak berada di kelas dia, tetapi urusannya akan sangat ribet karena harus menghubungi academic advisor untuk mengcancel kelas dan harus mencari kelas yang mau menerima saya karena saya juga udah ketinggalan dua minggu.

Alhamdulillah setiap dalam satu masalah Allah memberikan banyak jalan keluar. Langsung saya mengemail academic advisor dan dosen untuk mendaftar kelas yang saya ingin gantikan. Email adalah jalan komunikasi yang paling cepat dari pada harus bertemu langsung ke orang-orang kita butuhkan. Biasanya email paling telat akan di balas dalam satu hari. Alhamdulillah yahhh (Syahrini style). Ketika sudah mengemail kedua orang tersebut sedikit lega. Malam kembali saya cek email, kata academic advisor, dia akan memproses register di kelas yang baru kalau ada persetujuan dari dosen yang kelasnya ingin di ambil. Alhamdulillah si dosen juga bisa terima dan besok harinya urusan selesai.

Advertisements

4 thoughts on “Fall semester

  1. alhamdulillah yah,sesuatu banget gitu yaah,,,”kumat syahrini”,,,,:D,,,,jangan sampe yg berikutnya cancel lg,,,ga kuliah2 dunx:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s