Do you wanna dance?

“Do you wanna dance,” Tercengung  sambil memalingkan muka setengah ke belakang, dan tidak lama aku melihat seorang bule setengah mabuk menyentuh bahuku dan mengajakku menari ke lantai dansa. Dalam sepersekian detik itu juga hati ku bertanya, Whatttt? Dance? No way, hatiku memberikan penekanan. Aku langsung menawarkan itu ke arah temanku. Tidak butuh lama, teman ku, asli Meksiko, yang sedang memegang minum beralkohol langsung meletakkan minum nya di atas meja dan menari bersama wanita setengah sadar itu. Kulihat mereka larut dalam hiptonis dunia.

Musiknya tidak hanya merusak pendengaran ku, tetapi tubuhku juga terasa bergetar kencang karena dentuman yang sangat besar. Remang-remang memenuhi ruangan itu, lampu dansa menari-nari seperti menjilat mengikuti irama manusia, orang berlalu lalang disekitar ruangan club itu, ada yang menari bersama pacar di tengah ruangan, ada yang bercumbu bersama pasangan, ada yang cuma sekedar minum, ada yang main biliyar dilantai 2. Bartender yang berbaju seksi terus bekerja memenuhi permintaan pelanggan. DJ terus memainkan music nya seolah-olah malam akan tidak pernah pagi, seakan-akan dunia tidak akan pernah berakhir.  Para lelaki malam itu adalah malam melatih kepercayaan diri dan keberuntungan, memandang kesana kemari mengaet wanita yang kesepian, kalau dia berhasil dan beruntung, maka hubungan mereka bisa lebih lanjut ( Anda mungkin mengerti apa yang saya maksud kan).

 Malam itu, untuk pertama kali nya aku melihat bagaiman kehidupan clubbing di Amerika, walaupun sebelumnya aku juga pernah ke bar ( just curiosity only), akan tetapi  malam itu aku benar-benar merasakan kehidupan rilnya para penikmat dunia. Yaitu dunia yang penuh dengan nafsu dan kesenangan semata. Iseng aku bertanya kepada teman ku, kapan budaya clubbing ini muncul di kehidupan western. Katanya sekilas begini, semenjak di berikan kebeban wine atau beer dikonsumsi oleh umum yaitu sekitar tahun 1920-an. Dan seteleh itu bermunculan obat-obat, ganja, mariyuana, dan sejenisnya ikut turut serta meramaikan kehidupan clubbing, dan tidak lupa terakhir yaitu cewek seksi pastinya.  Nauzubillah!!!

Beer, Wine, Liquor,  baju seksi, sepatu hak tinggi, ciuman, mabuk, berdansa seperti orang gila, memamerkan tubuh, itu adalah bagian dari kehidupan malam, kalau Anda mau berkehidupan malam setidak nya list yang saya katakan pernah Anda coba, mungkin. Masuk ke beberapa club bersama teman meksiko ku, aku mengerti bagaimana dan apa itu kehidupan malam itu. Teman ku banyak cerita mengenai clubbing, pub, night club,  dan juga di menceritakan banyak istilah tentang “mabuk”, dan dia menceritakan bagaimana menggaet cewek di club, dan banyak lagi yang dia ceritakan, karena  bisa aku lihat antusiasnya bagaimana dia menceritakan itu.Tapi,  ALhamdulillah dia juga tidak begitu agresive, sehingga perjalanan menjelajah club malam itu hanya sekedar melihat-melihat, atau boleh dikatakan sebagai ilmu bagiku yang begitu awam akan itu.

Weekend adalah waktu nya beraksi bersama teman ke bar kesukaan. “Northgate” yaitu nama sebuah tempat di dekat kampus, yang sepertinya di design untuk kehidupan malam para mahasiswa kampus Texas A&M, tetapi ya itu tadi, cuma malam-malam weekend saja mahasiswa memenuhi tempat itu. Tidak begitu ” wild” atau pun “aggressive”  untuk level bar dan night club kalau dibandingkan dengan kota-kota besar yang punya striptease atau tari telanjang dan gambling. Tetapi untuk diriku, apapung ceritanya itu masih diluar batas kemampuan ku. Hidup di sebelah ujung dunia indonesia, yang semuanya serba agamais, dengan melihat seperti ini pikiran ku bertanya ribuan pertanyaan, “Inikah dunia?  ini kah orang-orang yang di maksud oleh Allah yang sudah tertutup pintu hati nya? Nauzubillah !!!

Kebebasan terjadi ketika budaya dan kebiasaan kita tolerirkan. Bukan tidak mungkin kalau aku sering ke club malam itu aku juga akan memandang itu hal-hal biasa yang akhirnya aku terjurumus kedalam itu juga. Ku kira cukup untuk sebuah pengalaman. Pengalaman yang meninggalkan tanda tanya besar kepadaku. Apakah manusia terlahirnya hanya untuk nafsu?  Entahlah, pertanyaan yang masih belum aku bisa temukan jawabannya.

Tetapi perjalanan semalam, memberikan aku akan sebuah makna syukur akan hidup ku ini. Syukur akan nikmat iman dan Islam, dan syukur akan sebuah kehidupan yang tidak sia-sia.

Terima kasih Allah atas perjalanan semalam, mungkin saja Engkau tidak begitu suka dengan perjalanan itu, tetapi bagi hamba itu membuka ruang akan  arti sebuah hidup yang tidak hanya sekedar untuk nafsu akan tetapi lebih dari pada itu.

17 June, 2011

11 pm til 2.30 am

“Untuk sebuah perjalanan yang tidak di sukai Allah”

Advertisements

5 thoughts on “Do you wanna dance?

  1. Dude, I’ve been there. In the end, those clubbing, partying, pub-ing are useless yet worthless. I salute you not for hanging out in the club but to grasp the core of its uselessness. Get your degree, come home and do something BIG to your nation dude, these are the most important part in your journey now.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s