Hujan…

Ku tatap kuat-kuat ketika hujan membasahi tanah yang kupijak ini, kupandangi jelas-jelas akankah hujan ini sanggup menyapa dan bersama ku hari ini. Kalau boleh jujur, aku sudah sangat merindukannya, rinduku sudah mati untuknya. Ingin saja ku habiskan satu hari ku bersetubuh bersamanya. Rindu ku beralasan, teman. Karena  dialah  satu-satunya yang bisa membuat aku menangis, tersungkur malu  akan kesombongan ku dan keserakahanku. Aku ingin bersama dan menyatu bersamanya di sepanjang hari ini untuk menilik dimana letak kesalahan hidupku, dimana letak ketidak kebahagianku, dimana letak ketidak-ikhlasanku.

Aku tidak tahu, disaat hujan tiba, rindu ku ini terus mengikat kuat tidak  lepas menyebabkan pikiran-pikiran ini beku tak beranjak. Tubuh ku terpesona  untuk menyalaminya. Kesejukanya memaksa aku untuk mengikatkan semua masa-masa silam ku bersama keluarga dan teman-temanku. Wahai hujan kalau kau mau, sampaikan lah salam ku untuk keluarga ku disana, katakan kepada mereka aku sangat  merindukan saat-saat indah bersama mereka. Seperti mereka merindukan ku disaat aku jauh.

Wahai hujan, kemarilah mendekap bersama ku, aku hanya ingin berdua bersama mu kali ini saja, melepas rindu, berbincang, membual dan ketawa. Aku begitu muak untuk berbicara dengan orang-orang itu, mereka terlalu egois, memaksa, sombong dan sok tahu. Yang aku dapat kan dari mereka hanya kesombongan, mereka mengajarkan ku bagaimana angguh dan bagaimana menjadi raja. Tetapi, kamu mengajari ku keikhlasan dan kerendahan. Bersama mu ku artikan selalu bersama kedamaian, kesejukan dan harapan disaat orang-orang itu sibuk memikirkan dunia yang sudah jelas-jelas mereka akhir.

Wahai hujan, sudah lama aku ingin curhat bersama engkau di malam yang dingin ini. Aku sebenarnya  bosan dan sangat lelah akan hidup ini. Hidup ku kembali beku, dan hampa. Atau karena aku diselimuti oleh manusia-manusia pengkhianat, manusia-manusia berpendidikan yang mengakui terdidik kelihatan tidak berpendidikan, huffff. Hmmmm, entahlah.

Hujan, aku benci akan manusia yang selalu merasakan bahwa dialah yang hebat yang menganggap rendah manusia lain, aku ternyata benci manusia yang selalu membicarakan harta, tahta dan wanita. Apakah ada hukum linear alam yang menyatakan semakin tinggi seorang manusia maka semakin sombongkah dia. Apakah tuhan mengajar kan itu?

Wahai hujan, biarkan malam ini aku tumpahkan semua isi hati ku, hati ku sudah busuk menyimpan prasangka-prasangka busuk dari orang-orang itu. Aku ingin kembali bersih, aku hanya ingin mengingat, aku hanya ingin menyadarkan diriku bahwa aku hanya manusia yang tercipta dari seonggok materi, tidak bernilai sama sekali di hadapan Penguasa alam ini.

Seonggok daging menjadi sombong, apakah pantas?

(Kembali mengingat diri sendiri, bahwa sombong hanya milik Allah)



Advertisements

3 thoughts on “Hujan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s