Eschatology… Ilmu kematian

“ Udara mencekam begitu dingin diluar sana, hembusan kabut putih cukup sudah menyelimuti  manusia-manusia yang masih saja merindukan mimpi, hentakan hati ku kuat ketika kusadari bahwa kabut itu merambah gelap, dan itu petanda berita duka sedang mendekati dan merambat ke muka bumi”

Bukan kali ini saja aku mendengarkan berita kematian, setidaknya sebulan sekali berita kematian menghembus telinga ku, kalau tidak keluarga teman terdekat, atau pun orang-orang di berbagai tempat menghadapi ajal kematiannya. Sebenarnya, setiap detiknya kita sedang melawan akhir-akhir dari kehidupan kita, sudah jelas-jelas menutup semua keinginan.

Baru saja mendengar berita kematian ibu seorang teman, terkejut dan tiba-tiba itu yang selalu mewarnai serba serbi makna kematian. Ini mungkin rahasia tuhan menjadikan kematian itu tiba-tiba agar di harapkan manusia selalu siap menghadapinya, dan sehebat apapun manusia itu di muka bumi, kematian menjelang akan menjadi sangat tidak berdaya.

Kematian bukan barang baru dalam kehidupan kita, semenjak kecil juga kita sudah di ajarkan oleh orang tua kita bahwa kematian menjadi titik akhir dari semua kesempatan dan angan-angan yang telah kita buat sendiri di dunia, dan saatnya kesempatan-kesempatan itu berubah menjadi penilaian dan evaluasi dari tuhan. Jelas sudah bahwa kematian menjadi akhir dari semua ambisi-ambisi dunia, lenyapnya keserakahan. Yang dulunya gila akan harta, tahta, dan wanita, sekarang menjadi gila mendapatkan tuhan meminta pertanggung jawaban atas yang kita lakukan.

Sering kali apa yang terjadi adalah kita memahami kematian hanya sebuah rutinitas yang kita harus lakukan sebagai makhluk social. Kita menjenguk keluarga yang di tinggalkan dan mendoakannya, sudah begitu saja, dan kita kembali rutinitas kita masing-masing. Tidak ada perenungan lebih dari itu semua.

Kematian datang, kita hanya menjadi kenangan, poto-poto kita hanya menjadi bahan tatapan dari keluarga atau teman kita. Nama kita menjadi bahan pembicaran dari orang-orang sekitar kita. Alhamdulillah, kalau selama hidup kita berbuat kebaikan untuk orang lain, tetapi sebaliknya, kalau hidup kita merusak lingkungan dan orang lain. Orang-orang akan mencibir kita dalam-dalam. Kita hanya menjadi sebuah pajangan poto yang sama seskali tidak berguna untuk orang lain. Menjadi ingatan bagi teman-teman itu saja, tidak lebih.

Mungkin ini menjadi bahan perenungan kita lagi bahwa, kematian memusnahkan semua yang telah kita rencana kan matang-matang, tak tertinggal dan tak berbekas kecuali satu hal. Ada satu satu hal yang membuat kematian kita menjadi awal dari kebahagian kita selamanya yaitu berbuat baik lah kepada orang selama hidup.

Ini mungkin yang disebut olah seorang teman saya, leaving a legacy, meninggalkan warisan, warisan yang kita tinggalkan menjadi teman kita nanti disaat semuanya tidak ada penolong kecuali amal-amal kita. Tidak perlu banyak meninggalkan warisan, cukup berbuat baik ke orang sekali saja. Itu sudah cukup

Advertisements

2 thoughts on “Eschatology… Ilmu kematian

  1. Ah jadi terharu saya. Saya tak kuat membaca ayat per ayatnya. Jadi ingat status fb, semoga kehadiranku melegenda penuh kearifan dan keagungan. Amin 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s