Mengapa aku terlahir

Seri cerita menuju tuhan!

Siapa yang mau terlahir kalau harus menangung beban seberat ini? Aku tahu dunia memang tempat cobaan, tetapi mengapa tuhan tidak memberikan sedikit saja ruang bagiku untuk mencicipi indahnya dunia ini. Aku seperti tertakdirkan merana dan meronta sepanjang hidup. Kalau aku bisa memilih, aku ingin dicoba dengan kekayaan dari pada dengan kemiskinan seperti ini. Sesak dadaku dan habis akalku menghadapi kehidupan ini yang sepertinya bak mustahil untuk berubah.

Wanita perkasa, itu julukan orang-orang kepadaku. Pergi pagi dan pulang malam, bekerja di sebuah kebun teh di Bandung membuatku semakin lelah menjalani hidup ini. Walaupun air mata masih tersisa akibat tangisan nasib yang terus menderu-deru pikiranku, tetapi aku terus berjalan tertatih-tertatih memungut setiap kepingan kebahagian kehidupan. Tidak mudah menjalani ini semua, tetapi dunia memang seperti ini maunya. Kehilangan suami akibat sakit kanker 4 tahun yang lalu telah menghisap kebahagian hidupku, aku bak mayat hidup yang mau dan tidak untuk hidup. Yang paling aku sedihkan, berimbas ke 2 anakku yang harus rela kehilangan pendidikan karena aku tidak sanggup membiayakan pendidikan mereka. Jangankan untuk pendidikan mereka, untuk sehari-hari saja aku harus banting tulang begitu keras dan itu juga hanya berapa puluh rupiah aku dapatkan setiap minggunya yang cukup membeli beras untuk 3 hari makan saja.

Aku tahu dengan kemampuanku makanya satu-satunya pekerjaan yang menerima ijazah SDku hanya di sebagai buruh pemetik teh. Pekerjaan ini sudah 14 tahun aku geluti, tidak ada yang kusesali dengan kehidupan ini, aku pikir tuhan telah mengirimkan pekerjaan ini untukku, walaupun upahnya tidak sebanyak seperti pekerjaan 2 yang lain. Aku terima dan bersyukur saja. Tetapi itu dulu sebelum suamiku meninggal. Karena kedua kami bekerja dan menghasilkan uang tiap harinya walaupun tidak banyak, cukuplah untuk biaya kehidupan kami, dan saat itu juga anak kami masih bisa mendapatkan pendidikan. Tetapi sekarang ketika aku harus bekerja sendiri memenuhi kebutuhan keluarga dengan pekerjaan ini seperti nya tidak cukup. Hutang dimana-dimana dan terkadang hanya sesuap nasi yang mengganjal perut kami.

Doa dan usaha juga telah ku tancapkan kepada tuhan bertahun-tahun. Entahlah, nada pasrah aku serukan kepada tuhan pemilik dunia. Aku tidak sanggup lagi memikirkan keadaan yang tidak kunjung berubah. Siapa yang mau memilih dengan kehidupan miskin seperti ini?Kemana tuhan ketika aku membutuhkan Nya. Sempat aku terputus asa dengan semua ini, ingin rasanya mengakhiri semuanya, tetapi selalu ada sedikit harapan di sisa-sisa keputus asaanku. Air mata adalah teman sejatiku ketika harus meratapi semua kehidupanku, apa lagi kalau  sedang merindukan suamiku, dan melihat anak-anak ku yang harus menjadi korban akibat ketidakmampuanku mencukupi kebutuhan mereka.

Sekarang yang tertinggal hanya secuil iman yang tetap mengingatkan aku akan sebuah misteri kehidupan. Sesekali aku juga putus asa, tetapi mudah-mudahan keputus asaanku tidak menjermuskan aku akan kekafiranku kepada tuhan. Ku tahu ini cobaan berat. Kata orang di balik beratnya cobaan itu selalu di kelilingi dengan senyuman di akhirnya. Kapan senyuman itu? Entahlah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s