“Civilization” yang terabaikan

Semenjak di keluarkan ke bumi, Al-Quran  menjadi sumber kekuatan, informasi, pedoman bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Mungkin bisa saya simpulkan bahwa Al-Quran adalah sebuah “civilization”, yaitu sebuah peradaban tersembunyi yang semua nya ada di dalamnya. Kenapa saya katakan peradaban, karena di dalam Alquran semuanya jelas membahas tentang dunia beserta isi nya dan alam semesta, kalau kita sempitkan lagi membahas tentang norma-norma kehidupan, ilmu pengetahuan, budaya, sosial, dan hukum,  Singkatnya, Al-quran menjadi satu satu nya kitab “all in one”.

Bagi muslim, kita akan sangat menyakini bahwa perkembangan ilmu pengetahun akan selalu linear dengan pengetahuan Al-quran. Jelasnya, bahwa sebelum penemuan-penemuan di dunia menyatakan hak paten mereka ternyata Al-quran sudah jauh-jauh hari menyembutkan nya. Tetapi, jangankan orang non-muslim, terkadang muslim sendiri kurang begitu mengerti akan sebuah kehebatan Al-quran itu sendiri. Mungkin saja yang kita dapati selama ini adalah Al-quran hanya berisikan informasi -informasi yang sulit untuk di mengerti, bahasanya yang tinggi. Karena kekurangan tafsiran yang jelas dan juga karena ketidakinginnya kita memahami makna dari informasi yang berada di dalamnya Sehingga, apa yang di katakan Allah sangat jelas dan tegas, kalau Al-quran tidak lagi menjadi bahan bacaan manusia, makanya  bacaan-bacaan yang di baca manusia sekarang akan membawa kepada kehancuran mereka sendiri.

Sebagai seorang yang terlahir Muslim, tidak bisa di pungkiri Al-quran menjadi bacaan wajib setelah shalat fardhu, di waktu ramadhan, atau bacaan di acara-acara tertentu. Menjadikan kebiasaan itu akhirnya tidak membawa suatu pemahaman yang dalam dari apa yang telah di baca. Makna dan informasi yang di dalamnya lewat begitu saja, hilang begitu saja. Sia-sia mungkin kalau kita bilang kasarnya. Karena terkadang kita dengan sungguh-sungguh membaca tetapi tidak sedikit pun makna dari Al-quran itu menyentuh kalbu dan pikiran kita.

Cycle budaya yang salah kembali terulang. Dan kesalahan ini akan terus terjadi ke anak cucu kita kalau kita tidak mau melihat dan memperbaiki ini. Budaya yang kita anggap benar ternyata tidak benar akan sangat sulit di ubah. Atau Pembenaran Kolektif. Misalnya yang saya katakan tadi, membaca al-quran setiap hari nya, tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Apa kita sudah terlalu serius dengan urusan dunia sehingga lupa untuk memahami satu makna dan informasi dari Allah?

Sehingga jangan salah ketika pada akhirnya kita seperti membaca kertas kosong yang tidak membawa efek apapun dalam kehidupan kita, tidak bisa memberikan pengaruh atau perubahan dalam kehidupan kita. Sayang  mungkin ya,  ketika kita punya sebuah buku, yang di dalamnya banyak informasi tentang kehidupan, tetapi hanya kita letakkan saja di diatas lemari. Sayang sekali bahkan, ketika kita mengakui bahwa kita Muslim, ternyata kita lebih mau belajar kitab lain dari pada kitab sendiri.

Mungkin saat ini yang Allah telah janjikan dimana Al-quran hanya sebagai pajangan atau kenangan saja.

Renungan di Jumat Malam,

24 June 2011,

di kegelapan sudut kamar bercahyakan seberkas sinar lampu belajar…

Advertisements

2 thoughts on ““Civilization” yang terabaikan

  1. saya benar2 terasa malu.. terlahir dr keluarga muslim tp masih saja miskin ilmu agama. sering lupa dan khilaf.. yah.. mnusia.. hatinya terlalu sring dibolak-balik.
    hm..makasih unt kmbali mengingatkan.. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s